Opini & Cerita
·
12 November 2019 14:11

Kompromi dengan Imajinasi yang Terkoyak

Konten ini diproduksi oleh Bukan Remahan Rengginang
Kompromi dengan Imajinasi yang Terkoyak (181982)
M. Husnul Hamdi Surya Putera. Foto: Dok: Bukan Remahan Rengginang.
Tumpukan dua buku tebal 130-an halaman dan data lain di komputer yang berisi pedoman penyusunan tata naskah dinas sudah tiga hari tidak tersentuh. Setiap melihatnya, muncul rasa bingung yang membuat pusing tujuh keliling. Terbayang ruwetnya pedoman yang harus saya baca dengan teliti itu. Lalu, apa selanjutnya?
ADVERTISEMENT

Terus terang ini adalah tugas pertama yang harus saya lakukan sejak bekerja di Kantor Staf Presiden (KSP) sebagai Analis Organisasi dan Tatalaksana, pada 2015.

Tata Naskah Dinas ini sangat penting pada sebuah kantor, apalagi kantor baru seperti KSP yang baru seumur jagung itu. Fungsinya adalah untuk tertib administrasi dalam penyusunan naskah kedinasan dan pengurusan surat di lingkungan KSP. Sebagai kantor yang selalu harus berhubungan dengan berbagai lembaga pemerintahan yang juga tertib administrasi, maka kehadiran Tata Naskah Dinas ini sesuatu yang tak bisa ditawar lagi untuk segera diwujudkan
Tata naskah dinas hanya salah satu dari berbagai tugas yang harus dilakukan. Tugas lainnya, yaitu membuat peraturan dan kebijakan di bidang ketatalaksanaan, menyusun standar operasional prosedur yang relevan, menyusun analis beban kinerja dan analisis jabatan, menyusun laporan kinerja, menyusun rencana aksi, sampai melakukan evaluasi organisasi.
Kompromi dengan Imajinasi yang Terkoyak (181983)
Sekretariat Kantor Staf Presiden. Foto: Dok: Bukan Remahan Rengginang.
Tak hanya itu, saya pun kini bertugas sebagai staf pengelolaan keuangan. Pengurusan hak keuangan, dokumen perjalanan dinas yang harus dipertanggungjawabkan, pengurusan uang lembur dan uang makan, dan tugas lainnya yang terkait dengan perbendaharaan, juga menjadi tanggung jawab saya.
ADVERTISEMENT
Di bagian perbendaharaan ini ‘drama’ kadang muncul. Bahkan ada istilah yang jadi ‘legenda’ di KSP, yaitu ‘Hilal hak keuangan belum kelihatan”. Maklum, sebelumnya, hak keuangan sering tidak keluar pada tanggal yang diharapkan. Namun dua tahun terakhir ini, walau tidak terikat aturan, semua pejabat dan pegawai di lingkungan KSP dapat menerima hak keuangan tepat pada tanggal satu setiap bulan. Tujuannya, antara lain, agar para pejabat dan pegawai KSP pun dapat fokus pada pekerjaan. Tidak lagi terganggu dengan bayangan kapan cairnya hak keuangan.
Berbagai tugas memang kemudian menjadi kawan akrab saya. Termasuk dalam tugas perencanaan sampai tugas administrasi, termasuk menyiapkan surat untuk menteri, surat undangan untuk lembaga pemerintah, sampai narasumber acara. Belum lagi tugas tambahan yang sifatnya bulanan, seperti menjadi admin pada aplikasi dashboard layanan. Dashboard yang membantu Sekretariat KSP dalam memberikan pelayanan. Contohnya menyampaikan informasi tentang telah selesainya pencairan hak keuangan, dan lain sebagainya. Contohnya menyampaikan informasi tentang telah selesainya pencairan hak keuangan, dan lain sebagainya.
ADVERTISEMENT

Ini jelas mengoyak bayangan pertama saya saat melamar di KSP.

Semua tugas itu, terus terang sangat menyita waktu saya seharian. Imajinasi tentang PNS yang santai, tanpa tekanan dan pulang tepat waktu, sudah menguap entah ke mana. Ini jelas mengoyak bayangan pertama saya saat melamar di KSP. Awalnya, saya mengira KSP ini adalah organisasi yang telah mapan dan telah dilengkapi dengan berbagai aturan dokumen kerja yang lengkap. Sehingga para pegawainya bakal bebas dari tumpukan kerja yang membuat stres, seperti pada kantor sebelumnya yang saya tinggalkan.
Harapan tinggal harapan, saat itu rasa tertekan muncul, terutama saat pekerjaan yang banyak harus saya kerjakan sendirian. Padahal saat itu, saya pun belum berpengalaman. Sampai kapan saya bisa bertahan?
ADVERTISEMENT
Di antara ‘perjuangan’ berkompromi pada diri sendiri, saya masih harus mengerjakan tumpukan pekerjaan yang seolah tak pernah ada habisnya. Pernah tak tahan, sampai benar solusi, kata saya saat itu. “Tidak apa-apa, Nul. Staf itu emang harus bisa ini itu. Banyak mengerjakan, banyak ilmu yang kau bisa dapat. Semua yang kau kerjakan bakal bermanfaat nanti.” Begitu ucapan seorang senior saat memberi nasihat.
Akhirnya saya tahu, saya butuh menenangkan hati dan relaks. Saya memutuskan cuti beberapa hari. Pergi ke tempat yang lebih sepi. Saya pun menyendiri dan melakukan kontemplasi dan belajar membuka diri serta berbagi.
Kemudian, saya pun sadar untuk meningkatkan kualitas diri. Saya mulai banyak bertanya pada berbagai teman dan juga senior. Saya juga mulai banyak membaca. Mencari bahan-bahan yang ada. Teristimewa, atasan pun banyak membantu dan mendukung dengan nasihat dan semangat.
ADVERTISEMENT
Proses yang berjalan hingga 2,5 bulan itu mulai menampakkan hasil. Dunia tidak lagi gelap gulita. Banyak cahaya yang membantu menerangkannya. Pelan-pelan, saya bisa menyelesaikan tugas-tugas yang ada satu persatu dengan gembira.
Kini, selain Peraturan Tata Naskah Dinas, saya pun berkontribusi dalam penyusunan draft awal peraturan lainnya. Draft Perka Juklak Standar Operasional Prosedur, Draft Perka Logo Kantor Staf Presiden, Draft Perka Ketentuan Jam Kerja, Draft Standar Jabatan dan lain sebagainya.
Keberhasilan menyelesaikan tugas-tugas itu, kini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Sungguh bahagia. Rasanya menyenangkan dan tidak sesulit apa yang saya bayangkan sebelumnya.
Mungkin jika bukan karena tugas sehari-hari, saya tidak bisa mengembangkan diri. Tidak bisa mengenali diri sendiri. Kuncinya adalah menikmati. Menikmati setiap proses yang dialami. Juga berkompromi dengan realitas yang dihadapi. Pada akhirnya, pekerjaan yang banyak atau sedikit pun bisa dijadikan ajang party, untuk selalu happy dan ber-haha hihi
ADVERTISEMENT