Konten dari Pengguna

Streotype dan Saumlaki

Bumi Nusantara Lamassiang

Bumi Nusantara Lamassiang

Hamba semesta.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bumi Nusantara Lamassiang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

o

Pertengahan bulan Agustus aku mendapati hadiah dari media online, hadiah itu berupa Traveling mengunjungi pulau Saumlaki. Aku tak pernah tahu menahu terkait pulau itu, yg saya tahu ada banyak teman dekat aku yg ingin berkunjung kesana. Sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan hadiahnya sebab sejatinya aku ini bukan seorang traveler yg suka jalan jalan ke bibir bibir pantai atau ke lembah lembah dan puncak puncak gunung lalu mempublikasikannya di media sosial sebab saya dari dulu tidak begitu senang dengan tampilan luar dan aku lebih tertarik dengan dalaman dan isi, Tapi apa daya terlanjur diriku telah mengiyakan pada panitia penyelenggara untuk berangkat menjemput hadiahnya.ertengahan bulan Agustus aku mendapati hadiah dari media online, hadiah itu berupa Traveling mengunjungi pulau Saumlaki. Aku tak pernah tahu menahu terkait pulau itu, yg saya tahu ada banyak teman dekat aku yg ingin berkunjung kesana. Sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan hadiahnya sebab sejatinya aku ini bukan seorang traveler yg suka jalan jalan ke bibir bibir pantai atau ke lembah lembah dan puncak puncak gunung lalu mempublikasikannya di media sosial sebab saya dari dulu tidak begitu senang dengan tampilan luar dan aku lebih tertarik dengan dalaman dan isi, Tapi apa daya terlanjur diriku telah mengiyakan pada panitia penyelenggara untuk berangkat menjemput hadiahnya.

M

malang-jakarta 14 Agustus 2017

Oke, yang membuat aku ingin berangkat ialah tempat yg ingin dikunjungi sangat kurang ulasan di Google terkait pulau saumlaki bahkan saat aku searching di Google Map pulau itu berdekatan dengan pulai Darwin (Australia) dan Lebih dekat ke negara Timur Leste. Aku penasaran, ada ya pulau sejauh itu menjadi garda depan atau belakang negara ini (Indonesia). Terbesit dalam hati, sepertinya Saumlaki ini daerah tertinggal, tidak ada listrik, orang orangnya primitif dan sepertinya aku akan kembali ke Indonesia Tahun 1996 tepatnya di Tempe-tempe Enrekang.

Pulau saumlaki dari google map

Rasa penasaran aku terus mengamuk inginku bernostalgia 20 tahun yg lalu melihat emak emak berkuda lalu lalang di pasar, mesjid, peribadatan, dan merasakan kembali dimana orang orang tidak lagi menunduk saat mencari hiburan (main hp) melainkan mereka bercanda dengan kelakar satir yg menggelitik. Semoga segera tiba di Saumlaki, sebab di kota sudah terlalu banyak berita berita aneh, buruk, eufornis yg mendarat di telinga aku. Semoga keburuntungan ini bisa kembali merefresh saraf sarafku yg membeku karena polusi kota, kriminal kota, dan pungli pungli yg meresahkan warga.

K

Singkat cerita, tetiba di bandara akhirnya aku bersapa ria, berkenalan seraya dengan panitia juga peserta Kumparan Getaway II , kami ngobrol dan mengakrabkan diri satu sama lain. Kami diberangkatkan menggunakan Pesawat Garuda dengan kode penerbangan GA640 tujuan Jakarta - Ambon.

Singkat cerita, tetiba di bandara akhirnya aku bersapa ria, berkenalan seraya dengan panitia juga peserta Kumparan Getaway II , kami ngobrol dan mengakrabkan diri satu sama lain. Kami diberangkatkan menggunakan Pesawat Garuda dengan kode penerbangan GA640 tujuan Jakarta - Ambon. gkat cerita, tetiba di bandara akhirnya aku bersapa ria, berkenalan seraya dengan panitia juga peserta Kumparan Getaway II , kami ngobrol dan mengakrabkan diri satu sama lain. Kami diberangkatkan menggunakan Pesawat Garuda dengan kode penerbangan GA640 tujuan Jakarta - Ambon.

Saat kami tiba di Bandara Internasional Pattimura, aroma timur memasuki pernapasan dan menyadarkan kami bahwa sekarang kami sedang berada di bagian indonesia timur. Sungguh jauh berbeda Timur dan Barat di wilayah Indonesia, mulai dari dialek bahasa dan menu masakan yg tertera di resto resto bandara.

