Konten dari Pengguna

Bukan Malas, Kadang Kita Cuma Tidak Mampu Membayar Harga untuk Belajar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bunga Asyifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi realistis seorang anak muda sedang duduk belajar di meja sederhana pada malam hari, menggunakan laptop dan buku catatan. Di atas meja terlihat beberapa benda yang menggambarkan kebutuhan sehari-hari seperti dompet, uang, kalkulator, dan secangkir minuman. Di satu sisi terdapat buku dan laptop sebagai simbol pendidikan, sementara di sisi lain terlihat kebutuhan hidup sebagai simbol pilihan ekonomi. Ekspresi tokoh terlihat sedang berpikir dan mempertimbangkan antara biaya belajar dan kebutuhan hidup. Suasana sederhana, natural, relatable, tidak terlalu dramatis, dengan pencahayaan hangat dan nuansa kehidupan masyarakat.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi realistis seorang anak muda sedang duduk belajar di meja sederhana pada malam hari, menggunakan laptop dan buku catatan. Di atas meja terlihat beberapa benda yang menggambarkan kebutuhan sehari-hari seperti dompet, uang, kalkulator, dan secangkir minuman. Di satu sisi terdapat buku dan laptop sebagai simbol pendidikan, sementara di sisi lain terlihat kebutuhan hidup sebagai simbol pilihan ekonomi. Ekspresi tokoh terlihat sedang berpikir dan mempertimbangkan antara biaya belajar dan kebutuhan hidup. Suasana sederhana, natural, relatable, tidak terlalu dramatis, dengan pencahayaan hangat dan nuansa kehidupan masyarakat.

Ada nasihat yang sering kita dengar:

"Kalau mau sukses, jangan berhenti belajar."

Kalimat tersebut memang terdengar bagus.

Masalahnya, kita sering lupa bahwa belajar juga membutuhkan biaya.

Bukan hanya biaya sekolah atau kuliah. Belajar keterampilan baru bisa membutuhkan uang untuk mengikuti kursus, membeli perangkat, membeli buku, membayar transportasi, atau bahkan sekadar memiliki waktu luang.

Bagi sebagian orang, biaya tersebut mungkin masih bisa disisihkan.

Namun bagi orang lain, uang yang sama mungkin harus digunakan untuk kebutuhan yang jauh lebih mendesak.

Di sinilah pendidikan bertemu dengan ekonomi.

Belajar Tidak Selalu Gratis

Bayangkan seseorang ingin mengikuti kursus desain.

Biaya kursusnya mungkin tidak terlalu mahal.

Tetapi ternyata ia juga membutuhkan laptop yang memadai. Ia membutuhkan internet. Ia harus pergi ke tempat kursus. Dan yang paling mahal, ia harus menyediakan waktu.

Kalau ia bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengikuti kursus berarti mungkin harus mengorbankan jam kerja.

Jadi sebenarnya ada lebih dari satu biaya yang harus dibayar.

Ada biaya langsung berupa uang.

Ada juga biaya tidak langsung berupa waktu dan kesempatan yang hilang.

Inilah yang membuat keputusan untuk belajar bukan sekadar keputusan pendidikan.

Ini juga merupakan keputusan ekonomi.

Kesempatan Belajar Tidak Dibagi Secara Merata

Dua orang bisa sama-sama punya keinginan untuk maju.

Sama-sama ingin punya skill baru.

Sama-sama ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Tetapi kondisi awal mereka bisa sangat berbeda.

Orang pertama mungkin memiliki laptop, koneksi internet, waktu luang, dan lingkungan yang mendukung.

Orang kedua mungkin harus bekerja setelah pulang sekolah atau kuliah, membantu keluarga, dan menggunakan perangkat seadanya.

Kalau keduanya tidak mencapai hasil yang sama, apakah berarti orang kedua kurang berusaha?

Belum tentu.

Kadang masalahnya bukan pada kemauan belajar, tetapi pada kemampuan untuk membeli kesempatan belajar.

Ini menjadi salah satu persoalan penting dalam ekonomi pendidikan.

Pendidikan Bisa Menjadi Tangga, tetapi Tidak Semua Orang Memulai dari Anak Tangga yang Sama

Pendidikan sering disebut sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Memang, pengetahuan dan keterampilan dapat meningkatkan produktivitas serta membuka peluang ekonomi.

Tetapi ada satu bagian yang sering terlupakan:

akses menuju pendidikan itu sendiri dipengaruhi oleh kondisi ekonomi.

