Konten dari Pengguna

Auditor sebagai Transformative Intellectual

Ruslan Effendi

Ruslan Effendi

Lulusan S3 Akuntansi Universitas Gadjah Mada.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruslan Effendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gears-head (Ilustrasi)/Image by dooder on Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Gears-head (Ilustrasi)/Image by dooder on Freepik

Praktik audit seringkali menjumpai laporan yang tampak canggih dan sarat data. Auditor menyampaikan temuan, menganalisis akar masalah, lalu mengajukan serangkaian rekomendasi kebijakan. Namun kenyataannya, banyak dari rekomendasi tersebut gagal mengubah situasi secara bermakna. Masalah berulang, program stagnan, dan reformasi macet di tengah jalan. Apa yang sesungguhnya terjadi? Alih-alih kesalahan teknis, seringkali penyebabnya adalah pendekatan audit yang terlalu dangkal secara ontologis—hanya menyentuh permukaan, tanpa menyelami struktur sosial, politik, dan ideologis yang menopang persoalan. Tulisan ini menawarkan lima pelajaran utama untuk memperkuat rekomendasi audit, sekaligus memperkenalkan beberapa konsep yang membantu menjernihkan arah transformasi kelembagaan.

1. Waspadai Reduksionisme Data

Salah satu kesalahan paling umum adalah memperlakukan indikator sebagai akar masalah. Ketika program tidak mencapai target, rekomendasi yang muncul adalah pelatihan, revisi regulasi, atau penambahan anggaran. Rekomendasi seperti Ini sebagai salah satu bentuk reduksionisme data—yakni menganggap gejala kuantitatif sebagai penyebab, bukan akibat dari struktur yang lebih dalam. Padahal, data hanyalah refleksi dari sistem insentif, disain kelembagaan, bahkan intervensi kebijakan sebelumnya. Tanpa membaca konteks struktural, rekomendasi menjadi normatif dan tidak menyentuh akar masalah.

2. Kritisi Asumsi Netralitas Struktur

Rekomendasi mengandaikan bahwa struktur organisasi adalah ruang netral yang bisa diperbaiki lewat SOP, alur kerja, atau pemangkasan birokrasi, apa ya, netral? Padahal, struktur organisasi—termasuk posisi unit pengawasan, peran satuan teknis, atau jalur pelaporan—seringkali dibentuk oleh relasi kuasa historis yang bersifat asimetri. Ada struktur dominasi yang membuat fungsi-fungsi strategis tertentu secara sistematis dilemahkan. Jika kita mengabaikan ini, maka kita justru memperkuat status quo di bawah jargon reformasi administratif.

3. Sadari Demi-Reality yang Menyesatkan

Seringkali Audit menciptakan "demi-reality"—yaitu gambaran realitas yang tampak rasional dan faktual, namun menutupi kompleksitas sosial-politik yang sebenarnya. Misalnya, ketika dikatakan bahwa “realisasi anggaran rendah karena lemahnya kapasitas pelaksana”, maka intervensi diarahkan pada pelatihan dan peningkatan kompetensi teknis. Padahal bisa jadi penyebab sebenarnya adalah konflik mandat antara pusat dan daerah, ketidaksesuaian regulasi, atau ketakutan birokrasi mengambil risiko dalam situasi politis yang tidak stabil. Demi-reality berfungsi sebagai narasi menenangkan yang justru mengaburkan problem struktural yang sesungguhnya. Contoh lain adalah rekomendasi audit yang menyarankan “peningkatan koordinasi antar-Kementerian” tanpa membedah mengapa koordinasi selama ini gagal dilakukan. Padahal bisa jadi akar masalahnya terletak pada konflik mandat kelembagaan, absennya mekanisme pengambilan keputusan kolektif, atau insentif fiskal yang tidak mendukung kolaborasi. Rekomendasi semacam ini hanya menenangkan secara retoris, tetapi tidak menyentuh struktur generatif yang menghasilkan fragmentasi birokrasi. Demi-reality seperti ini memperkuat status quo, bukan menantangnya.

4. Gunakan Lensa Transfaktualitas, Melihat yang Tak Terlihat

Konsep transfaktualitas menjelaskan bahwa suatu peristiwa bisa disebabkan oleh mekanisme kausal yang tidak langsung terlihat atau bahkan tidak terjadi secara aktual. Artinya, apa yang tampak di permukaan hanyalah hasil dari kerja struktur, norma, atau logika kebijakan yang bekerja di balik layar. Misalnya, jika unit pelaksana di lapangan lamban merespon program, bisa jadi ini bukan semata soal etos kerja. motivasi, tapi karena struktur insentif membuat mereka tidak memperolah manfaat atau perlindungan dari keputusan tersebut. Audit harus mampu membaca dan mengungkap mekanisme kausal semacam ini, bukan sekadar mengukur indikator hasil.

5. Gunakan Kerangka Stratifikasi Realitas

Untuk memahami kompleksitas persoalan, penting membedakan tiga lapisan realitas. Pertama, empiris atau apa yang teramati—data, laporan, peristiwa. Kedua, aktual, apa yang benar-benar terjadi—kejadian di lapangan, praktik organisasi. Terakhir, real atau struktur dan mekanisme penyebab yang tidak selalu terlihat, tetapi memproduksi kejadian-kejadian tersebut—misalnya relasi kuasa, disain kelembagaan, atau ideologi kebijakan. Audit bisa jadi hanya bermain di lapisan empiris, atau agak meningkat ke level aktual, namun tidak menyentuh lapisan real. Di sinilah kegagalan diagnosis sering terjadi. Auditor harus melatih diri untuk menggali lebih dalam, hingga ke struktur yang bersifat generatif, yaitu penyebab dari penyebab.

Menjadi Transformative Intellectual

Agar rekomendasi benar-benar mengubah, dibutuhkan pergeseran peran dari Auditor sebagai teknokrat menjadi transformative intellectual—yakni auditor yang tidak hanya menyampaikan analisis, tetapi juga menantang struktur dan kebijakan yang menciptakan ketimpangan dan stagnasi. Transformative intellectual adalah mereka yang menolak untuk hanya melaporkan apa yang salah, tetapi juga berani menunjukkan mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana memperbaikinya secara struktural, meskipun itu berarti mengkritisi kerangka kebijakan yang dominan.

Emansipasi Institusional

Tujuan akhir dari audit bukan hanya efisiensi, bukan pula hanya kepatuhan. Tujuannya adalah emansipasi institusional, yaitu membebaskan organisasi dari jebakan mandat yang saling bertentangan, struktur yang disfungsional, dan logika kebijakan yang membuatnya gagal memenuhi harapan publik.. Audit emansipatoris tidak hanya menyoroti kesalahan teknis, tetapi juga menawarkan ruang baru untuk berpikir dan bertindak secara kolektif—sehingga lembaga dapat menjalankan perannya secara bermakna dan berkelanjutan. Rekomendasi yang kuat bukan yang terdengar cepat dan operasional, tetapi yang mampu membaca secara dalam, menyeluruh, dan reflektif. Kita butuh auditor yang tak sekadar menyusun daftar temuan, tapi mampu menjadi penggerak perubahan struktural. Karena pada akhirnya, reformasi sejati tidak dimulai dari tabel indikator, tetapi dari keberanian membaca dan mengubah dunia sebagaimana adanya.

Renungan: Ketika situasi terlihat biasa-biasa saja, ada urgensi untuk bertanya, apa sejatinya yang tersembunyi di balik kenyataan?.