Konten dari Pengguna

Harga Minyak Dunia Naik akibat Konflik AS-Iran-Israel, Ekonomi RI Tertekan

Carmelita Dalia Pauno

Carmelita Dalia Pauno

Mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Hubungan Internasional, Universitas Samarinda Angkatan 2025. Saat ini aktif di berbagai organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional dan UKM Fisipers serta kegiatan lainnya

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Carmelita Dalia Pauno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Shutterstock

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memberi dampak terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Eskalasi konflik yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir memicu kekhawatiran pasar internasional terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Situasi memanas setelah muncul rangkaian serangan balasan, ancaman blokade, hingga isu penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Ketidakpastian di kawasan tersebut membuat harga minyak mentah dunia melonjak tajam.

Berdasarkan laporan sejumlah media ekonomi internasional dan pemantauan pasar energi global, harga minyak mentah Brent sempat menyentuh kisaran US$116 per barel pada Maret 2026. Hingga awal Mei 2026, harga masih bertahan di level tinggi sekitar US$110–114 per barel.

Kenaikan harga minyak global mulai berdampak pada banyak negara. Sejumlah negara di Asia Tenggara dilaporkan mengalami kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa bulan terakhir.

Kamboja menjadi salah satu negara dengan lonjakan harga BBM tertinggi di kawasan. Vietnam dan Laos juga mengalami kenaikan signifikan, sementara Singapura dan Australia mencatat kenaikan lebih moderat akibat tingginya harga minyak dunia.

Lonjakan harga energi turut memengaruhi biaya transportasi dan distribusi barang. Kondisi tersebut mulai berdampak pada harga kebutuhan pokok serta daya beli masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah.

Indonesia juga berada dalam posisi rentan karena masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Meski demikian, pemerintah memastikan stok energi nasional masih dalam kondisi aman untuk jangka pendek.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya menyebut cadangan BBM nasional diperkirakan cukup untuk sekitar 20 hari apabila konsumsi tetap stabil. Namun, kapasitas cadangan energi Indonesia masih relatif terbatas dibanding beberapa negara lain di Asia.

Thailand diketahui memiliki kapasitas cadangan energi hingga sekitar 60 hari, sedangkan Jepang mampu mempertahankan cadangan strategis lebih dari 200 hari untuk menghadapi kondisi darurat energi.

Sampai saat ini pemerintah belum menaikkan harga BBM di dalam negeri. Stabilitas harga masih dijaga melalui skema subsidi energi, koordinasi dengan BUMN sektor energi, serta pengelolaan cadangan strategis nasional.

Meski demikian, tekanan terhadap anggaran negara diperkirakan akan meningkat apabila konflik di Timur Tengah berlangsung lebih lama dan harga minyak dunia tetap berada di level tinggi.

Dampak kenaikan energi global mulai dirasakan masyarakat kecil dan pelaku usaha mikro. Pengemudi ojek, jasa pengiriman, hingga pedagang kecil menghadapi kenaikan biaya operasional, sementara harga jual barang dan jasa belum dapat dinaikkan secara signifikan.

Sejumlah analis ekonomi memperkirakan biaya transportasi dan logistik berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan apabila tren kenaikan harga energi terus berlanjut.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah pakar menilai kondisi ini dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi nasional guna mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.

Pengembangan biodiesel, bioetanol, serta investasi pada energi terbarukan seperti tenaga surya, tenaga air, dan panas bumi dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

Konflik di Timur Tengah pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan geopolitik regional, tetapi juga memberi dampak nyata terhadap perekonomian global hingga kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Stabilitas harga BBM di dalam negeri memang masih dapat dijaga untuk sementara waktu. Namun, gejolak energi global menunjukkan bahwa ketahanan energi nasional bukan lagi sekadar isu jangka panjang, melainkan kebutuhan mendesak di tengah ketidakpastian dunia.

Penulis adalah mahasiswa Hubungan Internasional yang memiliki minat pada kajian geopolitik, keamanan internasional, dan isu Hubungan Internasional