Konten Media Partner

Noken Raksasa Terancam Batal Ditampilkan pada Festival Baliem 2019

Bumi Papuaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rajutan Noken sepanjang 60 meter dikerjakan oleh 20 orang Mama asli Papua. (BumiPapua.com/Stefanus Tarsi)
zoom-in-whitePerbesar
Rajutan Noken sepanjang 60 meter dikerjakan oleh 20 orang Mama asli Papua. (BumiPapua.com/Stefanus Tarsi)

Wamena, BUMIPAPUA.COM - Rajutan noken raksasa yang rencananya akan dipamerkan dalam Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB), 7-9 Agustus 2019 terancam batal. Noken adalah tas rajutan tradisional masyarakat di Papua.

Kelompok mama-mama perajut noken di Distrik Assotipo, Kabupaten Jayawijaya beralasan upah yang dibayarkan untuk membuat rajutan noken raksasa tak sesuai dengan kesepakatan awal.

Rika Asso, salah satu perajut noken menyebutkan rajutan noken raksasa yang dikerjakan sejak bulan Maret lalu dilakukan oleh 20 orang. Awalnya, menurut Rika, Dinas Pariwisata meminta mama-mama mengerjakan noken tanpa ada kesepakatan berapa alokasi dananya.

Namun, setelah hari Kamis (25/7) lalu, Dinas Pariwisata dan pihak ketiga berkunjungan melihat realisasi pengerjaan noken, barulah mama-amam tersebut diberitahukan bahwa alokasi pembuatan noken raksasa Rp100 juta. Akibatnya, 20 perajut noken menolak alokasi anggaran itu.

Rajutan Noken sepanjang 60 meter dikerjakan oleh 20 orang Mama asli Papua. (BumiPapua.com/Stefanus Tarsi)

"Rajutan noken raksasa hampir selesai. Kami baru diberitahukan bahwa anggaran yang dialokasikan hanya Rp 100 juta. Artinya jika dibagi 20 orang, per orang hanya mendapatkan Rp5 juta. Ini tak sesuai dengan tenaga yang sudah kami kerahkan," katanya kepada wartawan, Minggu (28/7).

Rika melanjutkan, jika panitia atau pemerintah hanya memberikan Rp100 juta, maka dipastikan rajutan noken raksasa tak akan diberikan kepada panitia dan ditahan oleh para perajut noken.

Perajut noken yang lainnya, Selmina Asso mengakui rajutan noken sepanjang 60 meter yang dikerjakan oleh 20 orang perempuan, dilakukan pada waktu siang hingga larut malam, agar rajutan dapat selesai tepat waktu.

Rajutan noken sepanjang 60 meter yang sebagian telah diselesaikan. (BumiPapua.com/Stefanus Tarsi)

"Kami pernah merajut noken dengan panjang 1 meter dan dibayar Rp2 juta yang membutuhkan waktu 1 bulan," ujarnya.

Dalam melakukan rajutan noken ini, per orang mengerjakan 3 meter noken dan saat ini telah tersambung rajutan noken milik 9 orang. Sementara 11 orang lainnya masih dalam proses pengerjaan. Sementara bahan baku untuk menghasilkan noken yang panjangnya 60 meter berasal dari dinas terkait.

Sebelumnya Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Jayawijaya, Alpius Wetipo mengatakan pembuatan noken raksasa dilakukan oleh mama asli Papua di Distrik Assotipo dan Distrik Kerulu

Untuk Distrik Assotipo berbenang rajut pabrik dianyam 60 meter dan akan dilipat dua, sehingga akan menjadi 30 meter. Sedangakan di Distrik Kerulu merajut noken yang sama 30 meter dan bahan yang digunakan adalah benang asli dari tali dari kulit kayu. (Stefanus Tarsi)