Konten dari Pengguna

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990, Ketika Cinta Dua Remaja Terasa Sederhana

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Celine Chava Kinetama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Celine Chava Kinetama
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Celine Chava Kinetama

"Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990" tidak hanya tentang kisah cinta dua remaja SMA. Di balik hubungan kedua pasang kekasih yaitu Dilan dan Milea, Pidi Baiq menghadirkan cerita tentang bagaimana cara mengenal dan mencintai seseorang melalui hal sederhana, lucu dan terkadang tak terduga.

Kisah cinta remaja seringkali dianggap sebagai cerita sederhana di mana pertemuan di sekolah, saling mengenal, jatuh cinta hingga menghadapi persoalan dalam hubungan bersama. Bagi Pidi Baiq sendiri, cerita tersebut dapat dikemas melalui gaya yang berbeda.

Hal itu terlihat dalam novel Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990. Novel yang pertama kali diterbitkan pada 2014 ini bercerita tentang Milea, seorang gadis yang menjalani kehidupan barunya di Bandung setelah berpindah dari Ibukota. Di sekolah barunya, Milea bertemu dengan Dilan, seorang siswa yang memiliki kepribadian unik, usil, berani sekaligus romantis dengan gaya tersendiri.

Pertemuan yang Tidak Biasa

Cerita bermula saat Milea bertemu Dilan dalam sebuah perjalanan menuju sekolah di mana Dilan memperkenalkan dirinya dengan cara yang tidak biasa yaitu ia mengaku sebagai seorang peramal dan mengatakan bahwa Milea akan bertemu dengannya di kantin. Alih-alih melakukan pendekatan seperti tokoh laki-laki lain dalam cerita romantis, Dilan justru menggunakan caranya tersendiri untuk membuat Milea penasaran dengannya.

Hubungan keduanya berkembang secara perlahan dan Dilan mulai memberikan perhatian kepada Milea melalui berbagai tindakan sederhana seperti memberi surat, melakukan percakapan absurd layaknya pasangan remaja yang sedang jatuh cinta hingga Milea dibuat terkejut dengan tingkah Dilan.

Di sisi lain, Milea masih memiliki hubungan dengan seorang lelaki yaitu Beni, pacarnya yang berada di Jakarta. Dengan kehadiran Dilan di kehidupan Milea, lantas mulai mempertanyakan perasaan yang sebenarnya dialami. Konflik hubungan tersebut menjadi salah satu bagian yang membuat cerita tidak hanya berisikan momen romantis namun juga terdapat kecemburuan, pertengkaran, pertemanan hingga persoalan yang dihadapi Dilan dalam lingkungan sekolah.

Dilan dan Cara Pidi Baiq Menggambarkan Cinta

Hal yang menarik dari novel ini tidak hanya semata berkaitan dengan kisah cinta antara mereka berdua, melainkan juga cara Pidi Baiq menuliskan hubungan Dilan dan Milea.

Bahasa yang digunakan keduanya cenderung santai dan terasa seperti percakapan sehari-hari sehingga pembaca akan lebih mudah untuk turut merasakan atmosfer yang dirasakan keduanya. Dialog sendiri menjadi bagian yang sangat penting dalam membangun karakter Dilan yaitu tidak selalu mengatakan sesuatu dengan cara yang serius namun terkadang dengan cara yang tak terduga.

Milea sebagai narator membuat pembaca melihat Dilan dari sudut pandangnya, yaitu sosok Dilan tidak hanya dikenal sebagai siswa yang memiliki reputasi nakal dengan kelompok geng motornya. Milea sendiri mampu memperlihatkan Dilan sebagai seseorang yang perhatian, humoris dan memiliki caranya tersendiri dan tidak biasa dalma menunjukkan kasih sayang.

Nostalgia Bandung Tahun 1990

Salah satu daya tarik dari cerita ini yaitu latar. Cerita berlangsung pada tahun 1990 sehingga masih jauh dari media sosial dan komunikasi digital yang menjadi pola kehidupan sehari-hari. Karena itu, Dilan dan Milea berkembang bersama melalui interaksi secara langsung, surat, telepon dan pertemuan di sekolah.

Latar tersebut memberikan nuansa nostalgia untuk menunjukkan kehidupan remaja pada masa itu. Bagi pembaca yang hidup pada generasi berbeda, setidaknya mampu membayangkan bagaimana hubungan sosial dan komunikasi yang terjalin sebelum era internet.

Ketika Romantis Tidak Harus Berlebihan

Kekuatan novel ini terletak pada bagaimana Pidi Baiq tidak menggambarkan romantisme secara berlebihan. Dilan tidak selalu menunjukkan rasa sayang melalui tindakan besar, justru dengan perhatian kecil dan cara bicara kepada Milea menjadi ciri khas tersendiri.

Pidi Baiq berhasil menjadikan percakapan sederhana menjadi inti penting dari sebuah cerita serta humor yang muncul pada dialog yang membuat novel terasa ringan dan menghibur. Namun gaya tersebut bagi beberapa orang menjadi kekurangan karena dinilai kurang masuk akal terlebih momen romantis yang terasa sederhana dan hanya menunjukkan keseharian.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan novel ini terletak pada penggunaan bahasa yang ringan, karakter dilan yang kuat dan khas. Pidi Baiq mampu membuat cerita cinta remaja terasa sederhana dan dekat tanpa menggunakan bahasa yang berat serta hubungan antara Dilan Milea dibangun secara bertahap sehingga pembaca berhasil seperti mengikuti alur keduanya.

Selain itu latar Kota Bandung pada 1990 menjadi nilai lebih dan warna tersendiri bagi pembaca untuk turut merasakan suasana kehidupan remaja pada era tersebut.

Sementara, kekurangannya terletak pada konflik antara mereka berdua yang terbilang cukup sederhana, beberapa tingkat Dilan terkadang mendapat gambaran berbeda baik romantis serta menghibur namun juga tindakannya yang berlebihan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 merupakan novel yang berhasil menyajikan kisah cinta remaja dengan cara yang ringan dan sederhana serta menghibur. Kekuatan novel ini terletak pada tokoh Dilan yang memiliki gaya khas tersendiri sehingga mampu merasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selain kisah cinta romantisme, latar belakang yang diberikan oleh mereka berdua yaitu Kota Bandung pada tahun 1990 menjadi hal yang menarik karena membuat novel ini mudah dinikmati dan memiliki gambaran tersendiri.

Novel ini cocok bagi pembaca yang ingin menikmati cerita cinta remaja yang ringan namun tetap memiliki karakter kuat dan khas. Pada akhirnya Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 menunjukan bahwa Pidi Baiq berhasil membawakan sebuah kisah cinta remaja tidak selalu membutuhkan konflik besar untuk meninggalkan kesan bagi pembaca.