Catatan Kecil dari Seorang ASN di Buleleng Bali
Tulisan dari Lewak Karma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bermula dari tahun 2000, ketika Lewa Karma masih menjadi guru honorer di madrasah swasta dan sekolah dasar. Enam tahun lamanya bertahan dengan gaji yang jika dihitung per jam mungkin lebih kecil dari harga secangkir kopi. Tidak terbilang berapa kali harus menahan lapar, menggunakan sepatu lusuh, atau berjalan kaki menuju tempat kerja, karena uang bensin tak cukup.
Sosiolog pendidikan Arief Rachman pernah menulis, “Guru sejati bukanlah mereka yang mengajar karena dibayar, melainkan mereka yang mengajar karena terpanggil. Panggilan inilah yang membedakan antara pekerjaan dan pengabdian” (Rachman, 2015: 87).
Pada tahun 2006 datang sebagai titik balik yang akhirnya diangkat menjadi guru Pegawai Negeri Sipil. Ditempatkan pertama kali di MA Sunan Ampel Sumberkima, Gerokgak. Namun, menjadi PNS tidak lantas membuat hidupnya lebih mudah. Justru sebaliknya. Statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil yang dipekerjakan (dpk) membuat beban mengajarnya berlipat. Dengan mengampu multi mata pelajaran, sesuatu yang tidak berlaku bagi guru non PNS. Pagi mengajar Kimia, siang membimbing OSIS, sore menyusun administrasi, malam lembur bersama guru lain mempersiapkan program madrasah.
Apa yang ditebarkan mulai tumbuh perlahan. Siswa-siswa yang tadinya sering datang terlambat mulai berubah. Disiplin terbangun bukan karena ancaman, melainkan karena keteladanan. Mereka melihat sendiri bagaimana guru mereka setiap hari menempuh perjalanan panjang tanpa pernah mengeluh. Minat lulusan untuk melanjutkan kuliah pun meningkat. Dukungan masyarakat mulai mengalir.
Puncaknya, siswa-siswa binaannya berhasil menembus lomba nasional. Sebuah prestasi yang bagi madrasah kecil di pelosok Bali utara adalah sesuatu yang nyaris mustahil. Tetapi Lewa Karma membuktikan bahwa tidak ada kata mustahil jika ada kemauan. Menjelang masa tugasnya berakhir di madrasah itu bersama warga masyarakat membebaskan lahan seluas 12 are untuk perluasan madrasah. Wujud nyata menanam pondasi yang akan dinikmati oleh generasi yang bahkan belum sempat diajarkannya.
Pada tahun 2010 dipindahkan ke MTs Al Khairiyah Tegallinggah. Dia menemukan dirinya di madrasah swasta dengan kondisi yang memprihatinkan lahan hanya 3,6 are, bangunan seadanya, fasilitas jauh dari standar. Namun, justru di tempat sempit inilah jiwa kepemimpinannya menemukan ruang untuk berkembang. Lewa tidak mengutuki keadaan, tapi memilih berkeringat. Pada tahun yang sama, Provinsi Bali menobatkannya sebagai Guru Teladan. Pengakuan ini bukan sekadar sertifikat sebagai pesan bahwa di tengah keterbatasan, selalu ada ruang untuk menjadi luar biasa.
Pada Februari 2011 menjadi lembaran baru ketika ia dipercaya menjadi Kepala Madrasah. Tantangan pertamanya adalah akreditasi. Dengan fasilitas seadanya bersama para guru bahu-membahu mengejar status A. Kerja keras itu berbuah. Tidak berhenti di situ, lanjut menggerakkan masyarakat untuk membebaskan lahan 10 are pada tahun 2012. Relokasi pembelajaran dilakukan bertahap hingga 2015. Kelas yang tadinya sumpek dan gelap perlahan berubah menjadi ruang belajar yang layak, aman, dan manusiawi. Haidar Bagir dalam bukunya Pendidikan yang Membebaskan (2019: 112) mengingatkan bahwa “kepemimpinan sejati dalam pendidikan bukanlah tentang seberapa besar ruangan yang Anda miliki, tetapi seberapa besar hati Anda untuk meluaskan ruang masa depan anak-anak.” Lewa Karma tidak menyiapkan ruang kelas yang besar dan lengkap, tetapi menyiapkan inspirasi yang seluas samudera.
Sementara kesibukannya sebagai kepala madrasah, tetapi juga merangkap sebagai pengurus LP Ma’arif NU Kabupaten Buleleng. Pada tahun 2012 sempat menjabat Plt Kepala MTs At Taufiq, dan pada tahun 2013 mendirikan MA At Taufiq sekaligus menjadi kepala madrasah pertama hingga izin operasional dan akreditasi terbit.
Terpilih sebagai Kepala MTs Berprestasi Nasional oleh Kementerian Agama RI tahun 2014. Lalu, tahun 2015 di Istana Negara, Presiden Joko Widodo menyematkan langsung Satyalancana Pendidikan di dadanya. Satyalancana itu tidak hanya miliknya, tetapi milik setiap guru yang bertahan dengan kegigihan.
Tahun 2015 dimutasi menjadi guru sekaligus Kepala Madrasah di MIN Singaraja. Tidak hanya memimpin, tetapi juga menggerakkan para guru untuk menuli. Sebuah langkah nyata mendukung gerakan literasi dan menghasilkan sejumlah buku tulisan bersama. Dengan melihat kenyataan pahit bahwa banyak calon siswa tidak tertampung karena daya tampung MIN Singaraja terbatas. Maka, dari kegelisahan itu, lahirlah ide mendirikan MI Nurul Huda Singaraja. Izin operasional terbit pada tahun 2016 dan lahir bukan dari proyek, melainkan dari kepedulian.
Sejak tahun 2020, tanggung jawabnya meluas dipercaya menjadi Kepala Seksi Pendidikan Islam pada Kantor Kemenag Buleleng. Kini membina, mengawasi, dan mendampingi lembaga formal seperti RA dan Madrasah, GPAI, serta lembaga non-formal seperti Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah, dan TPQ se-Kabupaten Buleleng. Di bawah kepemimpinannya, Buleleng hampir selalu menjadi juara umum dalam berbagai ajang di tingkat Provinsi Bali.
Saat ini Lewa Karma dipercaya sebagai koordinator Pokja Manajemen perubahan dan Inovasi tim ZI Kantor Kemenag Buleleng yang akan dinilai ZI menuju WBK oleh tim penilai national (TPN) Dari Kementerian PANRB bulan September 2026.
Eko Prasojo, menyatakan bahwa “birokrat sejati adalah mereka yang mampu menerjemahkan kebijakan menjadi dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat, dan untuk itu dibutuhkan pemimpin yang lahir dari rahim pengalaman lapangan, bukan dari ruang ber-AC” (Prasojo, 2017: 144).
Lewa Karma sedang mengajarkan pengabdian adalah bahasa universal yang tidak memerlukan terjemahan. Namun, kerja melalui tindakan, dan mimpi besar yang tak pernah padam. Sebagai upaya menjaga mata air pengabdian yang terus mengalir, tetapi menghidupi.

