Konten dari Pengguna

Mindfulness Dulu: Sibuk Nggak Selalu Produktif, Yuk Ambil Jeda!

Cantik Ummi Salsabila

Cantik Ummi Salsabila

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 5 menit

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cantik Ummi Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, sih, kalian mengambil jeda dan menerapkan mindfulness di kehidupan yang dirasa super sibuk gara-gara ikut organisasi, magang, boot camp, atau kegiatan lainnya?

Mungkin belum banyak dari kita yang benar-benar paham apa itu mindfulness. Bahkan ada yang mengira mindfulness itu berkaitan dengan psikologi positif, padahal tidak. Dalam konteks ini psikologi positif yang dimaksudkan itu seperti melakukan berbagai kegiatan yang memberikan perasaan bahagia dan kepuasan dengan dalih ketika diri ini merasa sudah berkembang maka akan cenderung bisa lebih bahagia/puas. Akibatnya, muncul dorongan pemikiran seperti “I should be better than yesterday” atau “Aku harus produktif biar nggak sia-sia.” Contoh nyatanya yaitu tidak jarang dari kita suka ngegas ikut kegiatan ke sana sini supaya portofolio terlihat keren atau supaya tidak tertinggal dari yang lain. Namun, ujung-ujungnya kewalahan sendiri dan nggak fokus. Terus mindfulness itu seperti apa, sih?

Nah, supaya nggak terpontang-panting dengan tuntutan “should be better than yesterday,” yuk coba kita pahami apa itu mindfulness!

Definisi Mindfulness menurut Kabat-Zinn, dkk. (Sumber : Dokumen Pribadi)

Apa itu Mindfulness?

Mindfulness adalah sadar penuh hadir utuh (Silarus, 2015). Menurut Kabat-Zinn (1990), Shapiro dan Schwartz (1999), serta Segal et al. (2002) mindfulness dimaknai sebagai kemampuan untuk mempertahankan kesadaran dan atensi pada momen saat ini secara utuh. Proses ini melibatkan penerimaan apa adanya, tidak menghakimi, tidak mengelaborasi, dan hanya menyadari pikiran, perasaan, atau sensasi yang timbul. Secara filosofis, mindfulness mengajarkan kita untuk menerima realitas sebagaimana adanya. Kita diajak untuk menyadari bahwa segala sesuatu itu selalu berubah, nggak ada yang permanen, dan sering kali tidak memuaskan. Selain itu, setiap keputusan yang kita ambil, mindfulness mengingatkan bahwa ada konsekuensi yang menyertainya, baik disadari atau pun nggak disadari.

Kenapa Kita Harus Lebih Mindful dalam Menentukkan Kegiatan?

Hidup yang sibuk belum tentu produktif. Dengan mindfulness, kita diajak untuk berhenti sejenak dan menyadari pola pikir serta dorongan di balik pilihan kita, apakah kegiatan yang dipilih benar-benar relevan dengan kebutuhan dan prioritas saat ini, atau hanya sekadar memenuhi ekspektasi sosial dan rasa takut tertinggal. Yang menarik, dalam praktik mindfulness sebenarnya kita tidak perlu menambahkan apa pun pada pengalaman kita-cukup memperhatikan seperti apa pikiran kita ketika tidak tersesat dalam pemikiran yang berlebihan. Dalam praktik ini, pikiran obsesif berbasis produktivitas akan terlihat sebagai sesuatu yang sementara dalam kesadaran kita. Mindfulness mengajarkan kita untuk mengamati tanpa menghakimi, menerima kenyataan bahwa segala sesuatu bersifat sementara, dan memahami bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi. Dengan demikian, kita dapat memilih kegiatan yang memberikan makna dan mendukung keseimbangan antara tanggung jawab, pertumbuhan pribadi, dan kesejahteraan, tanpa terjebak dalam tekanan untuk selalu terlihat produktif.

Lalu Bagaimana Caranya?