Orang yang memiliki sumber daya lebih banyak cenderung mempunyai lebih banyak pilihan untuk belajar.

Bisa memilih sekolah atau kampus.

Bisa mengikuti pelatihan.

Bisa membeli perangkat.

Bisa mengikuti sertifikasi.

Bisa mengambil waktu untuk magang.

Sementara seseorang dengan keterbatasan ekonomi mungkin harus mempertimbangkan setiap keputusan tersebut dengan sangat hati-hati.

Bukan karena mereka tidak memiliki mimpi.

Tetapi karena setiap pilihan memiliki konsekuensi terhadap kehidupan sehari-hari.

Ada Orang yang Belajar dari Buku, Ada yang Belajar dari Kehidupan

Menariknya, pendidikan tidak hanya terjadi di institusi formal.

Seseorang yang bekerja sebagai kasir bisa belajar berkomunikasi dengan pelanggan.

Pedagang kecil belajar menghitung keuntungan, mengatur stok, dan membaca perilaku konsumen.

Kurir belajar mengatur waktu dan memahami wilayah.

Pekerja toko belajar menjual dan menghadapi berbagai karakter pelanggan.

Orang yang membantu usaha keluarga belajar bagaimana sebuah bisnis berjalan.

Semua itu merupakan proses pembentukan human capital—pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas ekonomi.

Artinya, seseorang tidak harus selalu berada di ruang kelas untuk sedang belajar sesuatu yang bernilai.

Yang Sering Tidak Kita Sadari: Pengalaman Juga Punya Nilai Ekonomi

Bayangkan seseorang bekerja selama dua tahun di bidang penjualan.

Ia mungkin tidak mendapatkan sertifikat setiap kali berhasil menawarkan produk kepada pelanggan.

Tetapi selama dua tahun tersebut, ia bisa belajar komunikasi, negosiasi, pelayanan, memahami kebutuhan konsumen, sampai menghadapi target.

Pengalaman tersebut memiliki nilai.

Ketika seseorang berpindah pekerjaan, keterampilan yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dapat menjadi modal untuk mendapatkan kesempatan berikutnya.

Inilah alasan mengapa pendidikan dalam perspektif ekonomi tidak hanya berbicara tentang ijazah.

Yang dibicarakan juga adalah kemampuan manusia untuk menghasilkan nilai.

Jadi, Apakah Semua Orang Harus Kuliah?

Tidak sesederhana itu.

Kuliah merupakan salah satu bentuk investasi pendidikan, tetapi bukan satu-satunya jalan untuk mengembangkan kemampuan.

Ada pendidikan vokasi.

Ada pelatihan.

Ada kursus.

Ada magang.

Ada pengalaman kerja.

Ada belajar mandiri.

Yang penting adalah apakah proses tersebut memberikan pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan tujuan seseorang.

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan manusia bukan sekadar semakin banyak kertas yang membuktikan bahwa ia pernah belajar.

Tetapi kemampuan yang benar-benar bisa digunakan ketika menghadapi kehidupan.

Jangan Cepat Menyebut Seseorang "Tidak Mau Belajar"

Mungkin lain kali kita perlu berhenti sebentar sebelum mengatakan:

"Dia sebenarnya bisa sukses kalau mau berusaha."

Bisa jadi memang ada orang yang kurang berusaha.

Tetapi bisa juga ada orang yang sedang menghadapi keterbatasan yang tidak terlihat dari luar.

Ia ingin mengikuti pelatihan, tetapi uangnya digunakan untuk kebutuhan keluarga.

Ia ingin melanjutkan pendidikan, tetapi harus bekerja.

Ia ingin membeli laptop, tetapi penghasilannya belum cukup.

Ia ingin belajar skill baru, tetapi waktunya habis untuk mencari nafkah.

Karena itu, pembahasan mengenai pendidikan tidak cukup hanya mengatakan "belajarlah lebih giat."

Kita juga perlu membicarakan siapa yang memiliki kesempatan untuk belajar, berapa biaya yang harus dibayar, dan bagaimana kondisi ekonomi memengaruhi kesempatan tersebut.

Sebab pendidikan memang bisa menjadi investasi untuk memperbaiki kehidupan ekonomi.

Tetapi investasi membutuhkan modal.

Dan tidak semua orang memulai dengan modal yang sama.

Mungkin karena itu, ketika membicarakan pendidikan, kita tidak hanya perlu bertanya "seberapa besar seseorang ingin belajar?", tetapi juga "seberapa besar kesempatan yang diberikan kepadanya untuk belajar?"