Opini & Cerita12 September 2020 11:27

Imam Ibnu Katsir, Imam Qurro yang Suka Wewangian

Konten kiriman user
Imam Ibnu Katsir, Imam Qurro yang Suka Wewangian  (167205)
Setelah kita berkenalan dengan imam qurra bernama Imam Nafi’ Al-Madani, pada tulisan ini kita akan berkenalan dengan imam qurra lainnya, yakni Imam Ibnu Katsir. Imam qurra yang lahir di masa tabi’in di kota suci Makkah tahun 45 H ini bernama lengkap Abdullah bin Katsir bin ‘Amr bin Abdullah bin Zadzan bin Fairuz bin Hurmuz ad-Daari. Julukan ad-Daari adalah sebab ia suka mengenakan wewangian. Dengan demikian, Imam Ibnu Katsir yang kita sedang kenalan bukanlah Imam Ibnu Katsir yang bernama lengkap Abu al-Fida Ismail bin Umar bin Katsir, yang menyusun tafsir Al-Qur’an: Tafsir Ibu Katsir.
ADVERTISEMENT
Sebagaimana Imam Nafi’ bin Abdurrahman, Imam Ibnu Katsir mulanya adalah budak milik seorang bernama Umar bin al-Qamah al-Kinani yang dimerdekakan. Diinformasikan bahwa Imam Ibnu Katsir adalah seseorang yang berpostur tinggi, agak gemuk, warna kulitnya kemerah-merahan, dengan bola mata kebiru-biruan, jenggot yang memutih. Selain itu, ia juga dikenal sebagai yang menjaga penampilannya, dan selalu mengenakan wewangian atau parfum ke manapun ia mengajar Al-Qur’an.
Terkait sosok Imam Ibnu Katsir, Ibnu al-Jazari menyebut bahwa Imam Ibnu Katsir adalah pemimpin paling terkemuka perihal qira’at Al-Qur’an di Makkah. Setelah wafatnya Mujahid bin Jabr yang adalah gurunya, Ibnu Katsir menjadi tokoh yang dibanggakan oleh para pengajar Al-Qur’an di tanah Hijaz. Sampai-sampai Abu ‘Amr bin al-‘Alla al-Bashri saat ditanya oleh al-Ashmu’i perihal Ibnu Katsir, ia menyebut Ibnu Katsir bahkan lebih alim dari gurunya dalam gramatika Bahasa Arab.
ADVERTISEMENT
Masih terkait sosok Ibnu Katsir, Imam as-Sakhowi menyebut bahwa tidak ada seorang pun yang sebanding dengan Ibnu Katsir dalam penguasaan qira’ah di zamannya. Lebih lanjut As-Sakhawi menuturkan bahwa keunggulan Ibnu Katsir adalah kekuatan hafalannya serta kepandaiannya mengikuti seluruh cara baca yang diajarkan oleh para gurunya. Lalu Imam Syatibi menyebutkan di dalam bait ke-27 Nazhm Syatibiyyah-nya bahwa:
Kota Makkah adalah kota tempat Abdullah menetap, ia adalah putra Tn. Katsir yang keluhurannya mengungguli keluhuran kaumnya.
 Selain dikenal sebagai imam qurro, Ibnu Katsir juga dikenal luas sebagai imam yang mengambil sanad hadis kepada sahabat Nabi saw yang ada di zamannya. Sebut saja, Ibnu Katsir mendapat hadis dari sahabat Abdullah bin Zubair, Abu Ayyub Al-Anshari, dan Anas bin Malik. Selain kepada generasi sahabat, Ibnu Katsir juga mengambil sanad hadis dari generasi tabi’in semisal Umar bin Abdul Aziz. Hal ini menunjukan bahwa kepakaran seorang ulama (dalam hal ini semisal Ibnu Katsir) tidak melulu hanya di bidang qiraat, tapi juga menguasai bidang keilmuan lainnya.
ADVERTISEMENT
Di dalam hal perjalanan pendidikan Al-Quran, Ibnu Katsir belajar kepada banyak ulama. Termasuk di antaranya adalah seorang sahabat bernama Abdullah bin Saib al-Makhzumi. Perihal ini, sebagian ahli menyangsikannya. Selain itu, Ibnu Katisr juga belajar Al-Quran kepada Mujahid bin Jabr dan ulama lain bernama Darbas atau Darabbas. Selain menjadi imam qari dalam Al-Quran, imam Ibnu Katsir juga mengambil sanad hadis kepada para sahabat yang masih ditemuinya semisal Abdullah bin Zubair, Abu Ayub Al-Anshari, dan Anas bin Malik. Selain kepada sahabat, Ibnu Katsir juga belajar kepada tabi’in semisal Umar bin Abdul Aziz, Umar bin Minhal, dan lainnya.
