2023 Resesi, Bagaimana Kabar Indonesia ?

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universites Negeri Malang
Tulisan dari Calvin Oky Viano tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan suatu negara tentu bergantung pada kondisi makroekonominya. Salah satu indikator makroekonomi dapat dilihat dari nilai tukar mata uang suatu negara. Hal ini dikarenakan nilai tukar mata uang merupakan suatu alat yang digunakan untuk membandingkan antara nilai mata uang suatu negara dengan negara lainnya. Jika mata uang di negara tersebut menguat, maka kondisi ekonomi tersebut dinilai sedang berkembang dibandingkan negara lain. Oleh karena itu, kurs mata uang memiliki peran yang penting bagi negara maju maupun negara berkembang. Berbagai upaya akan dilakukan oleh suatu negara untuk menjaga posisi kurs mata uang agar berada dalam keadaan yang cenderung stabil.
Stabilitas kurs mata uang juga dapat dipengaruhi oleh sistem kurs yang dianut oleh negara itu sendiri. Kurs mata uang memiliki peran yang penting dalam perekonomian terbuka. Hal ini dikarenakan kurs mata uang ditentukan oleh keseimbangan antara permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar. Kurs rupiah di Indonesia mengacu pada dolar Amerika karena perdagangan Internasional didominasi oleh transaksi yang berbasis pada dolar Amerika. Sebagai negara berkembang yang menganut sistem perekonomian kecil terbuka, Indonesia telah mengalami beberapa pergantian sistem kurs. Sejak 1997, pemerintah memutuskan bahwa sistem kurs yang dianut oleh Indonesia adalah sistem kurs mengambang bebas.
Pandemi Covid-19 yang menyerang dunia di awal tahun 2020 lalu menyebabkan terjadinya penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Hal ini diduga akibat adanya inflasi, jumlah uang yang beredar, tingkat pendapatan, suku bunga, dan neraca pembayaran. "Depresiasi nilai tukar ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia juga turut melemah," Setiyono dan Wicaksono (2020) dalam penelitiannya menuturkan bahwa kenaikan kasus Covid-19 sebesar 1% menyebabkan depresiasi sebesar 0,809% pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika.
Adanya penurunan nilai tukar Rupiah ini juga dinilai karena para investor global akan lebih tertarik untuk menyimpan kekayaannya dalam bentuk aset yang aman dan menghindari aset berisiko. Salah satu aset yang dinilai aman saat terjadi gejolak ekonomi di masa pandemi adalah valuta asing, khususnya Dolar Amerika. Hal ini menyebabkan jumlah permintaan Dolar Amerika meningkat sehingga nilai tukar Rupiah terdepresiasi. Meskipun pandemi berangsur menurun, tetapi tekanan pada nilai tukar rupiah tak kunjung mereda. Sutopo Widodo sebagai Presiden Komisioner HFX Internasional Berjangka meyakini bahwa kurs Rupiah akan bergerak melemah hingga penutupan tahun 2022.
Mata uang Rupiah dinilai masih membayangi prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve System atau yang biasa disebut dengan The Fed yang diprediksi akan tetap agresif. Di penghujung tahun ini, Bank Sentral Amerika Serikat diperkirakan akan meningkatkan suku bunga dua kali lagi. Terlebih, kenaikan imbal hasil Obligasi Amerika Serikat masih mendukung likuiditas Dolar yang menekan semua mata uang negara maju dan berkembang. Pergerakan kurs ini juga dinilai akan bertahan hingga paruh pertama tahun 2023 mendatang.
Langkah yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga belum mampu mendongkrak kinerja rupiah. Hingga saat ini, tekanan bagi nilai tukar Rupiah dinilai masih cukup besar karena pasar melihat risiko resesi dunia yang semakin nyata. Merujuk pada tingginya utang negara dan korporasi yang dimiliki Indonesia, bahwa kondisi ekonomi saat ini hampir sama dengan kondisi saat 2007-2008 lalu. Roubini mengungkapkan jumlah utang swasta dan publik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global telah melonjak hingga 350% di tahun ini.
Melemahnya Rupiah Menurut Ekonom Indonesia
Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia menjelaskan bahwa melemahnya Rupiah sejalan dengan menguatnya Dolar Amerika dan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global akibat ketatnya kebijakan moneter yang lebih di berbagai negara khususnya Amerika. Hal ini dilakukan untuk merespon tekanan inflasi dan kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Oleh karena itu, Perry optimis bahwa Rupiah akan kembali menguat dengan mengacu pada fundamental perekonomian Indonesia yang semakin membaik. Hal ini diukur dengan pemulihan ekonomi yang masih berlanjut dan semakin menarik imbal hasil obligasi pemerintah. Pendapat ini juga sejalan dengan Kepala Ekonom Bank BCA, David Sumual, juga menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah saat ini masih tergolong baik jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya.
