Konten dari Pengguna

Remaja dan Media Sosial: Muak Jadi Penonton Hidup Orang Lain

Bunga Simanjuntak

Bunga Simanjuntak

Mahasiswa Universitas Katolik Santo Thomas

·waktu baca 1 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bunga Simanjuntak tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Bunga Simanjuntak

"Ilustrasi oleh DALL·E”
zoom-in-whitePerbesar
"Ilustrasi oleh DALL·E”

Awalnya, media sosial seperti Instagram dan TikTok jadi hiburan manjur—bisa ngakak, terinspirasi, atau sekadar healing. Tapi lama-lama, bukannya senang, malah capek. Tiap scroll disuguhi pencapaian orang lain—liburan mewah, barang baru—dan kita mulai banding-bandingin hidup sendiri.

Media sosial pun berubah dari tempat ekspresi jadi ajang validasi. Kita sibuk tampil keren, bukan buat berbagi, tapi biar dianggap “update.” Scroll terus tanpa sadar, cuma buat ngisi kekosongan. Akhirnya overthinking: “Gue udah cukup keren belum sih?”

Banyak yang mulai rehat: uninstall, atur screen time, atau cuma buka DM. Hidup jadi lebih tenang, lebih fokus ke diri sendiri. Karena nggak semua hal harus di-post, dan nggak semua momen harus terlihat keren.

Kalau kamu mulai muak, itu bukan lemah—itu sadar. Sadar kalau kesehatan mental lebih penting dari validasi. Sadar kalau kita nggak harus selalu jadi konten. Diam dan jeda juga bagian dari merawat diri.