Konten dari Pengguna

Serenity Ibu Patmi

Bukan Remahan Rengginang

Bukan Remahan Rengginangverified-green

Kisah Orang Muda di Istana. Link untuk mengunduh e-book 'Bukan Remahan Rengginang': http://ksp.go.id/unduh-buku/

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bukan Remahan Rengginang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kedeputian II Foto: Bukan Remahan Rengginang
zoom-in-whitePerbesar
Kedeputian II Foto: Bukan Remahan Rengginang

“Ada peserta aksi cor kaki yang meninggal.” (21 Maret 2017 akan saya ingat selamanya). Pesan itu masuk pukul tiga dinihari, pada satu hari yang tak kan lagi pernah sama. Saya masih separuh terjaga setelah beberapa hari belakangan tidak nyenyak tidur. Para petani dari Pegunungan Kendeng, Jawa tengah menggelar aksi memasung kaki dengan semen di kawasan Monas, depan istana. Air putih yang bisa tergapai saya teguk banyak-banyak demi mengumpulkan kesadaran.

Paginya, saya dan rekan kerja bergegas menuju ke Rumah Duka St. Carolus, Jakarta. Kami menyampaikan duka cita secara langsung kepada Gunritno, seorang tokoh gerakan penolakan pembangunan pabrik semen yang sekaligus penanggungjawab aksi pasung kaki tersebut

Penolakan masyarakat yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) solid dan terorganisir. Aksi fenomenal yang mereka lakukan di antaranya memasung kaki dengan cor-coran semen selama berhari-hari. Tindakan ini sebagai lambang

penderitaan rakyat jika lahan-lahan pertanian rusak akibat keberadaan pabrik semen.

Aksi pasung kaki itulah yang akhirnya menghantarkan mereka menghadap Presiden pada 2 Agustus 2016. Mereka berkeluh kesah sebagai rakyat kepada pemimpin tertinggi negara ini. Pertemuan petani Kendeng dengan presiden menghasilkan keputusan untuk mengkaji ulang daerah tersebut apakah daya dukung dan daya tampungnya memadai untuk pengoperasian pabrik berkapasitas produksi tiga juta ton per tahun.

Demi melaksanakan perintah Presiden maka para ahli, gubernur, dan bupati yang daerahnya masuk ke dalam kawasan Pegunungan Kendeng dikumpulkan. Hingga terjadi peristiwa yang tak terduga. Petani kecewa pada sikap pemerintah daerah karena pembangunan pabrik tetap berlangsung, padahal proses kajian masih disusun. Petani Kendeng akhirnya memilih mengadu ke ibukota.

Kali ini aksi memasung kaki dengansemen berlangsung untuk jangka waktu yang tidak ditentukan sampai presiden bersedia menemui mereka kedua kalinya. Namun aksi “Dipasung Semen” jilid 2 ini berakhir duka. Ibu Patmi meninggal setelah memasung kakinya selama satu minggu penuh.

Sehari sebelum Ibu Patmi berpulang, saya mengunjungi para Petani Kendeng yang sedang beristirahat usai aksi di depan Istana. Wajah-wajah lelah namun tidak menyerah. Malam itu saya berdiskusi dengan Gunritno tentang banyak hal. Diskusidiskusi biasa. Lebih kepada cerita ringan supaya kami tidak penat.

“Kematian Ibu Patmi tidak dapat diubah, tetapi nasib petani di Pegunungan Kendeng mungkin saya bisa.”

Mastiur Pharmata. Foto: Dok: Bukan Remahan Rengginang

Belakangan saya tahu bahwa setelah percakapan saya dan Gunritno, malam itu juga mereka memutuskan membuka pasungnya dan akan kembali ke Kendeng. Saya tercekat, berandai andai.

Apakah jika saya melakukan lebih awal, Bu Patmi masih tetap ada? Bukan cuma duka, tapi perasaan dan pikiran bahwa saya secara tidak langsung membunuh, mengakibatkan seorang Ibu Patmi meninggal karena saya tidak melakukan tugas dengan baik dan benar. Perasaan ini menyiksa dan membuat sakit. Saya menangis. Suara saya selalu bergetar jika membicarakan Ibu Patmi, sampai sekarang.

Pikiran yang tidak sengaja terpelihara itu mau tidak mau membuat saya merasa bahwa duduk di lingkaran satu republik ini mungkin sama sekali tidak berguna. Sekeras apa pun saya bekerja, setajam apa pun saya membuat analisa, sejelas apa pun saya memaparkan suatu masalah, tetap saja Ibu Patmi hanya tinggal nama sekarang.

Peristiwa itu membuat saya meragukan kemampuan diri sendiri. Padahal, justru setelah Ibu Patmi meninggal, hasil kajian sangat dibutuhkan selesai cepat dan sesempurna mungkin agar situasi cepat kondusif. Peran saya sebagai anggota tim “penjaga” proses penyusunan kajian yang seharusnya penting menjadi kurang maksimal bahkan cenderung menuju kegagalan.

Awal 2018, secara tidak sengaja saya membaca tulisan Deputi 2 Kantor Staf Presiden (KSP), Bapak Yanuar Nugroho, di laman media sosialnya. Sebuah doa bertajuk Serenity Prayer.

God grant me the serenity to accept the things I cannot change; courage to change the things I can; and wisdom to know the difference” (Tuhan anugerahkanlah kepadaku kedamaian untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah; keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah; dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya.)

Doa yang sangat sederhana namun kehadirannya saat itu menghantam saya di titik yang tepat. Berkali-kali saya lantunkan doa itu di dalam hati sambil merenungi kematian Ibu Patmi. Kematian adalah milik semua makhluk dan tentu saja berada di luar kuasa manusia, siapa pun dia.

Ibu Patmi dipanggil pulang karena memang jodohnya dengan dunia sudah harus selesai. Beliau sudah menyelesaikan dharma dan kewajibannya sebagai manusia. Tinggal kemudian bagaimana saya sebagai manusia yang masih bernapas bisa menyelesaikan apa yang menjadi tugas saya dengan sebaik-baiknya.

Kematian Ibu Patmi tidak dapat diubah, tetapi nasib petani di Pegunungan Kendeng mungkin bisa saya ubah. Adalah tugas saya untuk mengawal proses penyusunan kajian lingkungan hidup Pegunungan Kendeng dan tugas itu harus dikerjakan dengan sekuat-kuatnya. Kesadaran ini berangsur-angsur muncul dan melegakan hati.

Hingga pada akhirnya, hari ini saya bisa bersyukur karena bekerja di Kantor Staf Presiden. Di mana suara-suara kaum muda tetap didengarkan dan bahkan menjadi bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan.

Kajian lingkungan Pegunungan Kendeng saat ini telah selesai disusun. Tentu tidak semua pihak berbahagia terhadap hasilnya. Namun demikian Tuhan telah menganugerahkan pada saya kemampuan untuk membedakan mana yang bisa dan mana yang tidak bisa diubah selama saya berada di balik tembok Istana. Rahayu, Bu Patmi. Rahayu