Tak Perlu Sempurna Untuk Bahagia

Ceicilia
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Pembangunan Jaya
Konten dari Pengguna
27 Agustus 2023 5:41 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Ceicilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pexels.com
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kita harus tau apa adanya. Kita seringkali terjebak dalam pemikiran bahwa kita harus sempurna untuk meraih kebahagiaan kita. Namun dibalik adanya pandangan ini, tentunya ini dapat memberikan tekanan kepada kita secara berlebihan, merasa tidak puas ketika hasil yang dicapai tidak sempurna, dan dapat menyebabkan masalah kesehatan mental.
ADVERTISEMENT
Idealnya kita harus sempurna merupakan mitos yang melekat dalam budaya hidup kita. Seringkali kita merasa bahwa citra hidup yang sempurna merupakan kunci kebahagiaan. Namun, pada realitasnya kesempurnaan merupakan tujuan yang akan selalu bergerak dan tidak akan tercapai sepenuhnya.

Alasan Kita Ingin Sempurna?

Sumber: pexels.com
Banyak sekali faktor-faktor yang mendorong kita untuk ingin menjadi sempurna. Baik dari faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor yang mendorong kita adalah tekanan sosial yang ada pada diri kita. Kita merasa bahwa kita perlu untuk memenuhi harapan orang lain dan kita mengukur diri kita dengan standar yang telah ditetapkan dalam lingkungan kita. Hal ini tentunya dapat membuat kita merasa tertekan. Selain itu ketidakamanan diri ita juga membawa kita agar kita dapat mencari validasi dan penerimaan melalui pencapaian dan sesuatu hal yang sempurna.
ADVERTISEMENT

Tidak Sempurna Mengajarkan Kita Tentang Keterampilan Interpersonal yang Lebih Baik

Sumber: pexels.com
Menerima ketidaksempurnaan yang kita alami dalam diri kita juga dapat membuat kita merasa lebih mudah untuk bersimpati terhadap orang lain. Dengan hal ini, tentunya dapat memperkuat hubungan kita antara satu dengan yang lain dan membuat kita merasa lebih terbuka terhadap perspektif yang ada dalam diri orang lain. Selain itu juga ini merupakan bagian dari pertumuhan. Ketika kita menghadapi kesalahan dan kegagalan maka ini membuat kita untuk belajar, bertumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Maka dapat kita simpulkan bahwa menjadi bahagia bukan tentang harus menjadi seberapa sempurna kalian. Namun kesempurnaan itu akan datang ketika kalian menerimanya sendiri dengan lapang dada. Semangat untuk kalian yang sedang berjuang, jadilah diri sendiri maka kalian akan berbahagia dengan cara kalian sendiri!
ADVERTISEMENT