kumparan
19 November 2019 16:51

Inilah 6 Sektor Peninggalan Situs Megalitik Tutari di Papua

Lukisan yang dihasilkan dengan cara menggores batu untuk menggores berjenis batuan beku peridiotit. .jpg
Situs Megalitik Tutari terdapat lukisan yang dihasilkan dengan cara menggores batu berjenis batuan beku peridiotit. (Foto dok Balai Arkeologi Papua)
Jayapura, BUMIPAPUA.COM – Kepala Balai Arkeologi Papua, Gusti Made Sudarmika mengatakan, Situs Megalitik Tutari di Papua merupakan salah satu situs penting yang menggambarkan hadirnya peradaban di Papua sejak jaman prasejarah.
ADVERTISEMENT
“Dari melalui situs ini, kita dapat mengetahui bagaimana kepiawaian nenek moyang hidup dan berkarya pada jaman prasejarah,” kata Made kepada wartawan di Kota Jayapura, Selasa (19/11).
Situs Megalitik Tutari yang terletak di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua-Foto dok-Balai Arkeologi Papua.jpg
Situs Megalitik Tutari yang terletak di tepi Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. (Foto dok-Balai Arkeologi Papua)
Menurut Made, potensi budaya Situs Megalitik Tutari merupakan simbol-simbol budaya yang syarat dengan nilai-nilai kehidupan. “Nilai budaya ini menjadi sumber pembentukkan karakter bangsa, yang patut diketahui dan dipahami kita semua,” katanya.
Balai Arkeologi Papua mengelompokkan peninggalan di Situs Megalitik Tutari jadi 6 sektor berdasarkan lokasi batu lukis dengan motif lukisan bervariasi.
Situs Megalitik Tutari terdapat lukisan yang dihasilkan dengan cara menggores batu berjenis batuan beku peridiotit. (Foto dok Balai Arkeologi Papua).jpg
Situs Megalitik Tutari terdapat lukisan motif geometris yang dihasilkan dengan cara menggores batu berjenis batuan beku peridiotit. (Foto dok Balai Arkeologi Papua)
Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengatakan, lukisan yang dihasilkan dengan cara menggores batu berjenis batuan beku peridiotit. “Batu-batu hitam sebagai media lukis disebut batu gabro,” katanya, Selasa (19/11).
Menurut Hari pada sektor 1, terdapat motif ikan dan motif kadal. Terus di sektor 2 terdapat motif ikan dan motif geometris. Lalu sektor 3 terdapat motif ikan, kadal, geometris, dan kura-kura.
ADVERTISEMENT
Kemudian pada sektor 4 terdapat motif ikan, kadal, geometris, kura-kura, manusia, flora, dan motif lingkaran-lingkaran berjumlah 18 buah yang dihubungkan oleh sebuah garis.
“Batu mahluk gaib ada di sektor 4. Bongkahan-bongkahan batu ini masing-masing berbentuk menyerupai kepala, leher dan badan. Semuanya berjumlah 4," kata Hari.
Keempat batu ini, kata Hari, dipercaya sebagai representasi empat panglima perang Ondoafi Uii Marweri yang mengalahkan Suku Tutari, yaitu Ebe, Pangkatana, Wali dan Yapo.
Sementara pada sektor 5, kata Hari terdapat batu berbaris. Batu ini membentuk dua barisan dengan orientasi memanjang antara barat laut dan timur daya.
“Barisan batu ini dipercaya sebagai jalan penghubung antara dunia manusia dan alam tempat roh nenek moyang bersemayam,” jelas Hari.
situs-3.jpg
Situs Megalitik Tutari terdapat lukisan motif ikan yang dihasilkan dengan cara menggores batu berjenis batuan beku peridiotit. (Foto dok Balai Arkeologi Papua)
Sedangkan sektor 6, kata Hari, merupakan lokasi situs paling tinggi. Pada masa prasejarah, tempat paling tinggi dipercaya sebagai paling sakral atau suci.
ADVERTISEMENT
“Di sini, ada 110 batu berdiri yang ditopang batu-batu kecil yang berbentuk lonjong dengan ukuran bervariasi. Batu ini dipercaya sebagai tempat bersemayam roh nenek moyang,” terang Hari.
Pada sektor 6 ada motif manusia, manusia setengah ikan, binatang, tumbuhan, dan benda-benda budaya seperti gelang, kapak batu serta motif geometris seperti lingkaran dan matahari. “Semua adalah ekspresi pengetahuan manusia saat itu tentang alam sekitar,” katanya.
Hari juga mengatakan, motif manusia berkaitan dengan tokoh-tokoh atau nenek moyang Suku Tutari. Lukisan ini dipercaya memberi perlindungan dan kesejahteraan kepada masyarakat.
situs-4.jpg
Situs Megalitik Tutari terdapat lukisan yang dihasilkan dengan cara menggores batu berjenis batuan beku peridiotit. (Foto dok Balai Arkeologi Papua)
“Motif manusia setengah ikan menggambarkan keseimbangan hidup. Ikan sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sentani. Ikan dipercaya sebagai nenek moyang dan sumber kehidupan,” jelas Hari.
ADVERTISEMENT
Menurut Hari, motif binatang di sini, antara lain kura-kura, kadal, tikus tanah, burung dan ikan. “Binatang dalam lukisan yang ada di sekitar dan dekat dengan kehidupan masyarakat Sentani. Motif binatang juga bermakna keseimbangan,” katanya. (Fitus Arung)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan