Sekolah Daring Haruskah Bikin Orang Tua Darting?
Tulisan dari Butet RSM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Apa cuma guwe yang gak tahu pembelajaran daring itu apa, Mak?” Begitu bunyi status Facebook teman saya. Tanda bahwa masih ada yang belum mengerti arti kata daring. Buat para penggemar KBBI tentu sudah karib dengan kata daring, luring, dan gawai. Tapi buat sosok emak seperti teman saya, yang sehari-hari pikirannya sudah penuh dengan persoalan ekonomi dan ketahanan pangan rumah tangga, boro-boro update kata baku, mikir besok mau masak apa aja udah pening.
Pertanyaan teman saya itu membuat saya berpikir bahwa sekolah daring akan membuat banyak orang tua menjadi pusing. Apalagi jika punya lebih dari satu anak yang harus mengikuti pembelajaran daring dari rumah. Jika anak sudah cukup mandiri dalam belajar, beban terberat orang tua adalah menyediakan fasilitas berupa gawai dan kuota.
Seperti asisten rumah tangga kami, kedua anaknya sudah SMA. Kemarin hanya pusing memikirkan uang seragam, kini kembali pusing karena kedua anak minta pemisahan gawai. Alasannya karena keduanya butuh menggunakan gawai di saat yang sama. Jadi ya nggak mungkin gantian.
Lain halnya dengan orang tua dengan anak yang masih butuh pendampingan penuh. Bisa sih pakai satu perangkat, namun orang tua dituntut kreatif mengatur jadwal supaya setiap anaknya mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyimak pembelajaran dan sigap membuat laporan capaian harian ataupun tugas. Kesulitan bertambah jika ponsel yang dimiliki tak hanya digunakan untuk kegiatan belajar secara daring, namun juga dipakai untuk mengelola online shop. Bisa-bisa mau kirim tugas malah salah kirim totalan tagihan ke Bu guru.
Kegiatan sekolah daring yang masih tergolong baru dan belum ada standar bakunya ini membuat banyak orang tua harus bekerja keras mengejar standar capaian versi mereka dengan diri mereka sendiri sebagai fasilitator utama. Standar capaian versi orang tua biasanya ya nggak jauh dari kata ‘pokoknya'. Pokoknya anakku harus bisa nulis. Pokoknya anakku harus bisa baca. Pokoknya anakku harus bisa mengerjakan tugas. Pokoknya anakku harus… lanjutkanlah sendiri….
Dengan aneka ‘pokoknya', benturan antara anak dan orang tua sudah pasti terjadi di banyak keluarga. Problem umum yang ditemukan adalah anak sulit memahami materi dari pemaparan orangtuanya. Bisa jadi, penyebabnya adalah orang tua tidak punya bekal cara mengajar, tidak seperti para guru. Kalau cara menghajar sih, sedihnya, pasti masih banyak orang tua yang mahir. Benar bahwa orang tua adalah makhluk hidup paling berkewenangan terhadap anak, benar pula bahwa orang tua adalah salah satu makhluk hidup yang paling sok tau tentang anaknya.
Kesulitan nyata yang sudah ada sejak sebelum pandemi adalah tentang durasi penggunaan gawai. Bisa saja terjadi peristiwa saling tawar seperti di emperan toko kawasan Malioboro. Namun orang tua yang sudah lelah, akhirnya memberikan waktu ekstra bermain gawai begitu saja daripada capek ngotot tawar menawar dengan anaknya sendiri. Padahal dengan mencla-menclenya orang tua, kelak akan menimbulkan sikap tidak respek, sama seperti kita yang tidak respek dengan mencla-menclenya kebijakan pemerintah tentang banyak hal.
