Konten dari Pengguna

Kapolri Baru dan Harapan Publik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Alfin Rinaldinsyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kapolri baru dan harapan publik terhadap pelayanan serta penegakan hukum yang lebih baik.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kapolri baru dan harapan publik terhadap pelayanan serta penegakan hukum yang lebih baik.

Pelantikan Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia pada 1 Oktober 2026 membuka satu pertanyaan penting bagi publik. Apa yang sungguh-sungguh baru dari pergantian Kapolri? Pertanyaan itu layak diajukan sebab pergantian pimpinan di tubuh Polri selalu datang bersama harapan besar, sementara masyarakat menilai perubahan lewat pengalaman sehari-hari. Warga berhadapan dengan polisi saat melapor, mencari perlindungan, mengurus perkara, atau meminta kepastian. Dari ruang-ruang itulah kepercayaan tumbuh atau runtuh. Masa jabatan baru Suyudi akan dibaca melalui pengalaman konkret semacam itu.

Suyudi memulai tugas dengan menekankan konsolidasi internal, pelayanan publik, penegakan hukum yang adil, dan kedekatan dengan masyarakat. Program Polisi Bersama Masyarakat menjadi penanda arah awal kepemimpinannya. Pilihan ini penting sebab persoalan utama Polri hari ini tidak hanya menyangkut kemampuan menjaga keamanan, melainkan juga kualitas hubungan dengan warga. Polisi memiliki kewenangan besar sekaligus hadir sangat dekat dengan kehidupan publik. Setiap keputusan di ruang penyidikan, jalan raya, kantor pelayanan, hingga penanganan demonstrasi langsung membentuk penilaian masyarakat terhadap institusi.

Harapan baru terhadap Suyudi sebaiknya diletakkan di titik tersebut. Pengalaman panjang di bidang reserse, kepemimpinan kewilayahan, serta jabatan sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional memberi bekal memahami kerja kepolisian dari berbagai sisi. Bekal itu berharga jika diterjemahkan menjadi arah kerja yang lebih tajam. Tugas pertama bukan membangun citra baru, melainkan memastikan warga merasakan cara kerja yang lebih pasti, cepat, dan adil. Reputasi seorang Kapolri tidak dibentuk oleh pidato pertama setelah pelantikan. Reputasi lahir dari mutu keputusan organisasi yang terus berulang sampai tingkat paling bawah.

Di sinilah gagasan Polisi Bersama Masyarakat memperoleh relevansi. Kedekatan tidak cukup diwujudkan melalui pertemuan seremonial, kunjungan, atau kampanye komunikasi. Masyarakat membutuhkan polisi yang mudah ditemui saat masalah muncul, responsif terhadap laporan, jelas dalam memberi informasi, dan terukur dalam menggunakan kewenangan. Warga juga perlu tahu ke mana harus mengadu jika pelayanan buruk atau aparat bertindak melampaui batas. Kedekatan baru memiliki arti jika hubungan polisi dan masyarakat menghasilkan rasa aman sekaligus kepastian bahwa setiap orang diperlakukan dengan hormat.

Mengukur Harapan Baru

Pelayanan publik menjadi ujian paling nyata. Banyak orang mengenal Polri bukan melalui operasi besar, tetapi melalui meja laporan, ruang pemeriksaan, layanan lalu lintas, atau petugas di lingkungan tempat tinggal. Kualitas perjumpaan tersebut menentukan kesan terhadap institusi jauh lebih kuat daripada slogan apa pun. Kapolri baru dapat menjadikan pengalaman warga sebagai ukuran kinerja. Waktu respons, kepastian perkembangan perkara, cara korban diperlakukan, penyelesaian pengaduan, dan disiplin petugas perlu memperoleh perhatian yang sama seriusnya dengan jumlah perkara yang berhasil diungkap.

Ukuran semacam itu penting supaya reformasi tidak berhenti di pusat. Polri merupakan organisasi besar dengan rantai komando panjang dan kondisi wilayah yang berbeda-beda. Keputusan Kapolri baru akan berarti jika diterjemahkan menjadi standar pelayanan yang konsisten dari Mabes sampai kepolisian sektor. Di titik inilah konsolidasi internal yang disebut Suyudi perlu diarahkan. Evaluasi organisasi seharusnya mampu menunjukkan unit yang bekerja baik, bagian yang tertinggal, serta persoalan yang terus berulang. Publik kemudian dapat melihat perubahan melalui hasil, bukan hanya melalui pernyataan resmi.

