Perspektif Ontologi Nanopartikel dalam Terapi Kanker

Mahasiswa Percepatan Sarjana-Magister Program Studi Kimia UNS
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Callysta Fiorenza S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ontologi Nanopartikel dalam Terapi Kanker: Zat Kimia Baru atau Transformasi dari Materi Lama ?

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian di Dunia, menurut Data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2022, terdapat kasus baru penyakit kanker telah mencapai hampir 20 juta jiwa, dengan angka kematian mencapai sebesar 10 jura jiwa. Kanker merupakan salah satu penyakit yang paling kompleks dan mematikan di dunia, ditandai oleh pertumbuhan sel yang tidak terkendali dan kemampuan untuk menghindari regulasi biologis.
Upaya pengobatan kanker menghadapi tantangan besar, terutama terkait keterbatasan obat konvensional yang sering menimbulkan efek samping dan kurang selektif terhadap sel sehat. Dalam konteks inilah, nanoteknologi hadir sebagai pendekatan inovatif, menawarkan sistem penghantaran obat (drug delivery) yang lebih selektif, terapi fototermal berbasis nanopartikel emas, hingga metode imaging / pencitraan yang baik.
Namun, di balik keberhasilan teknologi nano dalam bidang biomedis, muncul pertanyaan filsafat yang lebih mendasar: apa sebenarnya status nanopartikel dalam kimia? Apakah ia sekadar transformasi materi lama dengan hukum yang sama, atau justru entitas baru dengan sifat ontologis berbeda?
Pertanyaan ini penting karena menyentuh jantung filsafat kimia, yakni bagaimana kita memahami “realitas zat” dalam ilmu pengetahuan.
Dalam artikel ini, penulis akan menganalisis status ontologis nanopartikel dalam terapi kanker dengan meninjau sifat uniknya, membandingkan perspektif reduksionisme dan emergensi, serta menilai implikasi ilmu filsafat yang muncul dari pemanfaatannya.
Kerangka Filsafat dan Konteks Kimia
Dalam filsafat kimia, ontologi berhubungan dengan status realitas zat: apakah molekul, atom, atau struktur kimia merupakan entitas nyata atau hanya representasi teoretis. Pada ranah nanoteknologi, pertanyaan ini semakin tajam karena sifat suatu zat dapat berubah drastis ketika dimensinya diperkecil ke skala nanometer.
Nanopartikel didefinisikan sebagai material dengan ukuran 1–100 nm. Pada rentang ini, muncul fenomena kuantum dan dominasi surface area yang mengubah sifat-sifat zat. Misalnya, emas dalam bentuk bulk tampak kuning berkilau dan inert, tetapi dalam bentuk nano bisa berwarna merah atau ungu serta bersifat sangat reaktif. Dalam konteks medis, nanopartikel liposom mampu mengantarkan obat secara selektif ke jaringan kanker berkat enhanced permeability and retention (EPR) effect, suatu fenomena emergen pada skala nano.
Konteks biomedis memperlihatkan bahwa nanopartikel bukan hanya fenomena kimia, tetapi juga biologi. Nanopartikel harus berinteraksi dengan membran sel, sistem imun, dan lingkungan jaringan. Dengan demikian, nanopartikel berada pada batas disiplin: ia adalah produk kimiawi dengan konsekuensi biologis, sekaligus menantang pemahaman filsafat kimia tentang zat dan sifatnya.
Nanopartikel sebagai transformasi materi lama
Dari perspektif reduksionisme, nanopartikel hanyalah bentuk baru dari materi yang sudah ada. Komposisi atomiknya tetap sama: emas tetap terdiri dari atom Au, liposom tetap tersusun dari fosfolipid. Hukum kimia klasik seperti stoikiometri, ikatan kimia, dan kekekalan massa tetap berlaku dalam hal ini. Sehingga dalam kerangka ini, sifat unik nanopartikel hanyalah konsekuensi logis dari hukum yang sama, meskipun pada skala yang berbeda.
Nanopartikel sebagai zat baru dengan sifat emergen
Namun, perspektif emergensi menunjukkan bahwa nanopartikel tidak sekadar variasi dari zat lama. Sifat optik, katalitik, dan toksikologinya tidak dapat diprediksi hanya dari pengetahuan mengenai bulk material. Misalnya, nanopartikel emas memiliki efek plasmonik yang digunakan dalam terapi fototermal kanker fenomena yang tidak muncul pada emas dengan ukuran makroskopis. Begitu pula, liposom berperilaku sebagai “entitas biologis buatan” dengan kemampuan menembus jaringan tumor. Sifat-sifat ini bersifat emergen, tidak sepenuhnya dapat direduksi pada deskripsi atomis semata.
Kasus pada terapi kanker
Dalam terapi kanker, nanopartikel menyingkap dilema filosofis ini, misalnya :
• Nanopartikel emas digunakan dalam terapi fototermal. Sifat plasmonik yang memungkinkan penyerapan cahaya inframerah tidak dapat dijelaskan oleh sifat emas bulk.
• Liposom antikanker memperlihatkan efek EPR yang tidak dapat diramalkan hanya dari sifat fosfolipid individu.
• Quantum dots digunakan untuk imaging sel kanker, menawarkan fluoresensi kuat yang tidak terdapat pada material asalnya.
Kasus-kasus ini memperlihatkan bahwa nanopartikel menantang konsep klasik tentang zat kimia. Apakah kita masih bisa mengatakan bahwa “emas adalah emas” jika pada skala nano nanopartikel ini memiliki sifat yang sangat berbeda?
Implikasi Filosofis
Pertanyaan ontologis tentang nanopartikel memiliki implikasi luas:
• Ontologis: Nanopartikel menunjukkan bahwa konsep zat dalam kimia tidak statis, melainkan bergantung pada skala/ ukurannya. Realitas kimia bersifat bertingkat (layered reality), di mana sifat baru dapat muncul pada tingkatan tertentu.
• Epistemologis: Riset nanopartikel memerlukan instrumen baru (TEM, SEM, DLS, spektroskopi plasmonik) dan simulasi komputasi untuk memahami sifatnya. Hal ini menunjukkan keterbatasan epistemologi kimia klasik dalam menjelaskan fenomena nano.
• Aksiologis: Dalam konteks terapi kanker, nanopartikel membawa nilai ganda. Di satu sisi, ia menjanjikan terapi lebih efektif dan minim efek samping. Di sisi lain, riset dalam bidang nanomedis sangat mahal, memunculkan sebuah perdebatan mengenai aksesibilitas pasien dan keadilan sosial atau hak pasien dalam mendapatkan perawatan untuk terapi kanker.
Nanopartikel dalam terapi kanker memperlihatkan wajah ganda, yaitu transformasi dari materi lama karena tetap tunduk pada hukum kimia dasar, tetapi sekaligus merupakan zat baru karena memunculkan sifat emergen yang tak bisa dijelaskan dengan kerangka reduksionis semata.
Dari perspektif filsafat kimia, nanopartikel menunjukkan bahwa realitas kimia bersifat dinamis dan bertingkat. Hal ini menggeser pemahaman kita dari pandangan statis (ilmu pasti) tentang zat menuju pemahaman yang lebih kompleks, di mana skala, konteks, dan interaksi menjadi bagian dari ontologi zat itu sendiri.
Dalam praktik biomedis, refleksi filosofis ini penting. Filosofis ini mengingatkan kita bahwa teknologi nano bukan sekadar “alat” melawan kanker, melainkan juga membuka cara baru memahami materi, kehidupan, dan nilai kemanusiaan dalam sains.
