Fictophilia: Ketika Kamu Jatuh Cinta pada Karakter yang Tidak Pernah Ada

Mahasiswa Psikologi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Carissa Arlya Puteri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak kamu lagi asyik baca novel, nonton drama, atau scroll AU di Twitter, lalu tiba-tiba merasa suka banget sama salah satu karakternya? Bukan sekadar kagum karena penulisnya berhasil menciptakan tokoh yang menarik, tetapi benar-benar menyukainya sampai kepikiran sebelum tidur, berharap dia nyata, atau diam-diam membandingkan orang di sekitarmu dengan sosok yang hanya hidup di dunia fiksi.
Kalau pernah, bisa jadi kamu sedang mengalami sesuatu yang disebut fictophilia.
Apa Itu Fictophilia?
Fictophilia adalah perasaan cinta, ketertarikan romantis, atau hasrat yang ditujukan kepada karakter fiksi, baik yang berasal dari buku, film, serial televisi, game, webtoon, maupun karya penggemar seperti fanfiction dan Alternate Universe (AU) di Twitter (Jasper, 2010).
Yang membedakan fictophilia dari sekadar menyukai karakter adalah intensitas perasaannya. Emosi yang muncul bisa sama kuatnya, bahkan terkadang lebih kuat, dibandingkan perasaan terhadap orang nyata. Seseorang dapat merasakan rindu, cemburu, bahagia, hingga sedih mendalam karena karakter yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada.
Dalam psikologi, fictophilia termasuk dalam bentuk hubungan parasosial, yaitu hubungan emosional satu arah antara seseorang dengan figur media, di mana hanya satu pihak yang merasakan kedekatan tersebut (Horton & Wohl, 1956).
Meski begitu, fictophilia bukan gangguan mental atau kelainan psikologis. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang mengalaminya umumnya tetap mampu membedakan fiksi dan kenyataan dengan baik (Karhulahti dan Välisalo, 2021). Mereka sadar bahwa karakter tersebut tidak nyata, tetapi perasaan yang muncul tetap terasa nyata. Karena itu, fictophilia lebih tepat dipahami sebagai bentuk hubungan parasosial yang intens daripada tanda seseorang kehilangan kemampuan memahami realitas.
Kenapa Seseorang Bisa Jatuh Cinta pada Karakter Fiksi?
1. Karakter yang Dirancang Terlalu Sempurna
Penulis sering kali menciptakan karakter dengan sifat-sifat yang mampu menarik pembaca secara emosional. Mereka digambarkan perhatian, pengertian, setia, mampu memahami orang lain, dan terlihat ideal dalam banyak hal.
Karakter seperti ini terasa sulit ditemukan di dunia nyata karena memang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan cerita, bukan lahir sebagai manusia sungguhan dengan segala kekurangannya.
2. Identifikasi Diri dengan Karakter
Salah satu pemicu kuat fictophilia adalah ketika seseorang merasa begitu terhubung dengan cerita hingga seolah menjadi bagian dari dunia tersebut.
Kondisi ini dikenal sebagai transportation narrative, yaitu ketika pembaca secara psikologis masuk ke dalam cerita dan mengadopsi sudut pandang serta perasaan karakter tertentu (Green & Brock, 2000; Oatley, 1999). Semakin kuat keterlibatan emosional tersebut, semakin besar kemungkinan seseorang mengembangkan perasaan terhadap karakter lain dalam cerita.
3. Rasa Kesepian
Rasa kesepian dapat mendorong seseorang membangun hubungan parasosial. Ketika kebutuhan akan koneksi emosional tidak terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin mencari kedekatan dari sumber lain, termasuk karakter fiksi yang terasa selalu hadir dan tidak akan mengecewakan.
4. Paparan Media yang Berulang
Menurut Teori Kultivasi yang dikembangkan Gerbner (2002), paparan media secara terus-menerus dapat memengaruhi cara seseorang berpikir dan merasakan sesuatu.
Dalam konteks fictophilia, semakin sering seseorang melihat karakter tertentu melalui cerita, fan art, fan edit, maupun diskusi komunitas, semakin kuat pula ikatan emosional yang terbentuk.
Dampak dan Kapan Fictophilia Menjadi Masalah?
Meskipun bukan gangguan psikologis, fictophilia tetap dapat memberikan dampak dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika keterikatan terhadap karakter fiksi menjadi terlalu kuat. Beberapa dampak yang dapat muncul antara lain:
1. Ikut terbawa emosi karakter, seperti merasa sedih, bahagia, atau marah seolah-olah peristiwa dalam cerita benar-benar terjadi.
2. Sulit fokus pada aktivitas sehari-hari, karena pikiran sering kembali pada karakter atau cerita yang disukai.
3. Mengurangi interaksi sosial, terutama jika seseorang mulai merasa lebih nyaman berada di dunia fiksi dibandingkan menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitarnya.
4. Memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap hubungan nyata, karena karakter fiksi sering digambarkan lebih ideal dibandingkan manusia pada umumnya.
Fictophilia perlu mendapat perhatian lebih ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, memengaruhi hubungan sosial, menimbulkan tekanan emosional yang berkepanjangan, atau berkembang menjadi obsesi yang sulit dikendalikan. Jika sudah mencapai titik tersebut, bantuan dari psikolog atau konselor dapat membantu seseorang memahami dan mengelola perasaannya dengan lebih sehat.
Pada akhirnya, fictophilia bukan hanya tentang menyukai karakter fiksi. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana cerita dapat menyentuh emosi manusia dengan begitu dalam. Selama tidak mengganggu kehidupan sehari-hari, tidak ada yang salah dengan perasaan tersebut. Toh, terkadang karakter yang tidak pernah ada justru mampu mengajarkan banyak hal tentang diri kita yang sebenarnya.
