Gen Z Bukan Penakut, Lalu Apa yang Sebenarnya Mereka Takutkan?

Ilmu komunikasi universitas pancasakti tegal
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Bunga Maulida Risma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tekanan Ekonomi dan Ketidakpastian Masa Depan Membuat Gen Z Lebih Waspada. Bukan takut menghadapi kehidupan, sebagian Gen Z justru tumbuh di tengah berbagai perubahan yang membuat masa depan terasa semakin tidak pasti. Persaingan kerja, biaya hidup, perubahan iklim, perkembangan teknologi, hingga tekanan di media sosial menjadi bagian dari realitas yang mereka hadapi sejak usia muda.

Tumbuh di Tengah Banyak Perubahan
Generasi Z, yang secara umum merujuk pada mereka yang lahir pada akhir 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka mengalami perkembangan teknologi digital yang sangat cepat sekaligus menyaksikan berbagai perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terjadi dalam waktu bersamaan.
Perubahan tersebut membuat persoalan masa depan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang jauh. Bagi banyak anak muda, persoalan seperti mendapatkan pekerjaan, memiliki tempat tinggal, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan menjaga kondisi lingkungan sudah menjadi pembicaraan sejak berada di bangku sekolah maupun perguruan tinggi.
Dunia Kerja Semakin Kompetitif
Salah satu kekhawatiran yang banyak dirasakan anak muda adalah kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Gelar pendidikan tidak selalu membuat seseorang langsung mendapatkan pekerjaan sesuai bidang yang diinginkan. Persaingan dalam mendapatkan pekerjaan juga semakin ketat karena jumlah pencari kerja terus bertambah dan kebutuhan perusahaan ikut berubah. Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi membuat jenis pekerjaan tertentu mengalami perubahan. Gen Z yang sedang memasuki dunia kerja harus mempersiapkan kemampuan baru agar dapat mengikuti kebutuhan industri yang terus berkembang. Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda lebih berhati-hati ketika membicarakan masa depan. Keinginan untuk memiliki pekerjaan yang stabil, penghasilan yang cukup, dan kehidupan yang aman tidak selalu berarti mereka takut bekerja. Kekhawatiran tersebut juga muncul karena mereka melihat kondisi dunia kerja yang terus berubah.
Biaya Hidup Menjadi Persoalan Sehari-hari
Persoalan lain yang dekat dengan kehidupan Gen Z adalah meningkatnya kebutuhan biaya hidup. Harga makanan, transportasi, tempat tinggal, pendidikan, hingga kebutuhan digital menjadi bagian dari pengeluaran sehari-hari. Bagi mahasiswa dan pekerja muda yang baru memulai kehidupan mandiri, persoalan tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri. Keinginan untuk memiliki rumah, menabung, melanjutkan pendidikan, atau membangun keluarga juga harus dipertimbangkan bersama dengan kemampuan finansial. Karena itu, pembicaraan mengenai uang dan kestabilan ekonomi semakin sering muncul di kalangan anak muda. Mereka tidak hanya memikirkan bagaimana mendapatkan penghasilan, tetapi juga bagaimana mempertahankan kehidupan yang layak di tengah perubahan biaya hidup.
Ketika Media Sosial Menampilkan Dunia yang Tidak Pernah Berhenti
Gen Z juga merupakan generasi yang sangat dekat dengan media sosial. Informasi mengenai perang, bencana alam, krisis ekonomi, perubahan iklim, hingga berbagai persoalan sosial dapat muncul di layar ponsel setiap hari. Paparan informasi yang terus-menerus membuat berbagai persoalan global terasa lebih dekat. Peristiwa yang terjadi ribuan kilometer jauhnya dapat diketahui hanya dalam hitungan menit. Di satu sisi, kondisi ini membuat Gen Z lebih mudah mendapatkan informasi dan menyadari berbagai persoalan di sekitarnya. Namun di sisi lain, terlalu banyak informasi juga dapat menimbulkan tekanan karena seseorang merasa terus berhadapan dengan berbagai masalah yang terjadi di dunia.