Kesulitan lain yang sudah terpampang nyata adalah untuk anak yang menginjak tahapan baru. Misalnya saja yang baru masuk SD. Orang tua tidak sabar kok anaknya masih enggan menulis. Dikasih contoh menulis hal yang disukai seperti kata para ahli juga belum berhasil. Padahal sampai mahasiswa pun polanya juga begitu, disuruh memilih topik skripsi sesuai minat namun akhirnya mangkrak juga tak kunjung kelar.
Permasalahan utama yang ada memang mendasar sekali, orang tua merasa tak memiliki kemampuan mengajar seperti yang dimiliki para guru. Bisa dimaklumi juga karena tidak semua orang tua memiliki skill dasar dalam mengajar, yaitu berkomunikasi dengan baik.
Meski dasar dari pendidikan pasti dimulai dari rumah, dari lingkungan yang paling dekat dengan anak. Namun tak membuat orang tua otomatis punya skill mengajar. Seringkali sejak dini anak-anak diharapkan untuk segera bisa mandiri dan seolah tumbuh sendiri. Orang tua selalu menggambarkan betapa bahagianya melihat anaknya bisa berjalan sendiri, makan sendiri, mandi sendiri. Seolah melakukan apapun sendirian adalah kemenangan dari suatu perlombaan.
Bangga sekali ketika anak mulai berangkat ke sekolah, menghabiskan waktu di sekolah dan tempat kursus dengan alasan demi masa depan yang gemilang. Tidak salah memang, bekal apa sih yang bisa diberikan orang tua selain fasilitas yang banyak supaya nantinya anak bisa berada di jajaran manusia sukses. Bukankah kata mereka privilej adalah koentji?
Kesulitan yang hadir dalam proses capaian akademik selalu berusaha diselesaikan dengan fasilitas yang dianggap mumpuni. Ketinggalan pelajaran, panggil guru les privat. Tidak bisa berenang, daftarkan les renang. Ingin anak jago ngoding, ikutkan kursus pemrograman untuk anak. Lalu di mana orang tua saat sumber daya anak dimaksimalkan diasah? Nunggu di kafe dekat tempat les atau kerja keras bagai kuda untuk mendapatkan uang sebagai bayaran atas privilej bagi anak.
Semua untuk mimpi-mimpi kita tentang kehidupan yang lebih baik. Makin banyak skill maka makin punya peluang untuk sukses di masa depan. Seperti togel, makin banyak beli nomer ya potensi menangnya makin tinggi. Seperti itulah cara berpikir kebanyakan dari kita. Sampai akhirnya Covid-19 datang menghantam. Menghancurkan kebiasaan kita mengandalkan orang lain untuk hadir bagi anak sebagai pengajar.
Pusing, bingung, frustasi, dan mungkin ada yang sampai darah tinggi saat mendampingi anaknya belajar. Lalu merasa tertampar ketika membaca banyaknya webinar berjudul : ‘Anak Bukan Beban', ‘Mendidik Anak dari Rumah dengan Gembira’. Kita sedang beramai-ramai mencoba pendidikan alternatif yang mendekatkan hubungan anak dengan orang tua, namun tak kunjung dapat kliknya.
Ada yang mulai berharap pandemi segera berakhir, supaya bisa kembali menitipkan anak pada lembaga pendidikan. Alih-alih berusaha menjadi fasilitator dan guru terbaik untuk anak kita memilih menitipkan anak agar kembali bisa fokus bekerja, mencari berlian dan uang untuk membayar privilej terbaik yang bisa disediakan untuk anak. Demi kehidupan yang lebih baik, demi masa depan anak, dalih kita.
Padahal dengan sekolah daring, orang tua berkesempatan untuk kembali membangun bonding dengan anak. Jadi hantaman Covid-19 yang membuat kita jumpalitan kaya Bruce Lee untuk penyesuaian ternyata bisa membuahkan hal positif juga, kalau mau disadari lho. Salah satunya kesempatan merebut kembali bonding dengan anak yang selama ini malah sering kita serahkan pada para guru.
Butet RSM, ibu tiga anak, tinggal di Bantul.

