Konten Media Partner

Ritual Adat Bakar Batu di Konferensi KINGMI XI Papua Pecahkan Rekor MURI

Bumi Papuaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rekor MURI yang diberikan saat konferensi Sinode Gereja KINGMI XI di tanah Papua (Dok Humas Konferensi KINGMI XI Papua)
zoom-in-whitePerbesar
Rekor MURI yang diberikan saat konferensi Sinode Gereja KINGMI XI di tanah Papua (Dok Humas Konferensi KINGMI XI Papua)

Jayapura, BUMIPAPUA.COM- Museum Rekor Indonesia (MURI) memberikan penghargaan kepada panitia Konferensi Sinode Gereja KINGMI XI di tanah Papua yang mempersembahkan 2.500 ekor babi sebagai persembahan pada prosesi bakar batu yang dilaksanakan selama satu minggu.

Senior Manager MURI Awan Rahargo menjelaskan ia melihat sendiri prosesi bakar batu pada konferensi Gereja KINGMI.

“MURI telah mencatat pada buku rekor yaitu tradisi bakar batu dengan jumlah babi mencapai 2.500 ekor babi,” jelasnya, Senin (8/11).

Awan menjelaskan penghargaan yang diberikan dicek terlebih dahulu kebenarannya dan ada tim yang melihat, memantau dan mencatat hingga melakukan wawancara dengan potensi yang sesuai.

MURI pernah mencatat ada bakar bau serupa yang pernah dilaksanakan oleh Bupati Mimika, Eltinus Omaleng saat acara syukuran 2014 dan menyediakan 200 ekor babi untuk prosesi bakar batu.

“Hari ini, rekor baru tercipta dengan 2.500 ekor babi pada kegiatan bakar batu di Konferensi Sinode KINGMI ke XI di Timika,” jelasnya.

Ia berharap dengan pemberian rekor MURI, dapat meningkatkan kecintaan warga Papua terutama generasi muda terhadap budaya dan tradisinya, sebab tradisi dan budaya ini merupakan kekayaan Indonesia secara umum yang bisa dipertahankan turun temurun.

Ritual Kebersamaan

Daging babi olahan yang dimasak dengan bakar batu. (Dok Humas Konferensi KINGMI XI Papua)

Tradisi bakar batu di Papua menjadi sebuat ritual kebersamaan, kegembiraan dan silaturahmi sesama masyarakat di Papua.

Bakar batu di Papua biasanya berisi sayur mayur, umbi-umbian, jagung hingga dilengkapi babi, ikan dan ayam.

Prosesi masak bakar batu dilakukan dengan cara batu yang akan digunakan untuk memasak sebelumnya dipanasi terlebih dahulu. Setelah panas, batu kemudian diletakan diatas lobang yang di dalamnya sudah tersedia aneka bahan untuk dimasak.

Selanjutnya, batu dimasukkan ke dalam lubang yang dialasi daun pisang dan alang- alang. Kemudian dijelaskan lagi dengan dedaunan dan dimasukkan daging (biasanya daging babi, namun dapat diganti dengan daging ayam maupun ikan). Sesudah itu diletakkan dedaunan untuk menutup dan diletakkan lagi bebatuan panas tersebut.

Lapisan selanjutnya, tetap dengan dedaunan sebagai alas yang kemudian diletakkan ubi, singkong, jagung dan sayuran. Kemudian ditutup lagi dengan dedaunan dan ditindih dengan bebatuan panas.

Untuk menutup bebatuan dan bahan masakan yang sudah dimasukkan, diletakkan lagi dedaunan baik daun pisang, alang- alang maupun daun lainnya yang cukup lebar untuk menutupi dan kemudian ditindih lagi dengan kayu agar panas dari bebatuan tetap terjaga.

Proses pembakaran memakan waktu antara 3-4 jam, setelah itu barulah dibuka sesuai dengan urutan lapisan tersebut dan dipindahkan ke wadah baru berupa dedaunan bersih yang disusun. Bahan makanan tersebut telah matang dan siap untuk dihidangkan.

Sinode KINGMI XI Papua

Pendeta Telas Mom sebagai Ketua Sinode KINGMI Papua periode 2021-2026. (Dok Humas Konferensi KINGMI XI Papua)

Sinode KINGMI XI Papua dilaksanakan di Timika, Kabupaten Mimika pada 1-6 November 2021.

Dari konferensi tersebut terpilih Pendeta Telas Mom sebagai Ketua Sinode KINGMI Papua periode 2021-2026.

Ketua Panitia Konferensi sinode KINGMI ke-XI, Willem Wandik menjelaskan konferensi KINGMI memiliki nilai tersendiri karena dilaksanakan lima tahunan.

Bagi jemaat KINGMI yang banyak tersebar di wilayah pegunungan Papua, pesta adat bakar batu menjadi bagian penting dalam kegiatan konferensi, sehingga jemaat,tokoh intelektual, hingga anak-anak bergembira bersama.

“Sebanyak 2.500 ekor babi ada juga yang sumbangan dari jemaat. Banyak jemaat yang datang ke konferensi membawa serta babi untuk disumbangkan secara sukarela,” katanya.

Wilem menjelaskan pada prosesi bakar batu menjadi budaya yang menggambarkan sukacita, kegembiraan, bersyukur atas berkat Tuhan.

“Maka dari itu, banyak jemaat yang menyumbangkan hewan peliharaannya, akni babi sebagai ucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam gereja, maupun kehidupannya,” jelasnya.