Konten Media Partner

Cara Bertahan Hidup Pelukis Kulit Kayu Kampung Asei Sentani Saat Corona

Bumi Papuaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pelukis kulit kayu Kampung Asei Sentani, Kabupaten Jayapura. (Dok Hari Suroto)
zoom-in-whitePerbesar
Pelukis kulit kayu Kampung Asei Sentani, Kabupaten Jayapura. (Dok Hari Suroto)

Jayapura, BUMIPAPUA.COM- Masyarakat yang bermukim di Pulau Asei terkenal sebagai pelukis dengan media kulit kayu. Pengetahuan melukis diwariskan oleh nenek moyang mereka sejak zaman prasejarah.

Kulit kayu yang dijadikan sebagai media melukis yaitu kulit pohon kombouw atau ficus variagata yang memiliki tekstur yang bagus sebagai media melukis.

Kulit kayu dilukis menggunakan warna-warna yang berasal dari pigmen tumbuhan, arang, tanah liat dan kapur sirih. Motif lukisan yang biasa dibuat yaitu fauna Sentani, flora dan lambang-lambang kearifan lokal di tengah masyarakat setempat.

Corry Ohee, pelukis kulit kayu Pulau Asei, Kampung Asei, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura mengakui di tengah pandemi corona, pelukis kulit kayu tetap mengerjakan lukisan, meskipun minim pembeli.

"Kami mengerjakan lukisan di rumah masing-masing dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan corona," katanya, Minggu (28/6).

Sepi Pengunjung

Pengunjung saat membeli lukisan kulit kayu Kampung Asei Sentani, Kabupaten Jayapura. (Dok Hari Suroto)

Corry mengakui selama pandemi corona, wisatwan yang datang ke Pantai Khalkote ataupun Pulau Asei berkurang, malahan hampir tak ada. Walau begitu, masyarakat setempat tetap melukis.

"Melukis adalah budaya dan identitas kami masyarakat Kampung Asei yang diwariskan oleh nenek moyang," katanya.

Corry menyebutkan untuk bertahan hidup di tengah pandemi corona, pelukis kulit kayu Kampung Asei tetap menjual lukisannya di pinggir jalan Sentani atau sepanjang jalan menuju ke Bandara Sentani.

"Selain itu, kami masih menerima pesanan lukisan dari pembeli, walaupun jumlah pesanan sangat sedikit," katanya.

Lukisan kulit kayu biasa disebut malo atau maro. Warga negara asing yang berkunjung ke Pulau Asei menyebutnya bark painting. Pada masa kolonial Belanda, beberapa malo dikirim ke Eropa.

Bahkan seniman Perancis, Viot mengkoleksi malo yang pernah dipamerkan di Musee d’Ethnographie du Trocadero, Paris.

Kesulitan Bahan Baku

Lukisan kulit kayu yang banyak dijual di Papua . (Dok Hari Suroto)

Pohon Kombouw sudah sulit dijumpai di sekitar Danau Sentani maupun pegunungan Cycloop. Sehingga masyarakat Asei menggunakan kulit pohon sukun yang kualitasnya lebih rendah sebagai pengganti.

Bahkan beberapa kali bahan lukisan kulit kayu, pelukis Kampung Asei mendatangkan dari yogyakarta, dengan harga per lembarnya 37 ribu rupiah untuk ukuran 1 x 1 meter.

"Untuk membeli kulit kayu dari yogyakarta, kami antar pelukis patungan uang untuk membayar kulit kayu dan ongkos kirimnya dari Yogyakarta," kata Corry.

Ia berharap pemerintah kembali menggiatkan penanaman kembali pohon kombouw di sekitar Danau Sentani dan pegunungan Cycloop.

"Atau dalam event Festival Danau Sentani yang digelar bulan Juni tiap tahunnya, pengunjung diajak untuk menanam bibit pohon kombouw, sebagai pelestarian dari budaya di Sentani," jelasnya.

Kulit kayu yang didatangkan dari Yogyakarta merupakan kulit kayu pohon deluang, ampuro, kapuo yang banyak tumbuh alami di Kalimantan. Selain itu juga kulit kayu pohon lantung yang banyak tumbuh alami di Sumatera. Sementara, penjual kulit kayu di Yogyakarta, mendatangkan kulit kayu dari Kalimantan dan Sumatera, kemudian dijual ke Papua.

"Untuk itu, perlu penanaman kembali pohon khombouw di sekitar Danau Sentani, hutan sekitar danau sentani maupun di pegunungan Cycloops. Kalau perlu pohon khombouw dijadikan sebagai maskot flora dari Kabupaten Jayapura," jelas Corry.