Konten dari Pengguna

Berbagai Cara Kami Melawan Kantuk

Cerita Santri

Cerita Santriverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cerita Santri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Santri mengantuk.
zoom-in-whitePerbesar
Santri mengantuk.

Waktu awal membujuk saya masuk pesantren, orang tua meyakinkan saya bahwa mondok itu santai.

“Tinggal di pesantren itu otomatis sekolahnya dekat dengan asrama, mau ngapa-apain ada kebutuhan dan keperluan semua sudah tersedia di dalam pesantren, mau jajan, nyuci, dan lainnya semua bisa dilakukan di pesantren,” begitu kata ibu saat membujuk saya masuk pesantren.

Kata 'santai' terus terang menjadi daya tarik saya yang saat itu sebetulnya masih berpikir beberapa kali untuk mondok. Perlahan kata ini mulai menghilangkan ketakutan akan tinggal jauh dari orang tua dan segala fasilitas di rumah. Utamanya sih televisi.

Singkat cerita masuklah saya ke pesantren tahfizh Daarul Qur’an Ketapang, Tangerang, yang didirikan oleh ustadz Yusuf Mansur. Terus gimana? Beneran santai? Jeng.. jeng… apa yang sudah saya bayangkan 'menguap' dengan seketika. Bener sih berangkat sekolah enggak pake kena macet, lapar ya enggak perlu ke warung, mau beli baju ya semuanya sudah tersedia di pesantren, tetapi bukan berarti kita bisa bersantai. Karena yang namanya pesantren itu penuh dengan perjuangan, eaaaa…

Gimana tidak, sejak jam 3 pagi kita sudah dibangunkan untuk salat malam, berzikir, hingga menunggu subuh datang, setelah subuh kita harus langsung melingkar untuk setor hafalan, lalu setelahnya bersiap sarapan pagi dan mandi, lalu lanjut masuk sekolah hingga zuhur tiba.

Aktivitas ini berlangsung hingga jam 10 malam, memang sih ada waktu kosong antara zuhur hingga ashar, tapi biasanya ini juga susah dipakai untuk tidur. Praktis para santri hanya punya waktu bersih untuk tidur 4 jam dalam sehari.

Oiya, sekolah di pesantren itu otak kita benar-benar digunakan loh. Ibaratnya otak ini kita gunakan bisa 2 kali lipat dari mereka yang sekolah non-pesantren. Di satu sisi kita pergunakan otak ini untuk beribadah, menghafal, belajar, berorganisasi, dan lainnya, pada saat bersamaan otak ini juga bekerja keras memikirkan bagaimana cucian hari ini, uang jajan sudah dikirim belum, sendal yang sering hilang belum lagi agenda kegiatan pondok yang tak menentu.

Okay, all of that things doesn’t make it sense untuk orang yang belum terbiasa, tetapi begitulah kenyataannya yang terjadi selama saya nyantri.

Tapi bukan santri namanya kalau kita menyerah begitu saja. Di pondok kita selalu ditanamkan sikap berjuang. Termasuk berjuang melawan kantuk.

Menjadi seorang santri itu harus pintar-pintar menyiasati dan me-manage waktu, kita juga dituntut untuk thinking out of the box atau berpikir bagaimana caranya dengan segala hiruk-pikuk dan berjubel aktivitas di pondok kita tetap bisa kuat dan terus mengikuti ritme pesantren tanpa kelelahan, sakit, bahkan drop. Terutama bagaimana cara melawan musuh utama kita yakni penyakit ngantuk.

Kenapa melawan kantuk menjadi utama? karena penyakit ngantuk ini telah mewabah ke siapa saja, bahkan kepada para guru, karyawan, dan lain-lain. Bahkan sebuah riset mengatakan menguap itu ibarat virus yang bisa menular ke siapa saja yang melihatnya, dampak negatif dari ngantuk tersebut juga hilangnya fokus santri selama belajar, mubazir waktu, dan yah gak kelar hafalan Alqurannya.

Lalu, bagaimana cara kami para santri tangguh melawan kantuk? Setidaknya ada beberapa cara yang pernah saya alami dan juga bocoran dari teman-teman.

Menjadi seorang santri itu harus pintar-pintar menyiasati dan me-manage waktu.

  1. Rehat Sejenak Gunakan untuk Tidur

Jikalau ada waktu kosong walau 10 menit saja, benar-benar luangkan waktu untuk tidur. Biasanya jeda pertukaran pelajaran, jeda pergantian kegiatan, pokoknya segala waktu luang kami sangat memanfaatkan waktu tersebut untuk tidur. Ini waktu berharga yang jika tidak kami gunakan dengan sebaiknya, maka akan memengaruhi konsentrasi kami ke depannya.

  1. Pelor (Nempel Molor)

Seorang santri yang baik dia pasti bisa tidur dalam kondisi apa saja dan di mana saja. Syaratnya satu, tempatnya bersih. Sehingga kami tidak perlu bertukar pakaian saat waktu salat tiba.

  1. Pijit-pijitan dengan Teman

Di sinilah kerjasama dan solidaritas antar teman diuji, misalkan salah seorang teman telah merasakan kantuk yang mendalam, bantulah dia dengan pertolongan pertama berupa pijitan di bagian kepala dan pundaknya sampai ia mendapatkan kesadaran yang normal.

  1. Disiram Ustaz atau Mudabbir

Nah, kalo ini jika kantuk tidak tertahan dan kami auto-terlelap. Biasanya terjadi di waktu antara azan dan iqamah atau menunggu khatib jumat naik mimbar. Bila sudah asyik begini maka cipratan air dari pengasuh auto-membuat kita segar.

Selain karena dinginnya air, rasa malu disaksikan jemaah masjid juga membuat kita langsung duduk dalam kondisi sigap.

  1. Exercise Everywhere

Di manapun, ketika kantuk mulai menyerang, biasanya kami langsung melakukan lari-lari kecil, push up atau gerakan apapun yang membuat kami kembali segar. Bahkan kami sengaja berlari naik-turun tangga dan keliling memutari pesantren untuk mendapatkan kesegaran lagi.

  1. Buat Kegaduhan

Biasanya jika ada teman yang tertidur kami sengaja membuat kegaduhan di sekitarnya. Bahkan ada sebuah cerita ketika ada seorang teman yang tertidur kami dengan sengaja membuat lingkaran dan membacakan Surah Yaasin bersama hingga akhirnya ia bangun dan sadar bahwa dikerjai oleh teman-temannya.

----------

Nah, itulah beberapa teknik kami dari banyak teknik lain yang belum bisa saya ceritakan semuanya. Jika kamu mau merasakan sensasi menahan kantuk ini, jangan ragu untuk mendaftar ke pondok pesantren terjauh. Jangan yang terdekat, karena mengundang rasa dikit-dikit pulang ke rumah. Intinya menjadi santri itu asyik, loh.

Dikisahkan oleh, Achmad Naufak K, Alumni Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an angkatan IX.