Konten dari Pengguna

Ketika Alam Berhenti Menjawab : Pelajaran dari Raras dan Kita Semua

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Candra Setiya Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto koleksi pribadi menunjukan alam yang sangat indah
zoom-in-whitePerbesar
foto koleksi pribadi menunjukan alam yang sangat indah

Ada satu kesalahpahaman besar yang sering kita pelihara: kita mengira alam akan selalu ada, selalu memberi, dan selalu memaafkan. Padahal, alam tidak pernah berjanji setia tanpa syarat. Ia hanya merespons cara manusia memperlakukannya.

Kisah Raras, perempuan yang dipercaya sebagai Penjaga Hujan di sebuah desa di kaki Gunung Arjuno, dapat dibaca sebagai metafora tentang relasi manusia dan alam. Selama pepohonan dijaga dan bukit dibiarkan bernapas, hujan datang tepat waktu. Namun ketika pembangunan mulai menggerus hutan, nyanyian Raras tak lagi mendapat jawaban dari langit. Bukan karena ia kehilangan kuasa, melainkan karena manusia memutus hubungan dengan alamnya sendiri.

Fenomena ini terasa dekat dengan realitas hari ini. Kemarau panjang, banjir bandang, dan tanah longsor kerap disebut sebagai bencana alam. Padahal, dalam banyak kasus, itu adalah konsekuensi dari pilihan manusia. Kita menebang hutan, tetapi berharap hujan tetap turun teratur. Kita membangun tanpa kendali, tetapi menuntut alam tetap stabil.

Masalahnya bukan pada hujan yang enggan turun, melainkan pada cara kita memperlakukan rumah hujan itu sendiri.

Ketika desa dalam kisah Raras memilih menghentikan pembangunan dan mulai menanam kembali, perubahan perlahan terjadi. Udara menjadi lembap, angin tak lagi kering, dan hujan kembali turun. Bukan karena dipanggil, tetapi karena diberi ruang untuk datang. Pesannya jelas: alam tidak perlu diminta, ia perlu dihormati.

Indonesia hari ini memiliki banyak “Raras” dalam wujud berbeda—petani yang menjaga tanah, masyarakat adat yang melindungi hutan, hingga anak muda yang menanam kembali lahan gundul. Mereka bukan romantika masa lalu, melainkan kunci masa depan.

Pada akhirnya, hubungan manusia dan alam bukan soal mistik, melainkan tanggung jawab. Alam bukan musuh untuk ditaklukkan, dan bukan pula pelayan yang wajib melayani. Ia adalah mitra. Dan seperti semua kemitraan, kesetiaan hanya mungkin jika dijaga bersama.