Konten Media Partner

Sempe Dibuat dari Tanah Kehidupan di Kampung Abar

5 Oktober 2018 13:42 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:05 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Sempe Dibuat dari Tanah Kehidupan di Kampung Abar
Bumi Papua
Sempe Dibuat dari Tanah Kehidupan di Kampung Abar
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
Oma Oppy Yoku dengan beberapa gerabah "sempe" buatannya. (BumiPapua.com/Fitus)
Jayapura, BUMIPAPUA.COM - Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabupaten Jayapura merupakan satu dari 24 kampung yang membentang di pinggiran Danau Sentani, Papua. Kampung ini memiliki keunikan tersendiri dengan adanya tanah liat, yang bisa diolah menjadi gerabah atau warga setempat menyebutnya dengan nama: sempe.
ADVERTISEMENT
Tanah liat sebagai bahan utama pembuatan gerabah atau sempe ini biasanya disebut warga Kampung Abar sebagai “Tanah Kehidupan”. Alasannya, dari tanah liat ini, mereka bisa mendapatkan uang untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, bahkan kebutuhan pendidikan anak mereka.
Gerabah atau sempe ini, biasanya digunakan warga setempat untuk menaruh papeda (makanan berbahan sagu) dan bahan makanan lainnya. Warga setempat juga menggunakan sempe tak hanya sebagai alat rumah tangga, tapi berguna untuk pembayaran mahar atau mas kawin dan acara pesta adat lainnya.
Salah satu pengrajin atau pembuat sempe dari Kampung Abar bernama Barbalina Balkoi atau biasa disapa dengan nama Mama Barbalina mengaku, dirinya melakoni pekerjaan sebagai pembuat sempe dari tanah liat merupakan warisan nenek moyang atau orang tuanya. “Ini pekerjaan rutin sehari-hari kami dari sejak dulu,” katanya di Jayapura, Papua, Jumat (5/10).
ADVERTISEMENT
Menurut Mama Barbalina, harga satu sempe buatanya bervariasi, tergantung motif dan besar kecilnya. “Sempe ukuran kecil Rp100 ribu dan agak besar Rp500 ribu. Sehari bisa hasilkan lima sempe berbagai ukuran. Uang didapatkan untuk biaya kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Oppy Yoku, nenek dari 11 cucu yang juga seorang pembuat sempe lainnya mengaku, hasil menjual sempe buatannya digunakan untuk membiayai pendidikan cucunya. “Saya dengan cucu tinggal serumah, mereka punya bapak sudah meninggal. Jadi saya membiayai pendidikan mereka,” katanya dengan dialek Papua.
Walau usianya tak lagi muda, tapi Oma Oppy—begitu dia sering disapa—tetap semangat membuat sempe. Karena tak sekuat dulu, Oma Oppy kadang menyewa pemuda setempat untuk mengangkat tanah liat yang berada di sekitar kampung untuk dijadikan sempe dengan berbagai ukuran.
ADVERTISEMENT
“Kesulitan kami selain butuh modal misalnya untuk bayar orang mengangkat tanah liat satu karung Rp50.000. Tapi juga kami sangat kesulitan menjualnya. Kami biasanya hanya jual ketika ada turis datang dan saat acara Festival Danau Sentani setahun sekali,” jelas Oma Oppy. (Fitus)