Perempuan dan Subak: Merawat Alam, Menantang Ketimpangan

Sociology Student Brawijaya University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Shintya Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah hamparan sawah hijau Bali yang teratur rapi oleh sistem irigasi Subak, tersembunyi kisah perempuan-perempuan yang selama ini lebih banyak terdengar dalam doa dan sesajen daripada dalam rapat pengambilan keputusan. Mereka ada di mana-mana—menyemai benih, mengatur sesajen di pura Subak, hingga menjaga harmoni antara manusia dan alam. Namun di atas kertas, nama mereka sering kali tak tercantum sebagai anggota resmi Subak.
Subak: Sistem yang Lebih dari Sekadar Irigasi
Subak bukan hanya sistem pengairan. Ia adalah sistem kehidupan yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, Tuhan, dan alam. Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO, Subak merupakan cermin kearifan lokal masyarakat Bali dalam mengelola air secara kolektif dan berkelanjutan. Namun, filosofi luhur itu ternyata belum menjangkau semua lapisan masyarakat secara setara, terutama perempuan.
Kontribusi Tak Kasatmata
Perempuan Bali memainkan peran sentral dalam keberlangsungan Subak. Mereka bertanggung jawab terhadap pelaksanaan ritual seperti Tumpek Wariga dan Tumpek Uduh, menyiapkan banten (sesajen), hingga merawat Pura Bedugul, pusat spiritual Subak. Mereka juga terlibat dalam aktivitas pertanian sehari-hari, mulai dari menanam, memanen, menyimpan benih, hingga mencatat distribusi air—meskipun secara informal.
Namun kontribusi ini kerap dianggap bagian dari tugas rumah tangga, bukan kerja produktif. Sistem keanggotaan Subak yang berbasis kepemilikan lahan, ditambah sistem pewarisan patrilineal di Bali, membuat banyak perempuan tidak diakui secara formal dalam organisasi Subak, meskipun mereka bekerja penuh di sawah keluarga.
Ekofeminisme: Alam dan Perempuan dalam Satu Napas
Melalui pendekatan ekofeminisme, kita bisa memahami bahwa peran perempuan dalam Subak bukan hanya budaya, tapi juga strategi keberlanjutan. “Perempuan adalah penjaga ekosistem lokal,” tulis Vandana Shiva, pelopor gerakan ini. Mereka tidak hanya bekerja dengan tanah dan air, tapi juga mewarisi pengetahuan lintas generasi soal waktu tanam, kesuburan tanah, hingga etika terhadap alam.
Jika Subak ingin bertahan menghadapi tantangan modern seperti alih fungsi lahan, perubahan iklim, dan migrasi tenaga kerja, maka perempuan perlu dilibatkan sebagai aktor strategis, bukan sekadar pendukung.
Perubahan dari Akar Rumput
Meski perlahan, angin perubahan mulai berembus. Di Pupuan dan Karangasem, muncul kelompok Subak Perempuan yang aktif dalam pertanian organik dan pelestarian benih lokal. Di Jatiluwih, pemimpin adat mendorong partisipasi perempuan dalam rapat Subak. Bahkan Kementerian ATR/BPN kini mengupayakan reforma agraria berbasis gender, agar perempuan bisa memiliki lahan atas nama mereka sendiri.
Bali Sruti dan Yayasan Wisnu menginisiasi pelatihan kepemimpinan bagi perempuan petani, membekali mereka dengan ilmu manajemen air, pertanian berkelanjutan, dan hak agraria. Program ini tak hanya memberdayakan, tetapi juga membuktikan bahwa kesetaraan gender bisa berjalan selaras dengan kearifan lokal.
Menuju Subak yang Inklusif
Jika filosofi Tri Hita Karana sungguh dijalankan, maka relasi sosial yang harmonis tidak boleh melupakan keadilan gender. Subak akan semakin kuat jika mampu membuka ruang partisipasi bagi semua, termasuk perempuan, untuk turut mengambil keputusan, mengelola air, dan menjaga keseimbangan dengan alam.
Kini saatnya melihat perempuan bukan hanya sebagai pelengkap dalam sistem Subak, tetapi sebagai penjaga, pemimpin, dan penggerak perubahan. Karena pelestarian budaya tak bisa dipisahkan dari keadilan sosial.