Pergantian kepemimpinan juga tidak perlu dibaca sebagai pemutusan total dari periode sebelumnya. Polri membawa program, struktur, dan kebiasaan kerja yang telah terbentuk lama. Kapolri baru justru dituntut memilah secara jernih apa yang patut diteruskan, apa yang perlu dikoreksi, dan apa yang harus dihentikan. Sikap semacam ini lebih penting daripada keinginan menampilkan identitas baru secepat mungkin. Publik membutuhkan kesinambungan pada hal yang bekerja baik sekaligus keberanian membenahi bagian yang selama ini menimbulkan keluhan.

Arah tersebut akan lebih meyakinkan jika disertai keberanian membuka hasil evaluasi kepada masyarakat. Transparansi bukan sekadar mempublikasikan kegiatan, melainkan menyediakan informasi yang memungkinkan publik menilai kinerja. Polri dapat memperlihatkan perkembangan penyelesaian pengaduan, mutu pelayanan, tindak lanjut pelanggaran disiplin, serta capaian perbaikan di berbagai wilayah. Informasi seperti itu membuat hubungan dengan masyarakat lebih dewasa. Kepercayaan tidak diminta, melainkan diperoleh melalui bukti yang dapat diperiksa secara berkala dan mudah dipahami.

Ilustrasi. Penyampaian aspirasi di ruang publik menjadi salah satu ujian bagi hubungan Polri dan masyarakat.

Kepercayaan sebagai Ujian

Penegakan hukum yang adil menjadi bagian kedua yang tidak dapat dipisahkan dari agenda tersebut. Keadilan dalam kerja kepolisian tidak berhenti pada hasil akhir perkara. Prosedur, perlakuan terhadap warga, keterbukaan informasi, dan konsistensi penggunaan kewenangan sama pentingnya. Polisi bekerja di ruang yang sering menuntut keputusan cepat. Ruang diskresi seperti itu memerlukan pengawasan yang kuat. Ketidakadilan dalam satu perkara dapat menjalar menjadi ketidakpercayaan terhadap institusi. Sebaliknya, proses yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan memberi dasar bagi publik untuk menerima keputusan, termasuk keputusan yang tidak selalu menyenangkan semua pihak.

Kepemimpinan baru juga perlu memperkuat cara Polri menghadapi kritik. Institusi yang sehat tidak menganggap kritik sebagai ancaman terhadap kewibawaan. Kritik justru sering menunjukkan bagian yang tidak terlihat dari meja pimpinan. Keluhan tentang laporan yang lambat ditangani, perilaku aparat, atau prosedur yang berbelit memberi informasi mengenai kualitas pelayanan di lapangan. Mekanisme pengaduan yang mudah, tindak lanjut yang jelas, dan penanganan pelanggaran yang terbuka dapat menjadi bagian penting dari Polisi Bersama Masyarakat. Kedekatan membutuhkan kesediaan mendengar, bukan sekadar kemampuan berbicara kepada publik.

Agenda keamanan tentu tetap menjadi tugas utama. Pemerintah memberi perhatian pada narkotika, penyelundupan, judi daring, dan bentuk kejahatan lain yang meresahkan masyarakat. Pengalaman Suyudi di BNN memberi bekal penting untuk menghadapi tantangan tersebut. Penindakan terhadap kejahatan terorganisasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan layanan kepolisian sehari-hari. Masyarakat membutuhkan Polri yang mampu bekerja pada dua tingkat sekaligus, tegas terhadap kejahatan dan hadir secara profesional saat warga membutuhkan bantuan.

Harapan terhadap Kapolri baru, dengan demikian, tidak perlu dibangun melalui sanjungan. Suyudi justru akan lebih kuat jika publik menaruh harapan berdasarkan agenda yang dapat diuji. Polisi Bersama Masyarakat memberi arah awal yang menjanjikan karena menyentuh persoalan paling mendasar, yaitu hubungan antara kewenangan dan kepercayaan. Pelayanan yang lebih baik, penegakan hukum yang adil, pengawasan internal yang tegas, serta keterbukaan terhadap kritik dapat membuat agenda itu terasa nyata dalam kehidupan warga.

Masa jabatan baru ini memberi kesempatan bagi Polri untuk memperkuat kembali kepercayaan publik melalui pekerjaan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari. Ukurannya tidak rumit. Warga ingin laporan ditangani dengan sungguh-sungguh, proses hukum dijelaskan dengan terang, korban dilindungi, aparat bertindak terukur, dan pelanggaran ditindak secara konsisten. Jika arah itu dijaga, Suyudi dapat memberi arti pada gagasan tentang harapan baru. Bukan harapan yang lahir dari pergantian nama, melainkan harapan yang memperoleh dasar dari perubahan cara polisi bekerja.