Kekhawatiran terhadap Lingkungan
Isu lingkungan juga menjadi bagian dari pembicaraan mengenai masa depan Gen Z. Perubahan iklim, cuaca ekstrem, pencemaran lingkungan, dan berbagai persoalan ekologis membuat sebagian anak muda mempertanyakan kondisi bumi yang akan mereka tempati dalam beberapa dekade mendatang. Kekhawatiran tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk aksi besar. Dalam kehidupan sehari-hari, kepedulian terhadap lingkungan dapat terlihat melalui kebiasaan mengurangi penggunaan plastik, memilih transportasi tertentu, menggunakan kembali barang, hingga mengikuti kampanye lingkungan melalui media sosial. Bagi sebagian anak muda, persoalan lingkungan bukan hanya tentang kondisi bumi saat ini, tetapi juga tentang kualitas kehidupan yang akan mereka jalani di masa mendatang.
Bukan Berarti Gen Z Tidak Mau Berusaha
Anggapan bahwa Gen Z merupakan generasi yang mudah menyerah atau takut menghadapi kehidupan perlu dilihat secara lebih luas. Sikap berhati-hati terhadap masa depan tidak otomatis menunjukkan seseorang tidak memiliki keberanian. Sebagian anak muda justru berusaha mencari cara baru untuk menghadapi perubahan. Mereka mengikuti pelatihan, membangun usaha kecil, mempelajari teknologi, mencari pekerjaan sampingan, mengembangkan kemampuan digital, hingga memanfaatkan media sosial sebagai ruang untuk mendapatkan peluang. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap masa depan dapat berjalan berdampingan dengan usaha untuk menghadapinya. Mereka menyadari bahwa dunia berubah dan kemampuan untuk beradaptasi menjadi semakin penting.
Generasi yang Mempertanyakan Banyak Hal
Berbeda dengan anggapan bahwa anak muda hanya mengikuti keadaan, Gen Z juga dikenal lebih terbuka dalam mempertanyakan berbagai hal yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi mereka. Pertanyaan mengenai keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, kesehatan lingkungan, kesetaraan kesempatan, kondisi ekonomi, hingga penggunaan teknologi menjadi bagian dari percakapan generasi ini. Pertanyaan tersebut tidak selalu berarti penolakan terhadap kehidupan yang sudah ada. Dalam banyak kasus, pertanyaan justru muncul karena mereka ingin mengetahui apakah sistem yang dijalankan saat ini masih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Tantangan Tidak Hanya Menjadi Tanggung Jawab Gen Z
Persoalan yang dihadapi Gen Z juga tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada generasi tersebut. Kondisi ekonomi, pendidikan, lapangan kerja, lingkungan, dan perkembangan teknologi merupakan persoalan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, keluarga, dan masyarakat memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak muda berkembang. Pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, kesempatan kerja yang layak, perlindungan sosial, serta kebijakan lingkungan merupakan beberapa aspek yang dapat memengaruhi masa depan generasi muda. Dengan demikian, pembicaraan tentang Gen Z seharusnya tidak berhenti pada label seperti "generasi lemah", "generasi takut", atau "generasi mudah menyerah".
Melihat Masa Depan dengan Lebih Realistis
Gen Z tumbuh dalam situasi ketika berbagai persoalan dunia dapat dilihat secara langsung melalui teknologi. Mereka mengetahui bahwa masa depan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana dan bahwa perubahan dapat terjadi dengan cepat. Karena itu, sikap waspada terhadap masa depan tidak selalu berarti pesimis. Dalam beberapa kondisi, sikap tersebut justru menunjukkan kesadaran terhadap keadaan yang sedang dihadapi. Gen Z mungkin tidak ingin mewarisi persoalan yang sama tanpa mempertanyakannya. Mereka ingin mendapatkan kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih aman, stabil, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kalimat "Gen Z bukan penakut" bukan berarti generasi ini tidak memiliki rasa takut. Justru karena menyadari banyaknya tantangan yang ada, mereka memilih untuk mempertanyakan, mempersiapkan diri, dan mencari cara menghadapi perubahan. Dunia yang mereka hadapi memang tidak sempurna. Namun, kesadaran terhadap berbagai persoalan tersebut juga dapat menjadi titik awal bagi generasi muda untuk ikut memperbaiki keadaan, bukan sekadar menerima apa yang sudah diwariskan.
