Mengetahui Disabilitas dan Tingkatannya di Jepang

Mahasiswa semester 8 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Camisha Ramadhani Neldi Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menurut undang-undang, istilah ‘penyandang disabilitas’ merujuk pada seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik yang berlangsung lama. Keterbatasan ini dapat menyebabkan mereka menghadapi hambatan dalam berinteraksi dengan lingkungan, sehingga mengalami kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan setara dengan warga negara lainnya (UU No. 8/2016, 2016, Pasal 1). Istilah ini merupakan pilihan terbaru yang digunakan dalam undang-undang dan baru diperkenalkan setelah tahun 2009.

Apa itu Disabilitas?
Penyandang disabilitas atau yang disebut dengan Shougaisha (障がい者) menurut Undang-Undang Dasar Penyandang Disabilitas, didefinisikan sebagai seseorang yang mengalami disabilitas fisik, intelektual, atau mental, yang menyebabkan mereka secara berkelanjutan menerima batasan yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari atau kehidupan sosial mereka.
Dari definisi dalam undang-undang ini, disabilitas dibagi menjadi tiga kategori besar yaitu Disabilitas Fisik, Disabilitas Intelektual, dan Disabilitas Mental.
Disabilitas Fisik
Karada shougai (身体障害) atau disabilitas fisik yaitu keterbatasan fungsi fisik yang disebabkan oleh kondisi bawaan atau akibat penyakit atau cedera. Menurut Undang-Undang Kesejahteraan Penyandang Disabilitas Fisik, jenis disabilitas fisik dibagi menjadi 5 kategori yaitu Disabilitas penglihatan (kesulitan dalam melihat), Disabilitas pendengaran (kesulitan dalam mendengar), Disabilitas suara atau bahasa (kesulitan dalam mengeluarkan suara), Disabilitas gerak (kondisi dimana seseorang memiliki keterbatasan dalam gerak), Disabilitas internal (gangguan pada organ dalam).
Disabilitas Intelektual
Disabilitas intelektual terjadi ketika keterlambatan perkembangan intelektual yang menyebabkan keterbatasan dalam kemampuan menjalani kehidupan sehari-hari dan sosial. Ini biasanya terlihat sebelum usia 18 tahun dan dievaluasi berdasarkan fungsi intelektual dan adaptasi. Disabilitas ini dibagi menjadi empat tingkatan yaitu ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Pada kasus ringan atau sedang, seseorang bisa bekerja mandiri dengan dukungan yang tepat, tetapi sering kali disabilitas tidak terdeteksi lebih awal. Disabilitas ini juga sering terjadi bersamaan dengan kondisi seperti Down syndrome, epilepsi, atau disabilitas perkembangan lainnya.
Disabilitas Mental
Disabilitas mental terjadi karena perubahan dalam fungsi otak, yang menyebabkan ketidakseimbangan dalam emosi, pemikiran, dan perilaku, serta mengganggu kehidupan sehari-hari. Contoh disabilitas mental termasuk skizofrenia, gangguan suasana hati, dan banyak lagi. Penyebabnya bervariasi, termasuk faktor psikologis dan lingkungan. Penyandang disabilitas mental cenderung lebih rentan terhadap stres.
Disabilitas Perkembangan
Meskipun dimasukkan dalam kategori disabilitas mental oleh undang-undang, tetapi jenis disabilitas ini memiliki karakteristik yang berbeda. Disabilitas perkembangan seperti Autisme Spektrum (ASD), gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), dan Learning Disability (LD) adalah akibat dari perbedaan fungsi otak bawaan. Penyandang disabilitas ini cenderung mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan dan seringkali mengalami stres berlebih, yang bisa menyebabkan disabilitas sekunder.
