Konten dari Pengguna

Pembuatan Film Berdasarkan Kisah Nyata: Antara Kreativitas dan Keadilan

Celin Khairani

Celin Khairani

Mahasiswa Universitas Medan Area, Jurusan Ilmu Komunikasi

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Celin Khairani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh Ai
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Ai

Pembuatan film berdasarkan kisah nyata telah menjadi trend yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Keberhasilan film-film seperti "Bohemian Rhapsody, " "A Beautiful Day in the Neighbourhood, " dan "Vina : Sebelum 7 Hari" menunjukkan bahwa penonton tertarik dengan cerita yang diangkat dari kehidupan nyata.

Namun, trend ini juga menimbulkan pertanyaan tentang etika dan keadilan dalam pembagian royalti. Di satu sisi, para pembuat film memiliki hak untuk berkreasi dan menceritakan kisah yang mereka anggap penting, film-film ini memberikan kesempatan untuk menceritakan kisah inspiratif dan edukatif kepada masyarakat. Di sisi lain, orang-orang yang terlibat dalam kisah nyata tersebut berhak atas privasi dan privasi atas penggunaan cerita mereka.

Penting bagi para pembuat film untuk mendapatkan persetujuan dari semua pihak yang terlibat dalam kisah nyata sebelum film dibuat. Hal ini termasuk mendapatkan izin dari individu, keluarga, atau organisasi yang terlibat. Persetujuan ini harus diberikan secara sadar dan bebas dari tekanan.

Para pembuat film juga harus menghormati privasi orang-orang yang terlibat. Detail pribadi yang tidak relevan dengan cerita harus dihilangkan,dan mereka harus berhati-hati agar tidak mengeksploitasi atau membahayakan individu.

Para pembuat film memiliki tanggung jawab untuk menceritakan kisah dengan akurat dan adil. Hal ini berarti menghindari sensasionalisme, eksploitasi, dan distorsi fakta. Berusaha menghadirkan semua sisi cerita dan memberikan ruang bagi berbagai perspektif.

Sistem yang adil untuk membagi royalti film berdasarkan kisah nyata harus diterapkan. Sistem ini dapat berupa kesepakatan keuangan langsung, persentase dari keuntungan film, atau bentuk kompensasi lainnya.

Penting untuk memastikan bahwa semua pihak yang berhak mendapatkan kompensasi dibayar secara adil. Hal ini termasuk orang-orang yang terlibat dalam kisah nyata, penulis skenario, sutradara, aktor, dan kru film lainnya.

Pembuatan film berdasarkan kisah nyata dapat menjadi alat yang berharga untuk edukasi dan refleksi. Namun, penting untuk melakukannya dengan etika dan bertanggung jawab. Menghormati hak-hak orang-orang yang terlibat,memastikan akurasi dan representasi cerita, dan menerapkan sistem pembagian royalti yang adil.

Hal ini menjadi sorotan hangat dalam kasus film "Vina: Sebelum 7 Hari" yang diangkat dari kisah tragis pembunuhan Vina Dewi Arista di Cirebon tahun 2016. Film telah menuai kesuksesan dengan meraih lebih dari 5 juta penonton.

Namun, di balik kesuksesan itu, muncul kontroversi mengenai pembagian royalti film tersebut. film ini dianggap berhasil mengangkat kisah tragis Vina dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kekerasan terhadap perempuan. Di sisi lain, film ini juga menuai kontroversi terkait dengan pembagian royalti dan etika pembuatan film yang mengangkat tragedy tersebut.

Nikita Mirzani, angkat bicara mengenai hal ini. Ia menyarankan keluarga Vina untuk meminta royalti yang sesuai dengan kesuksesan film tersebut.

Dalam kasus film "Vina: Sebelum 7 Hari", belum ada informasi yang jelas mengenai skema pembagian royalti yang disepakati. Hal ini lah yang menjadi dasar munculnya kontroversi. Keluarga Vina merasa tidak dilibatkan secara cukup dalam proses pembuatan film dan tidak mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai pembagian royalti.

Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan keadilan dalam industri film yang mengangkat kisah nyata. Hingga saat ini, belum ada solusi yang jelas mengenai pembagian royalti film "Vina: Sebelum 7 Hari". Kasus "Vina: Sebelum 7 Hari" menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perlu adanya regulasi dan standar yang lebih jelas dalam pembuatan film berdasarkan kisah nyata.

Oleh : Celin Khairani, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universita Medan Area