Konten dari Pengguna

Liburan Healing ke Bali Mau Nonton Konser, Malah Ketemu di Jalan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fathimah Jannass tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana lalu lintas di jalan raya Bali pada siang hari. Foto diambil secara spontan saat perjalanan. Dok. Pribadi Penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Suasana lalu lintas di jalan raya Bali pada siang hari. Foto diambil secara spontan saat perjalanan. Dok. Pribadi Penulis.

Saya ke Bali minggu ini dengan niat yang menurut saya sangat standar untuk anak kota yang lelah. Healing. Itu saja. Tiket konser sudah saya beli jauh-jauh hari, penginapan di Badung sudah dipesan. Tidak ada target harus ke pantai ini itu. Rencana saya hanya jalan santai, nonton konser, makan enak, dan tidur yang cukup.

Sebagai perempuan yang liburan sendirian, waktu saya paling banyak habis di jalan. Kadang naik motor sewaan, kadang pesan Go-Jek. Siang itu jalanan Bali ramai seperti biasa. Panasnya menyengat, tapi kalau sore anginnya enak. Di satu sisi ada truk besar, di sisi lain mobil dan motor saling susul.

Di momen itulah saya melihat sebuah mobil sport hitam melintas tidak jauh dari saya. Di sebelahnya ada motor dengan pengendara berhelm dan bermasker. Semua terjadi sangat cepat. Kaca mobil terbuka, pengemudinya menoleh dan menyapa duluan hanya dengan anggukan. Saya yang di atas motor spontan membalas anggukan juga.

Selesai. Hanya dua detik. Tidak ada percakapan.

Baru setelah mobil itu lewat, saya merasa wajah pengemudinya tidak asing. Tapi di jalan, dengan helm dan suara knalpot dimana-mana, saya tidak bisa memastikan. Jadi saya anggap saja itu sapa random antar pengendara di jalan. Hal yang biasa di Bali.

Sampai di penginapan, rasa penasaran itu muncul lagi. Saya buka Google dan coba cari dengan kata kunci aktor Bali, musisi Bali drill. Dari pencarian itu muncul nama I Gusti Agung Dharma Putra, lahir 22 Juli di Denpasar, dengan nama panggung Agung Bagus. Di Google ia dideskripsikan sebagai aktor dan rapper asal Bali.

Saya bukan fansnya. Saya bahkan baru tahu genre drill itu subgenre hip-hop dengan beat cepat setelah baca artikel. Jadi semua informasi yang saya tulis ini murni dari hasil pencarian internet, bukan dari klaim sepihak di lokasi.

Kenapa saya akhirnya menulis ini sebagai opini, bukan sekadar cerita papasan selebriti?

Karena yang berkesan bagi saya bukan mobil sport hitamnya, bukan statusnya sebagai aktor atau rapper. Tapi sikapnya yang menyapa duluan di jalan yang ramai dan panas.

Di benak saya, ada stereotip kalau orang yang pakai mobil sport atau punya nama di hiburan lokal akan jaga jarak. Ternyata tidak. Anggukan singkat itu terasa tulus. Tidak ada kesan pamer atau menjaga image. Kesan yang saya tangkap justru humble dan biasa saja.

Saya jadi merefleksikan niat awal saya ke Bali. Saya datang untuk healing, untuk nonton konser, untuk mencari ketenangan dari kerja. Tapi justru pelajaran kecil tentang keramahan itu yang paling saya ingat, bukan setlist konsernya.

Saya sempat melihat sekilas ada penumpang perempuan di dalam mobil. Saya tidak tahu siapa dia, dan saya tidak mau berspekulasi. Jaraknya jauh, pandangan saya hanya sepersekian detik, fokus saya tetap di jalan. Jadi saya tidak bisa dan tidak akan menyimpulkan identitas penumpang tersebut. Itu bukan ranah saya.

Sore harinya, saya cerita ke driver Go-Jek yang antar saya. Saya bilang, tadi di jalan ada mobil sport hitam, pengemudinya ramah nyapa duluan. Driver itu hanya tertawa dan bilang mungkin itu artis lokal. Bagi warga lokal, papasan seperti itu mungkin sudah biasa.

Opini saya, sebagai wisatawan, adalah Bali itu sering kita lihat dari sisi glamornya. Konser, beach club, sunset, penginapan estetik. Padahal nilai Bali yang sebenarnya ada di interaksi kecil seperti ini. Sapa duluan di jalan, anggukan singkat, senyum dari orang yang tidak dikenal.

Saya tidak datang untuk mencari siapa-siapa. Niat saya cuma istirahat. Malah dapat momen tak terduga. Tidak ada foto bersama, tidak ada konten. Hanya anggukan.

Setelah saya cek lagi, sosok yang saya lihat di Google itu memang lahir dan besar di Denpasar. Wajar kalau aktivitasnya banyak di sekitar Bali. Papasan di jalan adalah hal yang sangat mungkin.

Apakah saya menganggap ini bertemu idola? Tidak. Saya menganggap ini bertemu sesama pengguna jalan yang kebetulan punya karya di industri hiburan. Dan kebetulan, sikapnya membumi.

Banyak dari kita yang healing ke Bali dengan ekspektasi besar. Harus dapat foto bagus, harus dapat cerita seru. Padahal kadang healing itu datang dari hal kecil. Dari disapa duluan di jalan saat kita lagi lelah dan kepanasan.

Pulang dari Bali, yang saya bawa bukan cuma foto konser. Tapi pengingat bahwa keramahan kecil bisa meninggalkan kesan lama. Bahkan dari orang yang tidak kita kenal sebelumnya.

Dan menurut saya, itu cukup. Tidak perlu dibuat berlebihan. Cukup jadi catatan opini jujur dari seorang wisatawan perempuan yang niatnya cuma mau nonton konser, tapi pulang dengan pelajaran kecil tentang sapa menyapa di jalan.

Kalau ditanya apa Bali masih ramah? Dari pengalaman saya kemarin, iya. Masih.