Konten dari Pengguna

Life After Break Up: Ketika Anak Muda Belajar Menata Hidup dan Move On

Bunga Maulida Risma

Bunga Maulida Risma

Ilmu komunikasi universitas pancasakti tegal

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bunga Maulida Risma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Putus cinta bukan hanya tentang berakhirnya sebuah hubungan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang harus menata kembali kehidupannya. Bagi sebagian anak muda, life after break up menjadi proses yang tidak mudah karena mereka harus beradaptasi dengan perubahan rutinitas, hilangnya komunikasi dengan pasangan, hingga menghadapi rasa kehilangan dan kesepian.

Foto oleh Vitaly Gariev di Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Vitaly Gariev di Unsplash

Hubungan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dapat berubah secara tiba-tiba setelah perpisahan. Kebiasaan bertukar pesan, melakukan aktivitas bersama, hingga berbagi cerita dengan pasangan tidak lagi dapat dilakukan seperti sebelumnya. Kondisi tersebut membuat seseorang membutuhkan waktu untuk move on dan menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.

Kehidupan Tetap Harus Berjalan

Meskipun mengalami putus cinta, kehidupan sehari-hari tetap berjalan. Mahasiswa tetap harus mengikuti perkuliahan dan menyelesaikan tugas, pekerja tetap memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaannya, serta setiap orang tetap harus menjalankan perannya dalam keluarga dan lingkungan sosial.

Dalam proses healing setelah putus cinta, setiap orang memiliki cara yang berbeda. Ada yang memilih menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman, kembali melakukan hobi, lebih fokus pada pendidikan atau pekerjaan, dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima perpisahan.

Perasaan sedih, kecewa, marah, kehilangan, dan kesepian juga dapat muncul setelah hubungan berakhir. Namun, proses tersebut tidak sama bagi setiap orang. Ada yang dapat beradaptasi dalam waktu singkat, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih panjang.

Foto oleh Adrian Swancar di Unsplash

Media Sosial dan Tantangan untuk Move On

Perkembangan media sosial juga membuat proses move on menjadi semakin kompleks. Setelah hubungan berakhir, seseorang masih dapat menemukan foto, unggahan, maupun aktivitas mantan pasangan di media sosial.

Hal tersebut membuat hubungan yang secara langsung telah berakhir masih dapat terlihat melalui ruang digital. Akibatnya, seseorang dapat kembali teringat pada hubungan sebelumnya ketika melihat konten yang berkaitan dengan mantan pasangan.

Karena itu, move on bukan sekadar melupakan seseorang. Proses tersebut juga berkaitan dengan bagaimana seseorang membangun kembali rutinitas, mengatur kehidupan sosial, dan beradaptasi dengan perubahan setelah hubungan berakhir.

Foto oleh Marco Bianchetti di Unsplash

Dukungan dari Orang Terdekat

Dukungan dari keluarga dan teman dapat menjadi bagian penting dalam proses seseorang melewati masa setelah putus cinta. Memberikan ruang untuk bercerita, menemani melakukan aktivitas, atau sekadar memberikan dukungan dapat membantu seseorang menghadapi perubahan dalam kehidupannya.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua orang dapat langsung terlihat baik-baik saja setelah mengalami perpisahan. Setiap orang memiliki proses self healing yang berbeda. Oleh karena itu, seseorang tidak seharusnya dipaksa untuk segera melupakan hubungan yang telah berakhir.

Kembali Menemukan Kehidupan Sendiri

Pada akhirnya, life after break up bukan hanya tentang bagaimana melupakan mantan pasangan. Lebih dari itu, proses tersebut merupakan perjalanan untuk kembali menemukan rutinitas, membangun kehidupan sendiri, dan beradaptasi dengan perubahan.

Putus cinta memang dapat membawa perubahan dalam kehidupan seseorang. Namun, dengan waktu, dukungan dari orang terdekat, dan kesempatan untuk menjalani prosesnya sendiri, seseorang dapat perlahan kembali menjalani kehidupannya.

Move on bukan berarti melupakan seluruh masa lalu, tetapi belajar menerima bahwa kehidupan harus terus berjalan.