Ekonom Bank Mandiri, Reny Eka Putri juga mencermati bahwa harapan Rupiah kembali menuju level penguatan masih ada. Hal ini dapat direalisasikan dengan dukungan fundamental ekonomi yang masih solid. Reny berpendapat bahwa jika kenaikan Fed Funds Rate telah priced in dan terjadi capital inflow di pasar domestik, maka peluang rupiah menguat akan terbuka. Reny optimis untuk mendapatkan potensi berbalik menguat yang diperkirakan mampu menyentuh angka Rp14.800 hingga Rp15.000 per Dolar Amerika di akhir tahun. Namun, Reny juga menekankan bahwa penguatan ini bisa terjadi jika tekanan eksternal tidak lagi berat. Hal ini dikarenakan melemahnya Rupiah selama ini terjadi akibat adanya faktor eksternal yang dipertahankan, seperti normalisasi kebijakan sejumlah Bank Sentral terutama The Fed.
Pelemahan nilai tukar Rupiah ini juga sebaiknya tidak bisa dilihat dari nominalnya saja, tetapi juga harus memperhatikan tingkat volalitasnya. Selain kebijakan penyesuaian suku bunga acuan dari Bank Indonesia, stabilitas nilai Rupiah juga dapat dioptimalkan oleh Pemerintah Pusat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan beberapa instansi lain yang terkait. Menurut Otoritas Jasa Keuangan, pelemahan nilai tukar Rupiah ini juga dipicu adanya penurunan harga komoditas ekspor dan tingginya tingkat impor. Dalam tiga tahun terakhir, kondisi perdagangan ekspor impor Indonesia mengalami tekanan yang berat hingga menyebabkan penurunan harga komoditas di pasar Internasional. Selain itu, peningkatan konsumsi masyarakat yang lebih menyukai produk buatan luar negeri juga memicu lemahnya nilai tukar Rupiah.
Beberapa cara Pemerintah maupun warga sipil untuk menguatkan Rupiah
Meskipun penurunan nilai tukar Rupiah menjadi tanggung jawab pemerintah, namun warga sipil juga mampu meringankan penyelesaian masalah ini. Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan (1) membeli produk dalam negeri; (2) tidak menimbun Dolar dan menukarkannya dengan Rupiah; (3) berwirausahaa dengan orientasi ekspor; (4) menikmati wisata domestik; (5) bepergian dengan transportasi publik; (6) berinvestasi di dalam negeri; dan (7) tidak memanfaatkan kondisi lemahnya Rupiah.
Memilih produk dalam negeri sebagai konsumsi harian dinilai dapat membantu penguatan Rupiah. Hal ini dikarenakan pembelian produk lokal dapat membantu peningkatan pendapatan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang selama ini juga turut menjadi tulang punggung perekonomian negara. Selain itu, penukaran mata uang Dolar Amerika ke Rupiah juga mampu memperkuat nilai tukar mata uang nasional karena adanya perputaran Rupiah. Langkah ini juga dapat dioptimalkan dengan mengurangi kunjungan wisata keluar negeri agar tidak membeli mata uang asing. Oleh karena itu, pemerintah juga menghimbau masyarakat untuk memprioritaskan kunjungan wisata domestik.
Pemanfaatan transportasi publik juga dinilai menjadi salah satu langkah yang efektif untuk membantu stabilitas nilai tukar Rupiah. Hal ini dikarenakan penggunaan transportasi publik dapat menghemat pemakaian bahan bakar minyak (BBM). Penurunan penggunaan BBM berimbas pada penurunan jumlah impor bahan bakar yang dilakukan oleh pemerintah, sehinggah cadangan devisa dapat digunakan untuk kebijakan lain. Cara ini merupakan langkah yang paling sederhana dan dapat dilakukan setiap hari. Selain itu, investasi di dalam negeri juga masih dianjurkan. Meskipun kurs Rupiah sedang merosot, bukan berarti semua investasi yang tersedia tidak menguntungkan.
Bentuk aset yang tidak bergantung terhadap kurs Dolar merupakan alternatif investor untuk tetap berinvestasi di kondisi saat ini. Salah satu bentuk aset tersebut dalah Surat Utang Negara (SUN). Beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia menerbitkan SUN dengan seri SBR004. Instrumen investasi ini dapat menjadi pilihan yang tepat di tengah penurunan kurs Rupiah saat ini. Terakhir, penukaran Rupiah ke mata uang Dolar juga belum disarankan. Menukarkan mata uang Rupiah ke dalam Dolar dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa mendatang dapat memperburuk pelemahan nilai tukar Rupiah. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan stabilitas Rupiah masyarakat dihimbau agar tidak ikut tergoda atas keuntungan tersebut.
