Tips Mempertahankan Bisnis Keluarga

Ketua Yayasan Al Ma'soem, Dosen Prodi Agroteknologi FAPERTA UNPAD
Tulisan dari Dr Ir Ceppy Nasahi Masoem MS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SURVEI yang diselenggarakan oleh Pricewaterhouse Coopers pada tahun 2014 menunjukkan lebih dari 95% bisnis di Indonesia dimiliki keluarga. Bisnis keluarga ini ada yang yang berskala kecil, menengah, besar, hingga konglomerasi. Beberapa bisnis yang sangat dikenal masyarakat Indonesia, seperti: Toko Roti Orion di Solo, Toko Roti Mandarin di Surabaya, Pabrik Mari Tunggal di Bandung merupakan contoh bisnis keluarga berskala kecil menengah yang saat ini telah dijalankan oleh generasi ketiga.
Ada pula bisnis keluarga yang mulanya skala kecil, namun kemudian sangat berkembang dan kini telah menjadi bisnis berskala sangat besar, seperti Grup Salim, Grup Bosowa, Grup Sinar Mas, Grup Bakrie. Peran keluarga telah menjadikan bisnis tersebut memiliki reputasi yang luar biasa, bahkan lebih dari hanya skala Family Business Consulting (2009) menunjukkan: hanya 30% bisnis keluarga yang bertahan hingga generasi kedua, dari yang bertahan itu hanya 12% yang sampai ke generasi ketiga, dan tinggal 3% yang dapat dioperasikan oleh generasi keempat pada 26 Juli 2019.
The Jakarta Post tanggal 6 Desember 2019 menunjukkan data menarik, disebutkan bahwa hanya 13% dari bisnis keluarga yang bisa bertahan hingga generasi ketiga di Indonesia. Deloitte Indonesia, konsultan perusahaan keluarga yang dikutip dalam laporan itu juga menyebutkan bahwa sekitar 95% dari seluruh perusahaan di Indonesia bisa diklasifikasikan sebagai bisnis keluarga, dari level kecil hingga menengah. Mereka memiliki peran penting dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi puluhan juta tenaga kerja dan menyokong perekonomian Indonesia.
Di Indonesia terdapat beberapa perusahaan keluarga yang awalnya dimulai dari usaha kecil tapi kini berhasil menjelma menjadi perusahaan besar dengan produk dan aset yang luar biasa, seperti Sampoerna, Indofood, Djarum, Bakrie, Ciputra dan lainnya. Perusahaan-perusahaan itu telah berjalan selama beberapa generasi dan mengalami jatuh bangun, tapi dengan pengelolaan yang tepat bisa mempertahankan kejayaannya hingga saat ini.
Di samping sedikit bisnis keluarga yang bisa bertahan tersebut, ada banyak kasus di mana bisnis keluarga tidak bisa bertahan antar generasi. Di Amerika Serikat misalnya, perusahaan umumnya berusia singkat. Sekitar 50% perusahaan yang berdiri di sana hanya bertahan selama 5 tahun, 25% bertahan selama satu dekade, dan hanya 16% yang bertahan antar generasi.
Penelitian juga menunjukkan bahwa hanya satu per tiga dari perusahaan keluarga yang bisa beralih dari generasi pertama ke generasi kedua, dan hanya 50% darinya yang bisa beralih ke generasi ketiga. Ada kurang dari 4% yang bisa bertahan hingga generasi keempat. Kondisi di Indonesia menurut The Jakarta Post hampir sama. Hanya 30% yang bisa bertahan hingga generasi kedua, 13 persen yang bisa mencapai generasi ketiga, dan 3% yang lebih dari tiga generasi.
John A. Davis dalam bukunya Life Cycles of Family Business (1997) menyebutkan bahwa pada umumnya bisnis keluarga mengalami beberapa tahapan yang khas. Dimulai dari tahap kreasi, ketika seseorang pertama kali mendirikan bisnis keluarga. Dilanjutkan pada tahap regenerasi, di mana keturunannya memperbaharui bisnis tersebut berdasarkan nilai-nilai jangka panjang dan kekayaan dan menjaga kesatuan keluarga pada aktivitas utamanya. Pada tahap ini keluarga biasanya berpuas diri dan menjadikan bisnis itu memasuki tahap penurunan, di mana aset perusahaan, aset keluarga dan persatuan keluarga mulai menghilang.
Bisnis keluarga umumnya bertahan dua kali lebih lama dibandingkan bisnis non keluarga, tapi tetap saja jarang yang bisa bertahan antar generasi.
Apa yang bisa membuat mereka bisa bertahan lebih lama?
Menurut The Economist, salah satu faktornya adalah adanya perspektif jangka panjang bisnis keluarga dibandingkan non keluarga. Bisnis keluarga memiliki keinginan untuk menjaga warisan para pendiri sambil melakukan berbagai perubahan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan.
Lalu apa yang bisa membuat bisnis keluarga bisa bertahan antar generasi ? Berikut adalah adalah beberapa karakter atau tips bisnis keluarga yang bertahan;
Menurut Steve Surdez (2019), bisnis keluarga perlu menetapkan proses seiring waktu. Bisnis keluarga yang bisa bertahan dan berkembang beberapa dekade mampu menyeimbangkan karakteristik kedekatan dan perhatian yang khas dimiliki bisnis keluarga dengan standar operasional prosedur dan proses yang dikodifikasi.
