Food Waste: Sampah Sisa Makananmu Awal dari Malapetaka

Mahasiswi semester tua yang berkutat di persma Universitas Hasanuddin.
Tulisan dari Shafira Rembulan Putri Hasan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bencana alam terjadi silih berganti menyambut tahun 2021. Berbagai spekulasi bermunculan. Bahkan, tidak sedikit yang menganggap bahwa bencana yang terjadi sekarang ini merupakan bentuk murkanya Tuhan akibat banyaknya yang ‘melenceng’ dari ajaran-Nya.
Well, menurut penulis, memang benar bencana yang terjadi sekarang ini dampak dari kemurkaan, namun bukan Tuhan, tapi alam. Tindakan manusia yang secara tidak sadar maupun sadar merusak alam terus-menerus membuat alam pada akhirnya jenuh sehingga memutuskan untuk ‘mengekspresikan amarahnya’. Salah satu tindakan manusia yang seringkali disepelekan yaitu menghasilkan sampah sisa makanan atau food waste.
“Hah? Kok, bisa? Kan bisa jadi pupuk? Berbahaya dari mananya?”
Benar, bisa jadi pupuk. Tapi sayangnya, hanya segelintir orang yang benar-benar mengolah food waste agar menjadi pupuk. Food waste tidak bisa serta-merta menjadi pupuk begitu jatuh ke tanah, itupun kalau di tanah, kalau buangnya di sungai? Justru menimbulkan masalah baru. Selain itu, tidak semua sampah sisa makanan dapat diolah menjadi pupuk yah teman-teman.
Sebelum terlalu jauh, ada baiknya kita bahas terlebih dahulu soal--
Apa sih food waste itu?
Sebenarnya sampah makanan secara keseluruhan dikatakan sebagai food wastage. Dari kata tersebut, lahirlah istilah food loss dan food waste. Dipisahkan menjadi dua bagian berdasarkan jenis makanannya saja. Food loss adalah bahan makanan yang masih mentah dan belum diolah sedemikian rupa namun sudah tidak bisa diolah lagi sehingga pada akhirnya dibuang begitu saja. Sedangkan food waste adalah makanan yang telah diolah dan siap dikonsumsi namun dibuang, baik karena tidak dikonsumsi ataupun karena kedaluwarsa.
Food waste yang menumpuk di tempat pembuangan sampah menghasilkan metana dan karbon dioksida. Bahayanya adalah gas-gas tersebut nantinya terbawa ke atmosfer dan berkontribusi atas rusaknya lapisan ozon. Jika lapisan ozon rusak, maka kestabilan suhu akan terganggu, yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global. Sangat mencengangkan bukan?
Bukan hanya itu saja. Yang lebih mencengangkan lagi adalah Food and Agriculture Organization (FAO) mengatakan bahwa sekitar 1/3 atau 1,3 miliar ton makanan yang dihasilkan di seluruh dunia tidak berakhir dikonsumsi setiap tahunnya, atau terbuang sia-sia. Padahal, bila dikelola dengan efisien, sejumlah besar makanan itu dapat mengatasi masalah kelaparan yang terjadi di dunia.
Lemahnya kesadaran manusia terhadap masalah ini menjadi sebuah malapetaka. Orang-orang hanya terfokus ke masalah lingkungan lainnya, tidak mengetahui bahwa food waste sangat berkontribusi pada efek rumah kaca yang kita rasakan sekarang ini. Sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan bahwa hanya 3% orang yang sadar akan masalah yang ditimbulkan dari food waste. Orang-orang gagal melihat keuntungan dari menyimpan makanan dibanding dengan kebiasaan menghemat uang lainnya, seperti kebiasaan mematikan lampu dalam rangka menghemat penggunaan listrik. Selain itu, hanya segelintir negara yang benar-benar menyikapi permasalahan ini dengan tegas.
