Mansa Musa, Raja Mali Yang Kekayaannya Sulit Ditandingi

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Cerita Santri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lupakan sejenak daftar orang terkaya yang beredar saat ini. Raja Mali bernama Mansa Musa kekayaannya sangat tidak bisa tertandingi.
Mansa Musa menjadi penguasa kekaisaran Mali pada tahun 1312. Naik takhta setelah pendahulunya, Abu-Bakr II, hilang dalam perjalanan di laut dalam usahanya menemukan tepi Samudra Atlantik. Musa memimpin saat negara-negara Eropa sedang berjuang karena perang saudara yang berkecamuk dan kurangnya sumber daya. Saat itu Kekaisaran Mali berkembang berkat sumber daya alam yang melimpah seperti emas dan garam.
Di bawah kepemimpinan Musa, Kekaisaran Mali tumbuh hingga mencakup sebagian besar Afrika Barat, dari pantai Atlantik ke pusat perdagangan pedalaman Timbuktu dan sebagian Gurun Sahara. Tidak hanya wilayah status ekonomi warganya juga tumbuh.
Awalnya apa yang terjadi di Mali saat kepemimpinan Musa tidak terdengar. Hingga pada tahun 1324 dunia tersentak saat Musa yang dikenal sebagai muslim taat berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji, tapi Musa tidak berangkat haji, ia membawa hampir 60 ribu orang bersamanya menuju Mekkah.
Sejarawan mencatat perjalanan Musa menempuh jarak 4000 mil dan ditempuh dalam waktu 2 tahun. Tidak hanya membawa puluhan ribu rombongan yang terdiri dari pejabat negara, tentara, pedagang budak ia juga menyertakan ratusan gajah, unta dan yang tidak kalah mencengangkan ia membawa juga sekitar 20,000 kilogram emas dalam perjalanannya untuk dibagikan.
Perjalanan Musa pun membekas bagi warga Mesir saat itu. Dikisahkan ketika memasuki Mesir, warga Kairo terhenyak dengan apa yang dibawa oleh rombongan dari Mali tersebut.
Dari pasar di Kairo hingga kantor kerajaan dan orang-orang miskin yang melintasi jalannya di Mesir semua mendapatkan emas dari Musa. Bahkan dari hasil jual beli dikisahkan saat itu pasar-pasar di Mesir dipenuhi dengan emas. Konon, saking banyaknya emas yang beredar membuat nilai tukar emas turun.
Selain soal kedermawan, Musa juga dikenal dengan kepeduliannya akan dunia pendidikan. Di setiap tempat yang disinggahi dalam perjalanan menuju Mekkah, ia membangun sebuah masjid. Sepulang dari Mekkah ia membangun banyak madrasah. Kota Timbuktu dijadikan sebagai pusat pendidikan, hingga banyak pelajar dari berbagai wilayah datang untuk melakukan studi.
Satu peninggalan Musa yang masih berdiri hingga saat ini adalah Masjid Djinguereber. Masjid yang dibangun pada 1327, seusai Musa kembali dari Mekkah, ini merupakan pusat pendidikan dan agama selama berabad-abad. Masjid ini dibangun oleh arsitek Andalusia dari Kairo. Masjid ini dibangun dari campuran tanah lumpur, jerami, dan kayu.
Ditulis oleh: Hafidz Dzikrullah, santri kelas 11 Pesantren Daqu