Untuk berkembang, bisnis keluarga membutuhkan tenaga profesional non keluarga dan memastikan adanya proses yang adil dan berulang untuk menarik dan mempertahankan sumber daya manusia yang diperlukan untuk berhasil.
Bisnis keluarga akan berhasil dalam jangka panjang apabila tidak tergantung dari keputusan seorang anggota keluarga. Perlu adanya tata kelola yang baik untuk mencegah adanya pengambilan keputusan sepihak oleh anggota keluarga.
Merencanakan sukses secara strategis. Bisnis keluarga yang bertahan memiliki perencanaan suksesi jangka panjang yang strategis.
Kemampuan untuk merencanakan penerus pimpinan perusahaan sangat menentukan kesuksesan perusahaan di masa depan. Dalam proses ini, perusahaan perlu untuk menghilangkan persepsi di antara karyawan non-keluarga bahwa pemimpin berikutnya hanya mendapatkan posisi tersebut karena koneksi keluarga. Mereka harus diyakinkan bahwa proses suksesi dilakukan secara professional bahkan untuk anggota keluarga yang dipercaya menjadi pimpinan.
Mengelola secara objektif. Bisnis keluarga yang bertahan antar generasi umumnya memiliki dewan yang terdiri dari gabungan keluarga dan professional, hal ini dilakukan agar objektivitas perusahaan tetap terjaga.
Memanfaatkan merek keluarga. Bisnis keluarga yang berhasil mengetahui cara memanfaatkan merek atau nama baik keluarga untuk keuntungan perusahaan. Hal ini dilakukan karena umumnya bisnis keluarga lebih dipercaya oleh klien dan konsumen. Kepercayaan harus dipertahankan dengan proses dan tata kelola organisasi yang baik. Perselisihan internal, apabila dibiarkan, bisa mempengaruhi pasar dan pada akhirnya merusak merek.
Berpikir jangka panjang. Menurut Nicolas Kachaner, George Stalk, Jr., dan Alain Bloch dalam “What You Can Learn from Family Business”, bisnis keluarga umumnya bersikap konservatif dalam menangkap peluang keuntungan. Mereka cenderung menjaga perusahaan dari hutang, menghemat pengeluaran, dan mempertahankan keadaan yang ada. Padahal, apabila bisnis keluarga bisa memanfaatkan peluang pada masa menguntungkan, mereka akan memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan pada masa sulit. Hal ini sejalan dengan laporan The Economist bahwa dari 114 bisnis keluarga dari 1.200 perusahaan besar, ditemukan bahwa bisnis keluarga memiliki nilai lebih tinggi dalam hal budaya, motivasi pekerja, dan kepemimpinan. Namun penelitian yang sama juga menunjukkan bahwa perusahaan keluarga memiliki nilai rendah dalam hal inovasi dan terlalu berpusat pada internal.
Mampu beradaptasi. Kematian banyak bisnis baik itu keluarga atau non keluarga utamanya disebabkan ketidakmampuan menghadapi perubahan drastis (rapid change), kontraksi ekonomi, dan disrupsi. Kita bisa saksikan sendiri bagaimana misalnya perusahaan transportasi konvensional seperti taksi satu per satu berguguran karena tidak bisa menghadapi gempuran transportasi berbasis online. Oleh karena itu, bisnis keluarga harus mampu menghilangkan batasan-batasan yang menghalanginya untuk selalu berinovasi. Matinya perusahaan-perusahaan pada waktu tertentu menunjukkan terjadinya siklus hidup industri (industry life cycle), yaitu rangkaian evolusi sebuah industri seiring waktu, mencakup tahap pengenalan (start up), pertumbuhan (growth), kematangan (maturity), dan penurunan (decline). Setiap perusahaan mengalami kecepatan yang berbeda pada tahap tersebut dan adanya disrupsi teknologi serta ekonomi saat ini, lebih banyak perusahaan yang mengalami akselerasi menuju penurunan. Untuk bisa bertahan, Pimpinan bisnis keluarga dengan demikian harus bisa menyatukan dan menjaga sumber daya manusia di keluarga untuk bisa mengawasi dan berkontribusi terhadap perusahaan, mengambil peluang, dan menjaga keluarga serta perusahaan dari berbagai ancaman.
Terakhir, bisnis keluarga sangat bergantung pada adanya kesatuan keluarga, keberhasilan finansial, dan dukungan dari setiap anggota keluarga. Perusahaan keluarga yang bisa bertahan, dengan demikian harus dijalankan oleh mereka yang memiliki keinginan mendalam untuk melihat perusahaan itu bisa terus sukses dan bermanfaat untuk generasi selanjutnya.
Keberhasilan bisnis keluarga banyak ditentukan faktor internal keinginan untuk maju bersama, dan dikombinasikan dengan pengelolaan yang profesional dengan melibatkan manajer profesional walaupun dari non keluarga.
Falsafah "Khoirrunass anfa uhum linnas "..sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat, memberikan manfaat bukan hanya sebagai pribadi tapi perusahaan memberikan manfaat yang berkelanjutan, sebagai pribadi suatu keniscayaan pasti meninggal sedangkan perusahaan bisa bertahan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
** Dr.Ir.H.Ceppy Nasahi Ma'soem,MS - Ketua Yayasan Al Ma'soem, Dosen Prodi Agroteknologi Faperta UNPAD.
