Konten dari Pengguna

Jejak Islam di Sisilia

Cerita Santri

Cerita Santriverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Cerita Santri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gereja San Giovanni degli Eremiti di Palermo yang sebelumnya merupakan masjid - (wikimedia commons)
zoom-in-whitePerbesar
Gereja San Giovanni degli Eremiti di Palermo yang sebelumnya merupakan masjid - (wikimedia commons)

Selama ini Pulau Sisilia yang berada di Italia identik sebagai tempat mafia berasal. Padahal jauh sebelum itu Islam telah menorehkan peradabannya dan jejaknya masih bisa ditemui hingga saat ini di Kota Palermo, kota utama di Sisilia.

Islam masuk pada pada tahun 827 M saat Pangeran Ziyadatullah Al-Aghlabi, dari dinasti Aghlabids yang berafiliasi dengan dinasti Abbasiyah, mampu menaklukkan pulau Sisilia. Kepemimpinan Islam bertahan selama sekitar dua setengah abad.

Di bawah Dinasti Aglabiyah, Sisilia dibangun baik fisik dan kesejahteraan penduduknya. Para penduduknya tidak dipaksa masuk Islam. Mereka dibebaskan untuk memeluk kepercayaan yang diyakini selama membayar pajak. Kota Palermo dibangun sekaligus dipercantik. Keindahan kota ini menyaingi Kairo di Mesir dan Cordoba di Spanyol.

Tidak hanya mempercantik kotanya. Kepemimpinan Islam di Sisilia juga membangun karakter penduduknya lewat pendidikan. Universitas Balerm dibangun di Palermo. Universitas ini termasuk yang tertua di Dunia. Di Balerm, mahasiswa tidak hanya belajar ilmu keislaman tetapi juga belajar ilmu filsafat, geografi dan banyak ilmu umum lainnya. Selain itu ekonomi masyarakat Sisilia juga terangkat.

Kini Palermo menjadi rumah bagi 25.000 imigran, yang banyak berasal dari negara-negara mayoritas Muslim seperti Bangladesh. Kota ini juga menjadi simbol multikulturalisme dan integrasi yang dibangun di atas sejarah Sicilia.

Ahmad Abd Al Majid Macaluso, Imam Palermo, sebagaimana dilaporkan Aljazeera, menjelaskan, tulisan Al-Qur’an di Katedral Palermo, arsitektur Arab-Norman yang menghiasi lanskap kota, dan budaya masyarakatnya membuat para imigran muslim tidak kesulitan mengidentifikasi diri mereka sebagai muslim sekaligus menyesuaikan diri dengan tempat tinggal baru mereka.

Bangunan-bangunan besar di Palermo dulunya merupakan peninggalan peradaban muslim. Gereja San Giovanni dulunya merupakan masjid, begitu juga Katedral Lucera yang sebelumnya merupakan tempat ibadah umat muslim.

“Orang Sisilia berbeda dari bagian Eropa lainnya, ada DNA Islam dalam kehidupan di Sisilia” ujarnya.

Sementara itu Patrizia Spallino, profesor dan direktur bahasa Arab Officina di Studi Medievali di Palermo, menjelaskan bahwa bahasa Arab Tunisia yang digunakan di pulau itu lebih dari 1.000 tahun yang lalu masih terlihat jelas dalam dialek Sisilia melalui tempat dan kata-kata sehari-hari.

Patriziano mencontohkan lingkungan pelabuhan Marsala di Palermo berasal dari bahasa Arab marsa Allah, yang berarti "pelabuhan Tuhan".