Konten dari Pengguna

Mentalitas Korea vs Mentalitas Jepang dalam Duel Semifinal Piala AFF 2020

Muhammad Zahrul Anam

Muhammad Zahrul Anam

Pengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Zahrul Anam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pelatih Timnas Singapura Tatsuma Yoshida. Foto: AFF Suzuki Cup
zoom-in-whitePerbesar
Pelatih Timnas Singapura Tatsuma Yoshida. Foto: AFF Suzuki Cup

Jepang dalam Duel Semifinal Piala AFF 2020

Indonesia akhirnya menang dan masuk final. Dalam masa perpanjangan waktu 2x15 menit Indonesia bahkan dapat menambah perbendaharaan gol melalui kaki Egy Maulana Vikri dan gol bunuh diri pemain Singapura, Shawal Anuar dalam laga semifinal leg kedua antara timnas Indonesia melawan Singapura.

Semua penonton yang menyaksikan langsung pertandingan Sabtu malam 25 Desember 2021 pasti dak-dik-duk. Bagaimana tidak, pasukan Singapura yang sudah kehilangan dua pemainnya karena diganjar kartu merah justru mengungguli timnas Indonesia di akhir babak kedua.

Terus terang, saya langsung lemas. Rasa pesimistis mulai menyerang. Sebaliknya, saya melihat di layar kaca, penonton tuan rumah Singapura sudah gegap gempita ingin segera merayakan timnya masuk final. Pelatih timnas Singapura asal Jepang Tatsuma Yoshida sudah bisa tersenyum, wajahnya tidak lagi tegang. Kekecewaannya pada keputusan wasit yang mengeluarkan kartu merah untuk dua pemainnya terbayar lunas.

Saya menduga, timnas Singapura akan bermain-main di daerah pertahanan untuk menghabiskan waktu. Sementara itu, timnas Indonesia bermain dengan visi permainan yang sudah tidak jelas lagi. Mental mereka terpukul, karena tidak dapat memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk meraih kemenangan.

Saya yang menyaksikan pertandingan melalui siaran langsung hampir saja mematikan TV ketika pada menit-menit akhir babak kedua timnas Indonesia melakukan pelanggaran di kotak pinalti. Ini momen paling menegangkan. Jika bola berhasil masuk, maka timnas siap-siap angkat koper. Ini adalah momen kemenangan Singapura. Lebih dari 90% tendangan dari titik putih itu menghasilkan gol.

Ternyata, tendangan pinalti itu berhasil digagalkan penjaga gawang Indonesia, Nadeo. Dalam situasi yang benar-benar sulit dibayangkan, kondisi psikis penjaga gawang lebih berkecamuk dibandingkan dengan penendang. Bagaimana tidak, dia harus dapat membaca arah bola yang mungkin bergerak sangat liar.

Nadeo menjadi penentu apakah timnas Indonesia berhenti atau tetap lanjut. Saya bersyukur, timnas Indonesia seakan mendapatkan semangat baru setelah Nadeo mampu mempertahankan kedudukan imbang hingga wasit meniup peluit akhir babak kedua.

Pada babak perpanjangan, timnas Indonesia berhasil menambah koleksi gol. Sementara, timnas Singapura kembali mendapatkan musibah karena penjaga gawang harus diusir wasit dengan kartu merah setelah melanggar keras pemain Indonesia, Irfan Jaya.

Dalam laga semifinal itu, saya melihat kedua timnas Indonesia dan Singapura berhasil membangun mentalitas juang yang luar biasa. Boleh dibilang, laga antara Indonesia dan Singapura sesungguhnya laga mentalitas Korea vs mentalitas Jepang.

Kita dapat menyaksikan, timnas Singapura tetap memperagakan pola menyerang sekalipun kehilangan dua pemainnya. Mereka juga melakukan transisi bertahan yang baik, sehingga Shin Tae-yong harus memasukkan tiga pemain sekaligus untuk menambah ketajaman. Pelatih Korea itu memasukkan Elkan, Egi, dan Irfan. Selang tidak berapa lama, Evan juga masuk.

Kita dapat membayangkan, betapa hebat mentalitas Singapura, sehingga timnas Indonesia perlu memasukkan pemain-pemain berbahaya. Saya juga paham bahwa ini bagian dari strategi karena sebagian dari pemain sudah tidak produktif lagi. Lepas dari persoalan teknis, saya mengakui mentalitas timnas Singapura patut diacungi jempol.

Saya kemudian ingat dengan etos kerja Jepang yaitu, Bushido dan Ganbatte. Bushido itu merujuk pada etos kerja para ksatria. Bushido mengajarkan kegigihan dan keyakinan pada diri sendiri. Ganbatte bermakna tetap semangat dan melakukan terbaik. Dengan mentalitas ini, timnas Singapura tidak menundukkan kepala walaupun kalah jumlah pemain. Mereka tetap menyerang, melakukan terbaik, hasilnya mereka nyaris memenangkan laga.

Mentalitas yang dimiliki oleh timnas Indonesia tidak kalah hebat. Tidak kehilangan semangat juang walaupun tertinggal satu poin dari lawan. Bahkan, Nadeo pun masih dapat mengendalikan diri. Pertarungan Indonesia melawan Singapura bukan pertarungan teknis, tetapi pertarungan mentalitas.

Singapura yang dipandang kalah dengan cepat dapat membalikkan keunggulan dan memaksa Indonesia bermain dengan tambahan waktu. Indonesia yang juga nyaris kalah tetap mampu menjaga mentalitasnya hingga mampu menambah keunggulan.

Bagus Kahfi dan Shin Tae-yong saat laga Timnas U-23 vs Tajikistan, Selasa (19/10). Foto: PSSI

Mentalitas yang dibangun pelatih Shin Tae-yong adalah tetap fokus, tidak mudah terbawa emosi, kompetitif, dan produktif. Dahulu, Korea dijajah oleh Jepang. Setelah merdeka, orang-orang Korea ingin negaranya tidak kalah dengan Jepang. Maka, mereka berkomitmen bekerja lebih keras dan produktif dari Jepang.

Pelajaran agar tidak mudah kehilangan fokus dan emosional dipesankan Shin-Tae yong ketika laga terakhir melawan Malaysia pada babak penyisihan group. Akhirnya, Indonesia melaju sebagai juara group. Timnas harus tetap menjaga produktivitas. Oleh karena itu, timnas lebih unggul selisih gol dengan Vietnam.

Di laga semifinal ini, mentalitas Korea benar-benar diuji oleh Jepang yang pernah menjajahnya. Laga hidup mati yang menegangkan. Kedua tim tidak ingin mati cepat. Tidak kehilangan fokus walau harus melawan limit kelelahan fisik. Semua lini bekerja dengan keras. Shin Tae-yong tidak segan-segan langsung mengganti Ezra Walian dengan Saghara walaupun baru masuk beberapa menit di babak kedua pada leg pertama melawan Singapura di pertandingan semifinal.

Mentalitas inilah yang menjadi kunci keberhasilan timnas Indonesia mencapai babak final. Di babak final mentalitas Korea akan diuji lagi. Memang, di final, faktor teknis juga sangat menentukan. Tetapi, mentalitas menjadi modal utama menjadikan tim tidak mudah menyerah dan fokus berjuang. Semoga hasil positif selalu dapat diraih sesuai dengan harapan.

Hidup timnas Indonesia!