Konten Media Partner

Kisah 9 Jam Gubernur Terjebak Lumpur di Jalan Trans Papua Barat

Bumi Papuaverified-green

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mobil yang dikendarai Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, saat terjebak lumpur dan harus bermalam di Jalan Trans Papua Barat rute Manokwari-Teluk Bintuni. (Foto IST)
zoom-in-whitePerbesar
Mobil yang dikendarai Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, saat terjebak lumpur dan harus bermalam di Jalan Trans Papua Barat rute Manokwari-Teluk Bintuni. (Foto IST)

Manokwari, BUMIPAPUA.COM - Rusaknya ruas Jalan Trans Papua Barat yang menghubungkan Kabupaten Manokwari Selatan dengan Kabupaten Teluk Bintuni, tepatnya di Kampung Mamey, Distrik Tahota, Kabupaten Manokwari Selatan, Papua Barat, menjadi perhatian serius pemerintah Provinsi Papua Barat.

Akibat ruas jalan yang rusak parah, setiap hari puluhan kendaraan mobil double cabin jenis Hilux, Triton Land Cruiser, maupun truk terpaksa bermalam di daerah itu karena terjebak lumpur. Para sopir, penumpang beserta kendaraannya, harus bermalam satu hingga tiga hari demi menunggu alat berat atau cuaca panas, agar bisa melewati ruas jalan yang sudah beralih fungsi menjadi kubangan lumpur.

Ini juga yang dialami lima mobil yang ditumpangi Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, dan rombongannya saat akan kembali ke Manokwari usai mengikuti acara penutupan kegiatan Temu Orang Muda Katolik di Distrik Merdey, Kabupaten Teluk Bintuni, pada Sabtu (15/6).

Mobil harus dibantu alat berat jenis beko saat melewati jalan rusak berlumpur di Jalan Trans Papua Barat rute Manokwari-Teluk Bintuni. (Foto IST)

Lima mobil rombongan gubernur tersebut terjebak kubangan lumpur di Kampung Mamey sejak pukul 21.00 WIT, Sabtu (15/6), hingga pukul 04.30 WIT, Minggu dini hari (16/6). Dominggus bersama rombongannya terjebak lumpur hampir sembilan jam. Mereka baru bisa lolos dari kubangan lumpur setelah dibantu alat berat beko milik salah satu perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut.

“Saya menunggu selama sembilan jam lebih, duduk di mobil sampai tertidur di dalam mobil. Karena harus menunggu mobil kami ditarik dengan menggunakan alat berat beko,” jelas Dominggus kepada wartawan di Manokwari, Papua Barat, Kamis (20/6).

Menurut Dominggus, Jalan Nasional Trans Papua Barat ini memang sudah masuk dalam penanganan Balai Jalan dan Jembatan Papua Barat, dan sudah dilakukan penimbunan juga pengerasan.

“Tapi karena cuaca yang tak menentu ini, akhirnya tak kunjung selesai juga. Ada beberapa titik sedang dikerjakan khusus, karena memang berat mengerjakannya," jelasnya.

Saat mobil terjebak lumpur di Jalan Trans Papua Barat rute Manokwari-Teluk Bintuni. (Foto IST)

Dominggus mengatakan Balai Jalan dan Jembatan Papua Barat juga mengerjakan perbaikan jalan tersebut sesuai dengan dana yang dianggarkan tahun 2019. Selain itu, pengerjaan jalan sempat terkendala, karena rute jalan ini juga sering dilalui kendaraan perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang ada di sekitar area tersebut.

“Sehingga waktu itu sempat ada pertemuan dihadiri Deputi Infrastruktur Kepresidenan yang datang. Juga dihadiri perusahaan HPH, Balai Jalan dan Jembatan Papua Barat dan Pemerintah Provinsi Papua Barat. Hasil pertemuan disepakati, perusahaan HPH mengurangi kendaraan beratnya lewati jalan dan perhatikan jenis kendaraannya saat lewat ketika nanti jalan telah diaspal," terang Dominggus.

