MNC di Tengah Perang Dagang: Ketika Bisnis Harus Memilih Sisi

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya, Angkatan 2023.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Catlyn Elza Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keywords: MNC, Multinational Corporations, Perang Dagang, Amerika Serikat, China, ASEAN, Indonesia, Investasi Asing, Rantai Pasok Global, Geopolitik Ekonomi
Ketika Perang Dagang Mulai Memengaruhi MNC
Perang dagang Amerika Serikat dan China bukan lagi sekadar persoalan tarif antara dua negara. Ketegangan perdagangan tersebut ikut memengaruhi perusahaan multinasional atau Multinational Corporations (MNC) yang selama ini menjadi bagian penting dalam rantai perdagangan global. Ketika kebijakan perdagangan berubah, perusahaan juga harus menyesuaikan cara mereka memproduksi, mendistribusikan, dan menjual produknya. Bahkan, World Trade Organization (WTO) mencatat bahwa impor Amerika Serikat dari China turun 29 persen pada 2025, sementara China mengalihkan sebagian arus ekspornya ke kawasan lain.
Bagi MNC, situasi tersebut membuat keputusan bisnis menjadi lebih rumit. China masih memiliki posisi penting sebagai pusat produksi dan jaringan pemasok global, sementara Amerika Serikat merupakan salah satu pasar terbesar di dunia. Karena itu, perusahaan tidak bisa begitu saja meninggalkan salah satu pihak. Mereka justru mulai mencari cara untuk mengurangi risiko dengan menyebarkan kegiatan produksi ke beberapa negara.
Strategi MNC: Tidak Lagi Bergantung pada Satu Negara
Salah satu strategi yang muncul adalah China Plus One. Melalui strategi ini, perusahaan tetap mempertahankan kegiatan produksi di China, tetapi mulai membangun atau memperluas fasilitas produksi di negara lain. Tujuannya bukan sepenuhnya meninggalkan China, melainkan mengurangi ketergantungan terhadap satu lokasi ketika terjadi perubahan kebijakan perdagangan atau gangguan rantai pasok.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pertimbangan MNC dalam menentukan lokasi produksi tidak lagi hanya soal biaya tenaga kerja atau kedekatan dengan pasar. Faktor geopolitik juga semakin penting. IMF dalam kajiannya mengenai ASEAN menunjukkan bahwa ketegangan perdagangan Amerika Serikat-China dapat memengaruhi pola perdagangan dan investasi negara-negara di kawasan. Artinya, konflik ekonomi antara dua negara besar dapat menciptakan perubahan di negara lain yang sebenarnya tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.
ASEAN Melihat Peluang
Perubahan strategi MNC tersebut kemudian membuka peluang bagi negara-negara ASEAN. Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Indonesia menjadi bagian dari kawasan yang berpotensi menerima pengalihan produksi dan investasi. ASEAN Investment Report 2025 bahkan menempatkan investasi asing sebagai salah satu faktor penting dalam pengembangan rantai pasok regional, terutama pada industri seperti semikonduktor, otomotif, dan pakaian.
Indonesia sendiri memiliki peluang yang cukup besar karena memiliki pasar domestik yang luas serta sumber daya yang mendukung berbagai sektor industri. Pada semester pertama 2026, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi Indonesia mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi tujuan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan perdagangan internasional.
MNC Harus Memilih Sisi?
Namun, “memilih sisi” bagi MNC tidak selalu berarti memilih Amerika Serikat atau China. Banyak perusahaan justru berusaha mempertahankan hubungan dengan keduanya sambil mencari alternatif baru, seperti memperluas produksi dan rantai pasok ke negara lain.
Kondisi ini menunjukkan bahwa MNC tidak hanya terkena dampak kebijakan negara, tetapi juga ikut menentukan arah investasi dan produksi global. Ketika perusahaan memindahkan pabrik atau memperluas rantai pasok, keputusan tersebut dapat memengaruhi perdagangan, lapangan kerja, dan investasi di negara tujuan.
Pada akhirnya, MNC mungkin tidak benar-benar harus memilih Amerika Serikat atau China. Yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan menyusun strategi agar tetap bertahan di tengah persaingan geopolitik. Bagi Indonesia dan ASEAN, situasi ini menjadi peluang untuk menarik investasi, sekaligus tantangan agar tidak hanya menjadi tempat produksi bagi perusahaan asing.
Tentang Penulis: Catlyn Elza Nugraha, seorang mahasiswi Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Sriwijaya.
Reference:
International Monetary Fund. (2026). ASEAN’s Trade and Investment in a Fragmented World.