Dalam laporan Food Sustainability Index (2018), Prancis menempati peringkat teratas sebagai negara yang serius dalam menangani food waste dengan skor 85,80. Disusul oleh Argentina dengan skor 83,40. Dan yang menempati posisi paling akhir yaitu Uni Emirat Arab dengan skor 34,60. Indonesia sendiri menempati urutan ke-53 dari 67 negara dengan skor 61,40. Dengan kata lain, negara kita berada di urutan ke-15 sebagai penghasil sampah makanan terbanyak.
Jadi bagaimana cara mengatasi masalah food waste ini?
Bagi negara berkembang, regulasi pemerintah merupakan salah satu cara tegas untuk mengendalikan masalah ini secara efisien dan tidak bias. Regulasi dari pemerintah juga dapat mencegah pemborosan produksi yang tidak perlu.
Tindakan Prancis yang mendapat peringkat teratas terbaik dalam mengatasi masalah food waste dapat dijadikan bukti mengenai efisiennya regulasi itu. Dengan cara mengeluarkan undang-undang pada tahun 2016, seluruh supermarket di Prancis diwajibkan untuk mendistribusikan kembali makanan yang dapat dimakan ke bank makanan dan badan amal. Bagi yang melanggar akan dijerat hukuman 2 tahun penjara dan denda besar.
Selain mengeluarkan regulasi, cara lainnya yang bisa dicontoh salah satunya dari Austria yang memiliki platform food sharing yang bekerja sama dengan food bank dan kementerian terkait. Contoh lainnya adalah Belanda yang memiliki program nasional “united against food waste” untuk mengurangi food waste sebanyak 50% pada 2030.
Di Indonesia sampai saat ini belum ada regulasi yang mengatur masalah food waste. Selagi menunggu munculnya regulasi yang entah kapan keluarnya (keburu mokad), lebih baik kita bergerak sendiri dalam mengatasi masalah ini teman-teman. Ternyata ada banyak cara yang efektif untuk mengurangi adanya food waste.
Belanja seperlunya. Jangan berlebihan dalam berbelanja. Tidak perlu terpancing oleh diskon-diskon yang menggiurkan di luar sana. Percayalah, pada akhirnya tidak semuanya akan dikonsumsi. Serius.
Pintar-pintarlah dalam menyimpan makanan. Faktanya, makanan dapat terkontaminasi jika tidak disimpan dengan baik.
Jangan biasakan memilih-milih makanan. Jika ini di film-film, kalian akan jadi pemeran yang mati di awal scene. Belajarlah untuk menerima semua jenis makanan. You’re not a baby anymore.
Selalu cek tanggal kedaluwarsa. Jika makanannya tidak terdapat tanggal kedaluwarsa, sebaiknya sebelum menyimpan makanan tulis tanggal kapan dibelinya. Agar makanan yang disimpan tidak dibuang jika kalian tidak yakin masih layak dikonsumsi atau tidak.
Olah makanan sisa. Masak ulang dengan menambahkan beberapa bahan masakan baru sekreatif mungkin.
Membuat pupuk kompos. Dengan mengolah food waste menjadi pupuk, maka kita dapat menggunakannya untuk tanaman di kebun kita dan memproduksi makanan sendiri.
Bergabung di komunitas di bidang food waste. Selain cara-cara di atas, kalian juga bisa melibatkan diri dalam organisasi/komunitas yang bergerak di bidang food waste. Di Indonesia sendiri sudah banyak kok organisasi seperti ini. Salah satunya adalah gerakan Food Not Bombs (FNB).
Sudah banyak juga inovasi-inovasi canggih yang diciptakan untuk mengolah food waste yang barangkali bisa dicoba. Yang terpenting, selalu ingat, sharing is caring. Ada baiknya teman-teman mulai menyebarkan food awareness ke lingkungan sekitar.
“Jangan sisa makanannya, ya? Nanti nasinya nangis, loh.”
