Konten dari Pengguna

Rimba Gelap di Depanmu

caknundotcom

caknundotcomverified-green

Dekonstruksi pemahaman nilai, pola komunikasi, pendidikan cara berpikir serta pengupayaan solusi masalah masyarakat.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari caknundotcom tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hutan. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hutan. (Foto: Pixabay)

(Proyeksi Tematik 1974-2019)

Loncat masuk!

Tidak mandek untuk berpikir

Karena berpikir tak berjodoh dengan kemandekan

Deras waktu mendesakmu

Kapal musnah terbakar

Di belakang punggungku

Api terus bernyala-nyala

Api terus berkobar, menjilat-jilat, meremuk masa silammu

Sedangkan gelombang samudera terus menderu, mengguncang setiap pertimbangan

Dan akan menerkam semua pengecut yang dungu, yang tertegun dan bimbang

Terjun! dan jangan bertanya

Mana jalan, berapa jauh tepian

Pertanyaan minta dibereskan dengan pertanyaan

Api yang memerah

Harus menjadi perlambang bagi panas jiwa menggelegak ke masa depan

Dan suara lautan adalah gemuruh semangat

Gelegak darah yang pantang bagai malaikat kegelapan

Bumi tanah airku, perempuanku tidak untuk dijabarkan

Adam tidak membiarkan matanya kosong bertanya-tanya kapan

Dan di mana berada gunung kenikmatan, tapi Hawa yang telanjang

Langsung diterkam dan diteguknya! Berkat tangan gelap Tuhan

Dan pecahlah keperawanan bumi

Kemudian bergulirlah sejarah di atas ladang-ladang misteri

Mengembarai cakrawala tak bertepi

Demikianlah tarekat kehidupan

Kau hadir dan berangkat begitu saja

Kekhawatiran, ketakutan, keasingan Yang terbungkus dalam tiap pengamatan

Itu sah dan sangat diperlukan

Tetapi ia akan selalu membusuk

Di setiap pagi tiba

Seseorang tidak boleh mati

Dipecundangi oleh akal, kalau kau jadikan ia pemimpinmu

Tidak. Akal adalah alatmu

Setiap kali ia menipiskan harapanmu

Kelupaslah lapisan yang baru

Seseorang harus tetap hidup

Kalau timbanganmu kaku

Kau akan terkencing-kencing

Lantas bersembunyi

Di belakang kata-kata manis

Yang kau pakai untuk menipu dirimu sendiri

Yang terdengar lunak di telinga khalayak

Tetapi di manakah kalimat sejati

Tuhan dengan firman-Nya yang hakiki

Kau selipkan, di tengah huru-hara kecemasan hatimu?

Di manakah Tuhan berjaga

Di lekukan kegelapan itu?

Para Malaikat mengurut butiran tasbih nasib manusia

Tuhan sendiri berjaga diam-diam

Tak kentara memainkan peran-Nya

Yang betapa mengasyikkan

Dan mengerikan

Sehingga kau berlindung di balik kata iman

Bersandar di kursi taqwa

Kata yang hanya kata

Kursi jadi-jadian

Perempuanku

Rakyat femininku

Tanah air pertiwiku

Warga derita Negeriku

Tetangga penderitaanku

Tak ada pemberhentian dalam kehidupan

Jalanan nasib kita tanpa terminal

Tak ada stasiun di kereta kecemasan kita

Tak ada istirahat bagi jantung perjuanganmu

Musik jiwa tak berbatas

Irama bumi gendang langit

Oktaf tak terhingga

Maiyah menembus kelam

Mengetuk setiap pintu

Membuka semua gerbang

Tidak lelah diguncang

Berdebar menanti jawaban

Kadipaten, Maret 1974

Kadipiro, November 2018