Nggak Cuma Foto-Foto! Yuk Jelajahi Kisah Batik Bakaran Lewat Museum Sudewi

Undergradute student in tourism development and hospitalities in Airlangga University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Calvin Briliant Arda Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah sobat? Batik menjadi identitas kebudayaan Indonesia yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda sejak 2009 silam.
Kita sendiri sudah erat dengan batik di kehidupan sehari-hari, yang uniknya tiap daerah di Indonesia memiliki gaya batiknya sendiri, baik itu ragam motifnya atau metode pembuatannya. Salah satunya adalah batik Bakaran asli Bumi Mina Tani ini.
Di Desa Bakaran Wetan, desa yang terkenal akan kuliner bandeng Juwana dan kesenian kethoprak Siswo Budoyo ini berdiri Museum Batik Sudewi yang siap menceritakan kisah batik Bakaran.
Berdiri di tahun 2022 lalu, Museum Batik Sudewi hadir dengan koleksi berbagai ragam motif batik, seperti batik Bakaran monokromik, gandrung, bregat ireng, dan berbagai motif lainnya yang siap memanjakan mata sobat semua.
Selain keindahan motif batik, museum ini juga menghadirkan display peralatan membatik yang otentik, mulai dari canting, kompor kecil, gawangan, hingga bahan pewarna alami.
Display lain juga menunjukkan secara visual dan gamblang beragam proses membatik, mulai dari klowangan (memola kerangka), isen-isen (mengisi bagian kosong pada klowang/kerangka), nembok (memberi tembokan), medel (mencelup kain ke bak pewarna pertama), ngerik dan ngremuk (mengerok dan memberi retakan), mbironi (menutup kembeli kain yang berwarna biru), nyogo (mencelup kain ke bak pewarna kedua), hingga nglorod (tahap finishing menghilangkan sisa malam pewarna pada batik).
Berbagai display ini memberikan visual gamblang, ngga cuma sebatas pada hasil akhir batik, tapi juga proses di balik keindahan dari batik Bakaran. Menarik kan sobat?
Bagi para maestro batik di sini, menghasilkan sebuah keindahan ngga cuma sebatas proses, tapi juga perjalanan filosofis dan kondisi hati sang maestro loh, makanya motifnya itu khas banget. Ngga ada di tempat lain!
Menurut Sutrisno selaku pengelola Museum Batik Sudewi, para maestro biasanya melakukan “ritual khusus” untuk menciptakan berbagai ragam motif batik Bakaran. Eits, jangan salah sangka dulu, ritual ini bukan ilmu gaib ya, tapi meditasi, merenung, meramu ide, atau sebatas memfokuskan diri untuk menemukan inspirasi motif batik.
“Motif yang ada di batik Bakaran tidak semata untuk pemenuhan kebutuhan pasar, tetapi ada nilai filosofi di baliknya. Pembatik di sini biasanya bermeditasi atau menenangkan diri sebelum membatik, sehingga muncul ide atau refleksi yang dituangkan dalam batik,” tutur Sutrisno.
Museum batik ini nggak cuma khususon buat budayawan atau pegiat batik aja loh sobat, tapi bebas, siapa pun yang ingin belajar membatik atau sebatas ingin beli batik Bakaran yang khas, unik, otentik, dan orisinil, boleh banget mampir ke Museum Batik Sudewi. Museum ini menyediakan berbagai paket belajar batik untuk semua kalangan.
“Kalau anak sekolahan yang sering itu SD sampai SMA. Untuk anak SD sendiri kita biasanya buat berkelompok pakai kain yang sudah berpola, lalu kita arahkan si anak untuk mewarnai pakai pewarna sintetis. Jadi, kita di sini sesuaikan pengunjungnya, kalau anak SD pakai pewarna sintetis, bukan pakai malam. Malam kan panas, takutnya terjadi hal yang tidak diinginkan,” tambah Sutrisno.
Oh ya sobat, selain museum, Desa Bakaran Wetan juga termasuk desa wisata. Jadi, nggak cuma Museum Batik Sudewi aja loh yang menarik, tapi desa ini tuh wonderful banget, sesuai motto pariwisata Indonesia. Sobat bisa napak tilas sejarah Majapahit di sini, melihat kirab budaya, atau berwisata religi di komplek makam Nyi Ageng Bakaran dan Ki Dalang Soponyono.
Bagaimana? Sobat semua tertarik untuk mampir ke sini? Cuss aja, kenali indahnya Pati-em lewat Museum Batik Sudewi dan Desa Wisata Bakaran Wetan.
