Menghentikan Klitih

Pengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Konten dari Pengguna
11 Januari 2022 16:37
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Muhammad Zahrul Anam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menghentikan Klitih (25713)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Klitih. Foto: Maulana Saputra/kumparan
Yogyakarta darurat klithih. Demikian beberapa peringatan dini yang disampaikan melalui cuitan, status, atau tagar di media sosial. Klitih seakan menjadi antitesis dari Yogya yang adem ayem, tenteram, ramah, dan penuh kesopanan. Klitih telah mengubah wajah Yogyakarta.
ADVERTISEMENT
Klitih bukan sekadar aksi vandal dengan merusak fasilitas umum. Klitih serupa dengan aksi brutal di jalanan. Para pelakunya adalah anak-anak remaja. Mereka pergi bergerombol naik motor mencari target lemah. Orang yang menjadi target bisa siapa saja, laki-laki, perempuan, orang tua, atau sesama remaja. Korbannya acak.
Para korban seringkali tidak menyadari bahwa dirinya dijadikan target klitih secara spontan. Tiba-tiba dari arah belakang ada salah seorang anggota klitih yang mengayunkan senjata tajam. Tanpa persiapan, para korban menderita luka yang boleh jadi serius. Ini terjadi di malam hari atau bahkan siang hari di jalan-jalan yang relatif sepi.
Istilah klitih ini kemudian berkonotasi dengan perilaku ugal-ugalan sekelompok pemuda yang tidak segan-segan membacok targetnya di jalan. Ketika klitih ini terjadi di Yogyakarta, kota yang sementara ini dikenal mengagung-agungkan kesantunan, banyak orang menjadi heran tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi? Lalu, bagaimana mencegahnya?
ADVERTISEMENT

Yogyakarta: Multikulturalis yang Pragmatis

Dengan keberadaan dua universitas tertua di Yogyakarta yaitu, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia, sejak dahulu Yogyakarta adalah kota multikulturalis. Orang Yogya biasa bergaul dengan pendatang, demikian pula pendatang mulai menyesuaikan budaya Yogyakarta. Pemahaman kultural ini terjadi karena para mahasiswa itu hidup di kampung-kampung di tengah masyarakat. Mereka saling menghormati satu dengan lainnya.
Masyarakat belajar budaya terbuka. Tidak eksklusif. Mereka sadar bahwa jauh lebih menguntungkan bersikap inklusif sehingga lebih banyak orang tertarik datang belajar ke Yogyakarta. Semakin banyak mahasiswa, ekonomi masyarakat meningkat. Warung makan laris. Kos-kosan terisi. Bahkan, jemaah masjid kampung yang biasanya diisi para sesepuh mulai ramai karena ada mahasiswa.
Demikian pula dengan para pendatang, mereka banyak kearifan lokal dari penduduk. Bahkan, para pendatang mulai belajar bahasa lokal meskipun tujuannya supaya lancar menawar barang di pasar. Tetapi, apa pun alasannya, belajar Bahasa lokal bagi pendatang itu baik, setidaknya mereka mereka mulai mengerti budaya setempat. Mereka menjadi tahu, apa yang boleh dan tidak, apa yang pantas dan tabu, serta apa yang baik dan buruk.
ADVERTISEMENT
Akan tetapi, multikulturalisme di Yogyakarta mulai bergeser, kos-kosan yang dahulu hanya memanfaatkan rumah-rumah penduduk sekarang dibuat secara khusus dengan tarif sesuai kelasnya. Pemiliknya pun bukan lagi orang asli Yogyakarta. Mereka investor dari luar Yogyakarta. Harga kos-kosan ini tentu hanya mampu dibayar oleh kelas masyarakat tertentu saja. Selain kos-kosan dengan fasilitas serba “wah”, pembangunan hotel menjamur di mana-mana. Setiap liburan panjang, Yogyakarta kebanjiran wisatawan domestik. Bukankah ini berkah? Ya, berkah, tetapi jika tidak dikelola, wajah ramah Yogyakarta menjadi luntur. Segala sesuatunya ingin diubah menjadi mesin uang secara instan. Misalnya, berapa banyak orang harus keluar uang lebih banyak untuk sekadar bayar parkir dan makan di warung jalanan.
Ketika semuanya serba uang, muncullah penyakit-penyakit sosial di kota besar. Individualisme merebak. Kontrol sosial longgar. Akibatnya, kenakalan remaja bukan menjadi tanggung jawab sosial, melainkan beralih menjadi tanggung jawab aparat kepolisian. Sekolah pun hanya sibuk pada pencapaian prestasi akademik, sedikit perhatian pada materi etika atau akhlak. Maka, perilaku anak di luar sekolah terkadang sangat bertolak belakang dari apa yang telah dipelajarinya di sekolah.
ADVERTISEMENT

Mulai Menata Diri

Mustahil Yogyakarta kembali pada masa lalu yang penuh dengan keramahtamahan dan kesopansantunan. Yang sekarang perlu dilakukan adalah menata diri kembali. Para keluarga yang mempunyai anak-anak remaja di rumah mulai menata. Apa yang harus ditata? Ibadah anak-anak. Apa pun agamanya, ketakwaan kepada Tuhan haruslah ditanamkan sedini mungkin tanpa kecuali.
Kedua, menata pergaulannya. Ini yang sulit dilakukan, tetapi tidak ada pilihan lain jika klitih ingin ditangkal. Banyak anak-anak yang semula baik-baik berubah 180 derajat setelah berteman dengan orang-orang yang salah. Orang tua harus menjadikan dirinya teman bagi anak-anaknya. Akan lebih baik jika anak-anak menghabiskan banyak waktu bersama keluarga daripada asyik chatting dengan telepon genggam.
Ketiga, lingkungan sekolah harus menata diri. Prestasi akademik memang penting untuk sekolah. Tetapi, prestasi akademik bukan satu-satunya faktor kesuksesan. Justru, anak-anak harus dibekali dengan kecerdasan emosi. Kecerdasan model ini yang menurut riset jauh berpotensi membawa kesuksesan di masa depan.
ADVERTISEMENT
Keempat, masyarakat harus menata diri. Peduli tidak sama dengan ikut campur. Jika ada kelompok anak-anak muda berkendara secara bergerombol tidak jelas tujuannya. Apalagi, mereka hanya memainkan knalpot kendaraan. Masyarakat semestinya proaktif melaporkan hal itu ke pihak yang berwajib. Apabila, secara kebetulan anak-anak itu sebagai anggota masyarakat, maka tidak ada salahnya mereka disertakan dalam aktivitas-aktivitas kampung yang lebih positif.
Jika, semua pihak mulai menata diri, klitih di Yogyakarta akan semakin mudah ditanggulangi. Semoga.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020