Konten dari Pengguna

Libur Sekolah Panjang, Perlukah Anak Tetap “Belajar”?

Fitri bunga silviana

Fitri bunga silviana

mahasiswa teknik kimia universitas pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fitri bunga silviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belajar bersama teman-teman saat istirahat , 10/12/25, foto: bunga silviana
zoom-in-whitePerbesar
Belajar bersama teman-teman saat istirahat , 10/12/25, foto: bunga silviana

Libur sekolah panjang hampir selalu menghadirkan dua respons yang berbeda. Bagi anak-anak, liburan identik dengan kebebasan dari rutinitas kelas dan tugas sekolah. Namun, bagi banyak orang tua dan guru, liburan justru memunculkan kegelisahan baru: apakah anak akan kehilangan kebiasaan belajar? Apakah mereka akan terlalu larut dalam gawai? Pertanyaan itulah yang kerap muncul setiap kali kalender pendidikan memasuki masa libur panjang: perlukah anak tetap belajar saat libur sekolah?

Sebagai orang tua, kekhawatiran tersebut terasa wajar. Setelah berbulan-bulan anak menjalani jadwal sekolah yang padat, muncul rasa takut jika jeda yang terlalu lama membuat mereka “kendor”. Tak sedikit orang tua yang kemudian mengisi liburan dengan les tambahan atau target akademik baru. Niatnya baik, agar anak tidak tertinggal. Namun, tanpa disadari, liburan yang seharusnya menjadi waktu pemulihan justru berubah menjadi perpanjangan tekanan belajar.

Dari sudut pandang guru, libur sekolah juga memiliki makna yang lebih kompleks. Guru memahami pentingnya menjaga kontinuitas belajar, tetapi di saat yang sama menyadari bahwa kelelahan mental siswa adalah persoalan nyata. Di ruang kelas, guru sering menjumpai anak-anak yang kehilangan motivasi bukan karena kurang cerdas, melainkan karena terlalu lelah. Dalam konteks ini, libur sekolah bukan ancaman bagi pembelajaran, melainkan bagian dari proses pendidikan yang sehat.

Persoalannya terletak pada cara kita memaknai belajar. Selama ini, belajar kerap disempitkan menjadi aktivitas akademik: membaca buku pelajaran, mengerjakan soal, dan mengejar nilai. Ketika aktivitas itu berhenti, liburan dianggap sebagai masa “tidak belajar”. Padahal, belajar sejatinya adalah proses yang jauh lebih luas dan tidak selalu berlangsung di dalam kelas.

Sebagai orang tua, mendampingi anak selama liburan membuka kesempatan melihat sisi lain dari proses belajar. Anak belajar ketika membantu pekerjaan rumah, mengatur waktu bermain, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, atau bahkan saat ia bertanya tentang hal-hal sederhana yang ditemuinya sehari-hari. Proses ini mungkin tidak menghasilkan nilai rapor, tetapi membentuk karakter, kemandirian, dan kepekaan sosial—hal-hal yang juga menjadi tujuan pendidikan.

Guru pun menyadari bahwa tidak semua kompetensi bisa ditanamkan lewat buku teks. Banyak nilai kehidupan justru tumbuh dari pengalaman langsung. Liburan memberi ruang bagi anak untuk belajar secara kontekstual, tanpa tekanan kurikulum. Dalam pandangan pendidik, anak yang kembali ke sekolah dengan kondisi mental lebih segar sering kali justru lebih siap menerima pelajaran.

Namun, libur sekolah juga tidak ideal jika dibiarkan tanpa arah. Orang tua kerap mengeluhkan anak yang sepanjang hari menatap layar gawai. Guru pun sering melihat dampaknya ketika sekolah kembali dimulai: konsentrasi menurun dan kebiasaan belajar terganggu. Di sinilah pentingnya pendampingan, bukan dalam bentuk paksaan belajar akademik, melainkan pengelolaan aktivitas yang seimbang.

Belajar saat liburan tidak harus identik dengan duduk berjam-jam mengerjakan soal. Membaca buku cerita, menulis pengalaman liburan, bermain permainan yang melatih logika, atau berdiskusi ringan tentang isu sehari-hari sudah cukup untuk menjaga daya pikir anak tetap aktif. Yang terpenting, anak merasa belajar sebagai aktivitas yang menyenangkan, bukan beban.

Libur sekolah juga menjadi momen penting untuk mengenali minat dan bakat anak. Banyak guru mengakui bahwa potensi siswa sering kali baru terlihat di luar ruang kelas. Ada anak yang gemar menggambar, menulis, memasak, atau berolahraga, tetapi tidak mendapat ruang optimal di sekolah. Liburan memberi kesempatan bagi orang tua untuk mengamati dan mendukung ketertarikan tersebut.

Di sisi lain, libur sekolah juga menyingkap persoalan kesenjangan. Tidak semua keluarga memiliki sumber daya yang sama untuk mengisi liburan anak secara produktif. Sebagian anak menikmati berbagai aktivitas edukatif, sementara yang lain hanya memiliki ruang terbatas. Dari perspektif guru, kondisi ini berpengaruh ketika siswa kembali ke sekolah dengan pengalaman yang sangat berbeda.

Karena itu, libur sekolah seharusnya menjadi perhatian bersama. Peran lingkungan, komunitas, dan fasilitas publik menjadi penting untuk menyediakan ruang belajar alternatif yang inklusif. Perpustakaan, taman baca, atau kegiatan komunitas dapat menjadi pilihan yang terjangkau dan bermakna bagi banyak keluarga.

Pada akhirnya, pertanyaan “perlukah anak tetap belajar saat libur sekolah?” tidak bisa dijawab secara hitam-putih. Anak memang perlu jeda dari rutinitas akademik, tetapi bukan berarti berhenti tumbuh dan belajar. Sebagai orang tua dan guru, tantangannya adalah menemukan keseimbangan: memberi anak waktu istirahat sekaligus ruang untuk tetap berkembang.

Libur sekolah panjang bukan musuh pendidikan. Ia justru kesempatan untuk memanusiakan proses belajar—membiarkan anak bernapas, bereksplorasi, dan kembali ke sekolah dengan semangat baru. Jika dimaknai dengan bijak, liburan dapat menjadi bagian penting dari pendidikan yang utuh dan berkelanjutan.