kumparan
search-gray
News11 November 2019 12:18

Meringkas Data Bencana di Satu Layar

Konten kiriman user
Bukan Remahan Rengginang
Drajat Jiwandono. Foto: Dok: Bukan Remahan Rengginang.
Entah apa rencana Tuhan. Takdir membawa perjalanan hidup saya dan ayah terikat pada sebuah kata yang sama, "dashboard". Ayah saya yang bekerja sebagai sopir, setiap hari akrab dengan dashboard. Lewat dashboard ayah memantau kecepatan, putaran mesin, hingga sisa bahan bakar mobil yang dikemudikannya.
ADVERTISEMENT
Sementara saya yang bekerja sebagai analis Data dan Informasi di Kantor Staf Presiden (KSP) bertugas membuat dashboard perkembangan program-program prioritas Presiden. Sebut saja di antaranya dashboard untuk memantau program pengentasan kemiskinan, profil kemiskinan, hingga dashboard pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan melihat dashboard itu, para tenaga ahli yang bekerja di KSP bisa bekerja dengan lebih efisien. Cukup sekilas menatap dashboard itu mereka bisa mendapat gambaran perkembangan dan kemajuan program yang dikawal. Tapi dari sekian banyak dashboard yang saya terlibat pembuatannya, paling berkesan saat membuat dashboard gempa yang berujung tsunami di Palu dan Donggala akhir 2018.
Saat itu begitu banyak informasi dan laporan yang masuk dari berbagai lembaga pemerintah. Sebut saja di antaranya dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Basarnas (Badan SAR Nasional), dan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Belum lagi laporan dari kementerian misalnya Kementerian Koordinasi Politik Hukum dan Keamanan, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, hingga BUMN (PLN, Telkom, Pertamina). Lembaga dan Kementerian itu setiap hari memberikan laporan hasil pemantauan hasil kerja, sebaran bantuan, hingga penanganan korban.
ADVERTISEMENT
Masalahnya, data-data yang terkirim selain susunannya berbeda juga formatnya tidak seragam. Ada laporan dalam bentuk PDF, data citra satelit, data informasi geospasial, data statistik, video, foto, hingga perbincangan resmi dalam group WhatsApp. Bayangkan saja untuk memantau kondisi kerusakan suatu kabupaten misalnya, saya harus membuka file citra satelit dan foto dari satu berkas.
Menghitung jumlah pengungsi dan korban harus pindah ke file lain dalam format tabel. Begitu seterusnya. Kondisi ini menyulitkan pemerintah dalam mengambil keputusan. Padahal mereka dituntut bekerja secara tepat dan cepat.
Bukan Remahan Rengginang
Sekretariat Kantor Staf Presiden. Foto: Dok: Bukan Remahan Rengginang.
Tim Pengelolaan Informasi dan Komunikasi (PIK) tempat saya bergabung di KSP bertindak cepat. Mungkin selama ini kami dikenal hanya mengurus hal-hal sederhana seperti setting proyektor, membuat akun email, menerima komplain saat wifi tidak terhubung, sampai perawatan perangkat. Kali ini kami berinisiatif memberikan layanan lebih. Rasanya sangat menantang ketika data yang sangat beragam dan banyak itu bisa diringkas dalam satu kemasan. Divisualkan secara menarik dan informatif dalam bentuk dashboard.
ADVERTISEMENT
Mendapat tugas itu, saya coba bayangkan ayah saya sebagai orang awam menjadi sangat terbantu dengan kesederhanaan informasi pada dashboard mobil. Untuk tahu kecepatan putar roda cukup terwakili dengan jarum speedometer. Untuk tahu lampu sein sudah dinyalakan cukup melihat indikator hijau yang berkedip. Saya harus membayangkan membuat dashboard pantauan penanganan bencana dengan tampilan yang mudah dibaca awam.
Beberapa kali konsep tampilan kami diskusikan dalam tim. Hingga akhirnya sepakat pada sebuah tampilan yang kami yakini bisa mewakili seluruh informasi yang dibutuhkan. Saya mulai menggarap secara maraton bersama tim. Data yang bentuknya beraneka ragam bisa kami sajikan dengan sederhana.
Dashboard itu akhirnya rampung juga dan terus di-update datanya setiap hari selama tiga pekan. Pada halaman utama dibuka langsung muncul informasi dasar seperti jumlah korban, dapur umum, layanan kesehatan, pasokan bahan bakar, hingga sebaran dapur umum. Jika ingin mengetahui lebih detail, tinggal klik dan informasi yang lebih lengkap langsung tersedia.
ADVERTISEMENT
Melalui Ibu Deputi V KSP Jaleswari, dashboard itu dipresentasikan untuk dijadikan panduan laporan harian kepada Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal (Purn.) Dr Moeldoko. Ternyata Kepala Staf suka. Setiap saat ingin memantau perkembangan penanganan gempa, dashboard itu menyajikan informasi terkini. Rasanya puas, hasil kerja kami bisa membantu tim penanganan gempa bekerja lebih efisien.
Kepuasan itu bertambah ketika saya tahu dashboard yang saya buat juga ditampilkan sebagai bahan laporan pada sidang Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Meski tak perlu saya yang menjelaskan kepada Presiden, hasil karya saya bisa membantu Presiden mengambil keputusan penting dengan tepat dan cepat.
Padahal dulu saya tak pernah bermimpi bisa membantu Presiden, orang nomor satu di negeri ini. Maklum saja, saya hanyalah anak desa dari keluarga sangat sederhana di Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Ayah harus merantau ke Jakarta menjadi sopir untuk menghidupi keluarga. Sehingga untuk sekolah saya harus mencari beasiswa agar bisa belajar secara gratis.
ADVERTISEMENT
Wajar orang tuaku bangga dengan pekerjaanku sebagai pegawai istana saat ini. Bagaimana tidak, Drajat dulu dibesarkan di rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Untuk mandi dan buang air pun harus ke sungai karena tak punya MCK sendiri. Kini setiap hari berkantor di Istana. Itu semua karena rencana Tuhan.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-white
sosmed-facebook-white
sosmed-twitter-white
sosmed-line-white