Jika kita adalah seorang guru ngaji (Al-Quran), maka kiranya kita patut meniru laku Ibnu Katsir saat mengajar Al-Quran. Disebutkan bahwa kala mengajar Al-Quran, Ibnu Katsir selalu memulai pelajaran Al-Quran dengan lebih dahulu memberikan nasehat-nasehat yang terdapat dalam ayat-ayat yang akan diajarkan kepada para santrinya. Melalui cara itu diharapkan para santri Imam Ibnu Katsir memiliki kesan yang kuat dengan ayat-ayat yang dibacanya. Perihal itu, Ibnu Katsir menyatakan bahwa laku pengajarannya yang demikian tidak lain adalah agar para santrinya membaca Al-Quran selalu dengan hati khusyuk, jiwa yang rendah hati, dan mata yang “menangis”.
ADVERTISEMENT
Untuk menyebut beberapa yang khas dalam qira’at Imam Ibnu Katsir, misalnya sebagaimana disebutkan oleh Ali Muhammad Dhabba’ dalam al-Idha’at fi Bayani Ushul al-Qira’at: dipanjangkannya bunyi tiap mim jamak, tiap ha dhamir dipanjangkan 2 harakat, tiap ada dua hamzah yang bertemu dalam satu kalimat atau dua kalimat diberlakukan perubahan baik ibdal maupun tashil, digantinya huruf shad menjadi sin pada kata “shiratha”.
Jika qira’at Imam Nafi dilanjutkan oleh dua periwayat bernama Imam Qalun dan Warsy, maka qira’at imam Ibnu Katsir dicatat memiliki dua imam perawi yakni: Al-Bazzi dan Qanbul. Al-Bazzi adalah nama julukan untuk Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Al-Qasim bin Nafi bin Abu Bazzah. Julukan Al-Bazzi diambil dari nama kakek buyutnya yang bernama Basyar yang dijuluki Abu Bazzah. Keluarga al-Bazzi pada mulanya adalah budak. Al-Bazzi dikenal sebagai murid Ibnu Katsir yang unggul. Karenanya sepeninggal Ibnu Katsir, Al-Bazzi menjadi penerus qiraatnya. Diinformasikan juga bahwa Al-Bazzi melakoni karir menjadi muadzin Masjidil Haram hingga 40 tahun.
ADVERTISEMENT
Periwayat qira’at Imam Ibnu Katsir yang kedua adalah Imam Qanbul. Imam kelahiran Makkah ini bernama lengkap Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Khalid bin Sa’id bin Jurjah. Lakob Qanbul disematkan kepadanya lantaran ia piawai meramu obat herbal (qunaibil), pendapat lain menyebut nama Qanbul adalah sebab ia berasal dari suku Qanabilah. Seperti sudah umum, ebelum menjad perawi qira’at, Qanbul pada mulanya adalah seorang budak dari Bani Makhzum. Tercatat dalam Ghayat al-Niahayah, bahwa beberapa tahun sebelum wafat, imam Qanbul tidak menerima para santri untuk membacakan Al-Qur’an kepadanya, lantaran imam Qanbul mengalami kondisi sakit.
Demikian dua periwayat qira’at imam Ibnu Katsir: Al-Bazzi dan Qanbul. Imam Abdullah bin Katsir bin Amr bin Abdullah bin Zadzan bin Fairuz bin Hurmuz Ad-Daari wafat di usia 75 tahun dan dimakamkan di kota suci Makkah pada tahun 120 H. 
ADVERTISEMENT
Untuk Imam Ibnu Katsir, dan para guru ngaji serta para santri Al-Qur’an, al-fatihah..
 
Muhammad Bisyri, Naib Mudir Markaz I’daad Mu’allimi Al-Qur’an wa Al-Ijazah bi al-Sanad Daarul Qur’an Tangerang.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
sosmed-whatsapp-whitesosmed-facebook-whitesosmed-twitter-whitesosmed-line-white