Kategori dukungan Disabilitas
障害支援区分 (Shougai Shien Kubun) adalah sistem yang digunakan di Jepang untuk mengkategorikan tingkat disabilitas seseorang, guna menentukan jenis dan jumlah dukungan atau layanan kesejahteraan yang akan diberikan. Sistem ini diatur oleh Undang-Undang Dukungan Komprehensif untuk Penyandang Disabilitas (障害者総合支援法). Sistem disability support classification ini mencakup beberapa aspek kehidupan seperti kemampuan fisik, mental, dan kemampuan sosial, termasuk kebutuhan dalam melakukan aktivitas dasar sehari-hari seperti mandi, makan, dan berpakaian.
Kategori dukungan disabilitas ini dibagi menjadi 6 tingkat berdasarkan derajat kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tingkat 1 adalah yang paling ringan, sedangkan Tingkat 6 adalah yang paling berat.
Kategori 1 - 2: Mereka yang membutuhkan bantuan ringan, seperti dukungan dalam aktivitas sehari-hari atau pekerjaan sederhana.
Kategori 3 - 4: Mereka yang memerlukan bantuan moderat dalam menjalani aktivitas harian serta mobilitas.
Kategori 5 - 6: Mereka yang membutuhkan bantuan intensif dan terus menerus, termasuk perawatan medis dan perawatan di rumah.
Siapa saja yang berhak mendapatkan layanan ini?
Menurut Undang-Undang Dukungan Komprehensif untuk Penyandang Disabilitas, layanan ini diberikan kepada individu berikut:
Penyandang Disabilitas Fisik (身体障害者): Mereka yang memiliki kartu identitas disabilitas fisik yang dikeluarkan sesuai dengan Undang-Undang Kesejahteraan Penyandang Disabilitas, biasanya orang yang berusia 18 tahun ke atas.
Penyandang Disabilitas Intelektual (知的障害者): Orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang mengalami keterbatasan intelektual.
Penyandang Disabilitas Mental (精神障害者): yaitu mereka yang mengalami gangguan mental seperti skizofrenia, ketergantungan zat, atau gangguan psikologis lainnya. Tidak harus memiliki kartu disabilitas mental untuk menerima layanan ini.
Penyandang Disabilitas Perkembangan (発達障害者): yaitu individu dengan autisme, sindrom Asperger, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), atau gangguan perkembangan lainnya.
Pasien dengan Penyakit Langka (難病患者): Orang dengan penyakit langka yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari, tetapi tidak termasuk dalam kategori disabilitas fisik, intelektual, ataupun mental.
Anak Penyandang Disabilitas (障害児): Anak-anak di bawah 18 tahun dengan disabilitas fisik, intelektual, mental, perkembangan, atau penyakit langka juga memenuhi syarat untuk mendapatkan layanan ini.
Dukungan Sosial dan Medis bagi Penyandang Disabilitas Fisik
Penyandang disabilitas fisik di Jepang dapat menerima sejumlah dukungan sosial dan jaminan kesehatan, termasuk:
Asuransi kesehatan: Menyediakan subsidi untuk perawatan medis yang dibutuhkan.
Pensiun disabilitas: Mereka yang memenuhi syarat bisa mendapatkan pensiun cacat.
Alat bantu mobilitas: Subsidi untuk alat bantu seperti kursi roda, alat bantu dengar, atau perangkat prostetik.
Perawatan jangka panjang: Perawatan untuk individu yang memerlukan dukungan medis yang lebih lama.
Dukungan perumahan: Termasuk adaptasi rumah untuk penyandang disabilitas.
Disabilitas bisa terjadi dari lahir maupun aktivitas yang mengakibatkan seseorang tersebut mengalami disabilitas. Aktivitas tersebut bisa berasal dari kecelakaan lalu lintas, bencana alam, hingga pola hidup yang tidak sehat seperti mendengarkan musik menggunakan earphone dengan volume yang tinggi setiap hari. Disabilitas atau yang biasa disebut dengan penyandang cacat dapat terjadi pada siapapun, baik anak kecil hingga lansia.