Sebab kami hanya transit, durasi kami di Ambon tidak begitu lama. Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju destinasi sesungguhnya menuju Pulau Saumlaki, terbang bersama Garuda mengembalikan memoriku 3 tahun yg lalu, hal itu di karenakan pelayanan Garuda bertaraf standarnisasi Internasional. Aku betul betul menikmati musik mozart sepanjang perjalananku di udara, di suguhi kopi susu dan beberapa buah untuk pencuci mulut, wah Garuda memang istimewah, sangat wajar ketika pesawat ini di kategorikan Pesawat High Class di Indonesia. Terima kasih Garuda, semoga perjumpaan kita bukan yg terakhir kalinya. Doaku bawalah aku melihat ciptaan semesta yg sungguh tak tertandingi ini.

Lanjut cerita, menuju Pulau Saumlaki, di dalam pesawat aku tidak ingin tidur, karena aku ingin mendokumentasikan perjalananku bersama Garuda menuju pulau terluar Indonesia. Aku mengambil buku sket saya lalu menggambar apa yg aku lihat dalam pesawat.

. Sketsa di dalam pesawat garuda 16 agustus 2017 bersama tim kumparan getaway

.

Dari jarak pandang yg ukuran jauhnya aku tidak hitung, mulai nampaklah pulau Saumlaki, biasanya ketika pesawat sudah mau landing, yg kita nikmati adalah bangunan kota, pabrik atau persawahan, tetapi diatas pulau Saumlaki nampak seperti negara brazil yg biasa kita jumpai di TV TV chanel National Geography.

Pepopohnya merimbun, pulau pulau kecil berserakan di pinggir Pulau Saumlaki, lautnya biru kehijau hijauan indah di pandang, rasanya hanya ingin berada diudara memandang jauh ciptaan semesta.

Tetiba di bandara Mathilda Batlayeri kami disambut oleh pemandu dari Saumlaki, menjelaskan sedikit terkait Saumlaki, waw di pulau ini ada mobil, ada signal, ada ilmu pengetahuan dan seterusnya, selain itu tutur bahasa indonesia mereka sangat unik bersastra semacam dialek bung karno.

Streotype memang selalu menilai dengan intuisi yg menguburkan logika dan fakta.

Pulau ini sangat maju, mereka punya bandara, ada patung Ibunda Mathilda Batlayeri sebelum pintu gerbang Bandara menjamumu dengan senyuman dan tatapan yg tajam dan menggendong seorang anak.

Guide ini bercerita panjang terkait sejarah hingga waktu tidak cukup untuk menuntaskan kisah kisah yg diceritakan, karena agenda kami sedang menunggu di desa tumbur suku Tanimbar.

Sekali lagi wooww, Pulau ini menjatuhkan ekspektasi saya, bahwa orang disini jauh dari perkembangan.

Sesampainya di suku tanimbar ada banyak agenda yg kami lakukan, mulai dari mengamati para perupa pembuat patung, mengunjungi usaha kreatif para penun kain hingga makan bersama masakan suku tanimbar, yaitu bakar batu.

Bakar Batu ialah makanan yg di masak dibawah tanah dengan menggunakan batu dan dilapisi daun daun. Hal ini menarik, makanan di kukus lalu di kubur dalam tanah, saya belum tahu cara kog ubi yg kami santap itu matang sematang matangnya, dan cara mengukur masak tidaknya makanan itu, mereka menggunakan lidi, memasukan lidi dalam tanah jika lidihnya mudah masuk artinya itu sudah masak menurut orang orang tanimbar.

Oke selain itu aku memberikan 4 jempol kepada telkomsel, karena yg mampu mengantarkan suarku kepada kerabat dan keluarga di berbagai daerah indonesia hanyalah jaringan telkomsel, tidak hanya untuk menelpon, jaringan 3G pun sangat kuat di pulau terluar Indonesia yg menyamankan kami untum mengakses Internet. Salut. Saya bisa merasakan bagaimana anda dan pegawai anda bertahan hidup disini untuk membangun tower jaringan. Terima kasih telkomsel karena sudah memudahkan para nelayan yg berada digarda paling depan indonesia ini untuk berkomunikasi antar sesama.

Saya upload ini di pinggir pantai desa Olilit.

Saya tidak pernah sangka bahwa pemerintah juga sangat peduli dengan perkembangan pulau terluar di Indonesia, buktinya perjalanan kami juga bersamaan dengan agenda konservasi Kementrian perikanan dan kelautan, mereka datang jauh jauh dari ibu kota hanya untuk mengedukasi para nelayan yg tinggal di daerah perbatasan untuk terus menjadi sumber pokok perekonomian bangsa. Selain itu pemerintah juga mengupayakan adanya penyerdahanaan Ekspor-Impor ikan antar negara. Membangun setiap pos pos perdagangan antar negara tetangga daerah perbatasan.

Lihatlah kinerja pemerintah dan masyarakat kita mampu menghidupkan pulau pulau yg jauh dari pusat peradaban

Bersama Pak Dirjen Kelautan Sjarief Widjaja

S