Berdasarkan definisi mindfulness dari Kabat-Zinn (1990), Shapiro & Schwartz (1999), dan Segal et al. (2002), praktik mindfulness bukan sekadar tentang mengikuti langkah-langkah tertentu, melainkan tentang mengembangkan kesadaran penuh pada momen saat ini. Mari kita coba breakdown elemen-elemen pentingnya:

1. Mempertahankan Kesadaran dan Atensi

  • Mulailah dengan mengambil napas dalam-dalam dan merasakan sensasi tubuh saat ini

  • Perhatikan pikiran yang muncul tentang "harus produktif" atau "harus mengerjakan sesuatu"

  • Sadari bahwa pikiran-pikiran ini hanyalah pikiran, bukan kebenaran absolut

  • Bawa perhatian kembali ke momen sekarang setiap kali pikiran mulai berkelana

2. Melakukan Penerimaan Apa Adanya

  • Terima bahwa kadang kita merasa kewalahan dengan berbagai kegiatan

  • Akui bahwa perasaan cemas atau takut tertinggal itu normal

  • Hindari menghakimi diri sendiri ketika merasa kurang produktif

  • Pahami bahwa setiap orang memiliki ritme dan kapasitas berbeda

3. Tidak Menghakimi

  • Amati keinginan untuk selalu sibuk tanpa memberikan label "baik" atau "buruk"

  • Perhatikan dorongan untuk membandingkan diri dengan orang lain

  • Sadari bahwa kesuksesan tidak selalu berarti harus mengisi setiap waktu dengan aktivitas

  • Berikan ruang untuk diam dan merefleksikan tanpa penilaian

4. Menyadari Tanpa Mengelaborasi

  • Perhatikan sensasi fisik saat merasa tertekan oleh deadline atau tugas

  • Amati emosi yang muncul saat melihat to-do list yang panjang

  • Biarkan pengalaman mengalir tanpa perlu menganalisis atau memecahkannya

5. Menerapkan dalam Pengambilan Keputusan

  • Sebelum menerima kegiatan baru, berhenti sejenak dan rasakan sensasi tubuh

  • Tanyakan pada diri: "Apakah kegiatan ini benar-benar penting buat aku?" atau “Kalau aku nggak ikut, emang apa yang bakal terjadi?”

  • Perhatikan motivasi di balik keinginan untuk mengambil kegiatan tersebut

  • Pertimbangkan kapasitas dan energi yang tersedia saat ini

Kesimpulan

Dengan mindfulness, kita berusaha menjalani hidup dengan sebagaimana adanya. Kita tidak akan lagi terjebak dalam siklus “sibuk-sibuk kosong” yang bikin kewalahan. Selain itu, kita dapat fokus pada kegiatan yang benar-benar relevan dengan tujuan hidup kita.

Ingat, mindfulness bukanlah tentang menjadi lebih produktif, melainkan tentang hadir sepenuhnya dalam setiap momen. Selain itu, hidup bukan soal seberapa banyak yang kita lakukan, tetapi seberapa bermakna apa yang kita lakukan. Sebelum bilang “yes” ke kegiatan berikutnya, luangkan waktu untuk refleksi. Apakah ini sejalan dengan tujuanmu? Apakah kamu sanggup menjalaninya? Oleh karenanya, dengan mindfulness, kita bisa menikmati prosesnya tanpa merasa kewalahan.

Referensi

Aldina, S. (2010). Mindfulness for dummies. John Wiley & Sons.

Kabat-Zinn, J. (1990). Full catastrophe living: Using the wisdom of your body and mind to face stress, pain, and illness. Deltacorte Press.

Linder, J. N. (2021, December 6). Reexamining productivity with mindfulness. Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/mindfulness-insights/202112/reexamining-productivity-mindfulness

Segal, Z. V., Williams, J. M. G., & Teasdale, J. D. (2002). Mindfulness-based cognitive therapy for depression: A new approach to preventing relapse. Guilford Press.

Shapiro, S. L., & Schwartz, G. E. R. (1999). Intentional systemic mindfulness: an integrative model for self-regulation and health. Advances in Mind-Body Medicine, 15, 128-134. https://doi.org/10.1054/ambm.1999.0118

Silarus, A. (2015). Sadar penuh, hadir utuh. TransMedia Pustaka.