Imlek: Toleransi Orang China dan Arab di Ternate

Cerita Maluku Utara Partner Kumparan 1001 Media Online
Tulisan dari Tim cermat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana berbeda terlihat di lorong Tapikong atau warga sekitar lebih mengenalnya dengan lorong Naga. Tepat di pelataran Kelenteng Thian Hou Kiong itu, pernak-pernik Imlek dipasang. Tidak jauh dari lokasi perayaan Imlek, berdiri gagah Masjid Al-Muttaqin, salah satu masjid tua di Ternate, Maluku Utara. Cerita mengenai hubungan orang-orang Tionghoa dan Arab pun sudah berlangsung lama di sekitar kawasan itu.
“Sudah lama, sudah lama sekali. Biasanya kalau ada perayaan Imlek dan ada Barongsai, itu dorang (mereka) datang kasih tahu di sini,” ujar Muksin bin Abdulkadir Albar, Imam Masjid Agung Al-Muttaqin, kepada Cermat, Senin (4/2/).
Muksin mengaku, biasanya saat perayaan Imlek itu akan dimulai, beberapa orang warga Tionghoa datang menyampaikan waktu acara untuk menjaga agar perayaan tersebut tidak bertepatan dengan waktu sembahyang di Masjid. “Biasanya kalau mulai acara, dan itu kan kadang-kadang malam, ya kalau sudah selesai shalat Isya ya silakan,” ujar Muksin.
Kendati perayaan itu berlangsung pada saat sedang sembahyang di Masjid, bagi Muksin, selama tidak mengganggu jalannya ibadah, itu tidak masalah. Hubungan orang Khonghucu dengan warga Muslim sekitar sudah berlangsung lama. Bukti itu tampak dari rumah ibadah atau Kelenteng yang jaraknya sekira 100 meter dengan Masjid Agung Al-Muttaqin.
Masjid Agung Al-Muttaqin sendiri lebih dikenal dengan Masjid Arab. Sejak dibangun, cerita Muksin, masjid ini bernama Masjid Al-habib. Dibangun oleh pemuka agama Islam yang datang dari tanah Arab. Dalam beberapa catatan sejarah, bahkan sebelum kedatangan bangsa Eropa, seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda, orang-orang dari Arab lebih dulu tiba di Ternate.
Begitu juga dengan warga Tionghoa. Peradaban China memang cukup terkenal. Mereka juga sudah lama tinggal dan berdagang di Ternate. Sebagai pusat rempah kala itu, Ternate diakui menjadi sasaran para pedagang dari luar.
Kompleks sekitar lorong Tapikong sampai saat ini masih tampak bangunan-bangunan tua. Sebagian adalah bangunan milik warga Tionghoa yang masih digunakan untuk berdagang. Jarak kompleks tersebut yang sangat dekat dengan masjid yang dikelola oleh orang-orang keturunan Arab itu, dikatakan Muksin, membuat kedua komunitas itu sering bersilaturahmi.
“Saat bulan puasa itu dorang sering antar beras, itu biasa, bukan hal baru dan berlangsung sudah bertahun-tahun,” katanya.
Hal itu dibenarkan Js Boy Ang, Pendeta di Kelenteng Thian Hou Kiong. Dikatakan, sudah sejak lama mereka menjaga hubungan dengan orang-orang keturunan Arab yang ada di kompleks sekitar lorong Tapikong.
Ko Boy, sapaan pendeta tersebut, bercerita, bahwa mereka sering membuat aksi sosial sebagai bentuk menjaga hubungan dengan warga sekitar. “Hubungan baik ya, tidak ada itu bentrok-bentrok. Dulu kalau kita buat aksi sosial, kita salurkan, dan kita tanya mereka untuk yang duafa,” kata Ko Boy.
Bukti keberagaman itu, menurut Ko Boy, bisa dilakukan dengan saling menghargai. Ia bahkan mengingatkan orang-orang sekitarnya untuk tidak membunyikan musik saat masuk waktu ibadah umat Islam, apalagi perayaan Imlek tahun ini dipasang sound system di pelataran kelenteng.
“Macam ini mereka tes sound saja kita sudah wanti-wanti, kan kita sewa, ya kalau jam-jam salat, stop tidak berani mereka (penjaga sound system) putar-putar, saya marah sekali,” ujarnya.
Perayaan Imlek tahun ini yang digelar di Ternate, dan seperti biasanya yang akan berlangsung selama 15 hari, dijelaskan Ko Boy, tidak akan dibuat meriah seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebagai bentuk untuk menghargai mereka yang sedang tertimpa musibah di beberapa daerah di Indonesia. “Kita ibadah saja, sembahyang sebentar malam. Ya tidak ada kembang api ya, tidak ada barongsai tahun ini,” jelasnya.
Penulis: Rajif Duchlun