Sedangkan Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani menuturkan, rusaknya ruas Jalan Trans Papua Barat, terutama jalan yang berada di wilayah Kampung Mamey, Distrik Tahota, Kabupaten Manokwari Selatan itu merupakan persoalan serius, sehingga harus ditanggapi secara serius pula.

Mobil terjebak lumpur di Jalan Trans Papua Barat rute Manokwari-Teluk Bintuni. (Foto IST)

“Status ruas jalan ini beberapa waktu lalu kemungkinan besar menjadi persoalan tarik menarik antara pihak perusahaan HPH yang beroperasi di daerah itu dengan Balai Besar Jalan dan Jembatan Provinsi Papua Barat,” jelas Lakotani di Manokwari, Kamis (20/6).

Menurut Lakotani, kondisi jalan ini sudah rusak parah seperti saat ditinjau langsung Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan pada Sabtu (15/6). “Jika ini dibiarkan, jelas jadi penghambat roda perekonomian warga dan bisa mengakibatkan korban jiwa karena kecelakaan. Sehingga dalam minggu ini, kami akan panggil kedua pihak (HPH dan Balai Jalan) agar persoalan ini diselesaikan,” jelasnya.

Selain itu, kata Lakotani, pihak Pemerintah Provinsi Papua Barat akan berupaya maksimal agar ruas jalan ini dapat dianggarkan pada perubahan APBD Papua Barat Tahun 2019 dan segera diselesaikan tahun ini juga. “Kami akan sikapi persoalan ini secara serius agar tak menyulitkan masyarakat dan menghambat roda perekonomian warga,” katanya.

Tampang sopir yang mobilnya terjebak lumpur di Jalan Trans Papua Barat rute Manokwari-Teluk Bintuni. (Foto IST)

Kepala Satker Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Wilayah IV Bintuni, Benny, menjelaskan pekerjaan pengerasan ruas jalan nasional, Jalan Trans Papua Barat di Kampung Mamey ini terkendala cuaca yang kurang mendukung. “Pekerjaan pengerasan sudah dilakukan, tapi di saat hujan dan dilalui kendaraan, jalan itu rusak kembali. Jadi tinggal menunggu cuaca saja. Kalau cuaca panas atau mendukung, baru bisa kami kerjakan. Kalau tidak, ya tetap begini terus,” jelasnya.

Menurut Benny, kerusakan ruas Jalan Trans Papua Barat yang menghubungkan antara Kabupaten Manokwari Selatan dan Teluk Bintuni ini hanya tersisa sekitar tiga kilometer. “Sedangkan dua kilometer lainnya sudah kami perbaiki,” katanya.

Daniel Pasaribu, salah seorang sopir angkutan umum jenis Mobil Hilux yang rutenya antara Manokwari-Bintuni dan ikut mengantar rombongan Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan, kondisi buruk jalan ini sudah terjadi sejak Januari 2019 tetapi sampai kini tak diperbaiki.

Salah satu mobil terjebak dalam kubangan air dan lumpur di Jalan Trans Papua Barat rute Manokwari-Teluk Bintuni. (Foto IST)

“Akibat jalan ini rusak parah, dampaknya penghasilan kami sebagai para sopir harus terpotong dengan pembelian bahan makanan tambahan, bahkan bayar operator alat berat beko per mobil berkisar 500 ribu untuk menarik kendaraan yang terjebak lumpur,” jelas Daniel.

Daniel mengatakan tak hanya para sopir, kondisi ini juga cukup menyusahkan para penumpang. Terutama penumpang yang sudah lanjut usia dan anak-anak. Sebab mereka terpaksa harus berjalan kaki pada medan yang berlumpur hampir lima kilometer untuk menumpang kendaraan lainnya yang tak terjebak lumpur.

“Misalnya kalau kami bawa penumpang dari Manokwari Selatan, kami sudah harus kontak teman sopir lainnya di Teluk Bintuni untuk menunggu penumpang di lokasi yang lebih aman. Sebab kalau hal ini tak dilakukan, kendaraan kami bisa terjebak berhari-hari pada medan itu. Penghasilan pun kadang kita bagi dua antara sopir yang menunggu di seberang,” jelas Daniel. (Irsye)