Konten dari Pengguna

Quarter Life Crisis Membuat Mahasiswa Sulit Membentuk Keputusan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Carissa Arabella tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Dokumentasi dan Ilustrasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Dokumentasi dan Ilustrasi Pribadi

Teman kumparan, sadar gak sih belakangan ini ada isu yang terus menerus dibahas oleh masyarakat terutama netizen. Sebenarnya isu ini juga dekat banget sama aku dan para kumparan Buddies lainnya yang masih termasuk mahasiswi. Beredar pernyataan yang mengatakan bahwa perempuan dinyatakan sudah layak untuk menikah di umur 20-25 tahun. Hal ini tentunya cukup menyinggung para anak muda yang masih berada di jenjang perguruan tinggi, seperti aku. Rata – rata direntang umur tersebut para perempuan sedang sibuk mengurus dunia perkuliahan sembari magang dan bekerja, belum lagi kalau ada yang menunda skripsi. Kita yang mahasiswi ini jadi rentan mengalami quarter life crisis.

Apa sih Quarter Life Crisis itu?

Jujur saja, sejak berada di umur yang ke 20 tahun ini, aku mulai bisa relate dengan istilah quarter life crisis. Buat kalian yang belum tau, istilah quarter life crisis adalah momen ketidakpastian dan proses pencarian jati diri disaat seorang individu berada di usia pertengahan 20 hingga awal 30 tahun. Dapat dikatakan quarter life crisis adalah bentuk reaksi individu terhadap ketidakstabilan tinggi, perubahan yang cukup konstan, hingga terlalu banyak pilihan yang disertai rasa panik dan tidak berdaya. Tak jarang para mahasiswa atau pelajar yang masih berada di usia ini rentan merasa pesimis dan tidak percaya diri. Beberapa orang terdekat di sekitar aku pun mengalami hal ini, mereka seringkali merasa tidak nyaman, hingga depresi. Ada pula yang merasa dirinya sendirian dan sangat kesepian, padahal dia tidak pernah sendiri.

Quarter Life Crisis Mempengaruhi Keputusan Seseorang?

Lalu apa hubungannya quarter life crisis dengan keputusan mahasiswa untuk melanjutkan kuliah dan isu untuk menikah? Nah salah satu dari dampak yang ada adalah dalam masa quarter life crisis kita akan mengeksplorasi berbagai pilihan berbeda lalu menganalisis secara berlebihan sisi pro dan kontra yang mungkin ada. Hasil analisis itulah yang membuat seseorang semakin tertekan, hingga merasakan ketakutan berlebihan ketika diharuskan untuk mengambil sebuah keputusan. Oleh karena itu lah disaat mahasiswi muda seperti aku dihadapkan pada pilihan melanjutkan kuliah atau menikah muda di usia yang termasuk ideal, atau mungkin menjalani keduanya bersamaan, pasti akan lebih sulit memutuskan dan akhirnya lebih memilih untuk menunda. Pertama keduanya merupakan pilihan penting yang sulit diputuskan, serta dalam menikah perlu banyak hal yang harus dipersiapkan salah satunya adalah harus menjadi dewasa atau adulting atau settling down. Dalam hidup, kita biasa harus memilih ingin hidup penuh eksplorasi seperti konsep YOLO: You Only Live Once atau menjadi dewasa dan bisa stabil terutama secara finansial layaknya adulting.

Saat ini keputusan terbesar yang sedang kupikirkan yaitu dalam memilih masa depan hidup perkuliahan ku. Pada Universitas Bina Nusantara yang mana terdapat sebuah program bernama 3+1 Enrichment Fast Track, kita sebagai mahasiswa bisa mendapatkan kedua gelar yaitu S1 dan S2 hanya dalam kurun waktu 5 tahun saja. Menarik bukan? Namun hal yang membuat aku dilema adalah, awalnya aku ingin bisa lulus bahkan lebih cepat, sedangkan bila memilih program ini aku akan lulus satu tahun lebih lambat. Tapi baiknya dengan lulus lebih lambat aku dapat memiliki dua gelar sekaligus. Selain memikirkan pro dan kontra dari sisi waktu hingga keuntungan, aku juga memikirkan manfaat jangka panjang lainnya. Tanpa aku sadari, aku telah berpikir ratusan kali untuk bisa menetapkan keputusan terbaik. Belum lagi jika melihat teman seusia aku, ada yang bahkan telah bertunangan hingga berencana untuk menikah. Bahkan media pun banyak yang menyebarkan informasi bahwa aku telah berada di umur ideal tersebut untuk menikah. Selain berpikir ulang, aku menjadi membandingkan diriku dengan orang lain dan harapan media, yang sayangnya membuat aku semakin bingung untuk bisa memutuskan apapun dari kedua pilihan tersebut. Menurut kalian apakah ini permulaan dari quarter life crisis ku?