Konten dari Pengguna

RR9, The Black Stallion dari Akehuda

Tim cermat

Tim cermatverified-green

Cerita Maluku Utara Partner Kumparan 1001 Media Online

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tim cermat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Para pemain RR9 menyabet juara Walikota Cup 3, di Stadiun Gelora Kieraha, Ternate. Foto: RIzal Syam.
zoom-in-whitePerbesar
Para pemain RR9 menyabet juara Walikota Cup 3, di Stadiun Gelora Kieraha, Ternate. Foto: RIzal Syam.

Alkisah, pada titimangsa 1946, kala perang dunia ke-II baru kelar. Di sebuah laut lepas pantai utara Afrika, sebuah perjalanan kapal menuju Inggris. Alec Ramsey tengah memerhatikan seekor kuda berwarna hitam yang gagah sedang ditarik-tarik oleh empat orang berbadan kekar.

Malamnya, badai menghantam kapal yang ditumpangi Alec tersebut. Laut menunjukkan wajah buruknya. Alec yang entah karena dasar apa, mendatangi tempat kuda tersebut, dan kemudian menyelamatkannya. Kapal yang mereka tumpangi tenggelam, Alec yang waktu hendak menyelamatkan si Kuda terlempar jauh ke tengah lautan. Tapi ia selamat, bersama dengan si Kuda.

Mereka (Alec dan Kudanya) terdampar di sebuah pulau terpencil. Semenjak itu kedekatan keduanya semakin erat.

Singkat cerita, Alec (dan si kuda) ditemukan. Sesampainya di tanah asal, Amerika Serikat, Alec bertemu dengan seorang pelatih kuda bernama Henry Dailey. Hendry kemudian mengajarkan Alec bagaimana menunggangi kuda yang benar.

Niat Alec untuk mendaftarkan si Kuda pada kejuaraan ternama mesti terkendala asal-usul si Kuda yang tak jelas. Walhasil, Kuda tersebut hanya didaftar pada kejuaraan rendahan, tempat bagi kuda-kuda yang tak jelas silsilahnya.

Pertandingan tersebut diawali dengan melawan dua kuda pacuan yang kerapkali memenangkan kejuaraan, yakni Cyclone dan Sun Raider. Kuda milik Alec diberi nama The Black Stallion, dan semenjak itulah kisahnya bermula. Lantas dari kisah Alec inilah bertahun-tahun kemudian kita mengenal istilah “kuda hitam”, merujuk pada sesuatu yang dianggap bukan unggulan namun pada akhirnya bisa menjuarai sebuah kejuaraan.

*** RR9, tim dari Akehuda itu menambah deretan kisah tentang bagaimana pendapat umum bukanlah jaminan siapa yang terbaik. Malam Selasa (4/2) kemarin, di Gelora Kie Raha, Alvito dkk berhasil merengkuh gelar juara Walikota Cup tahun ketiga. Melawan Annaser, kesebelasan asal Santiong, RR9 menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, tak harus diisi oleh nama-nama beken dalam pentas sepakbola lokal Maluku Utara. RR9 berhasil menjadi juara setelah menang atas Annaser dengan skor 2 - 0.

Jika dibandingkan dengan tim-tim unggulan lainnya. RR9, tim yang dibentuk oleh legenda hidup sepakbola Maluku Utara, Rahmat Rivai, boleh dibilang tak banyak diisi oleh pemain-pemain kelas satu. Sebut saja tim Rimbawan, tim yang berafiliasi dengan sebuah instansi ini adalah Los Galacticos-nya Walikota Cup tahun ini.

Terang saja, nama-nama seperti Zuhrizal A. Gamal, Ardi Idrus, Halil, dan juga Haris Dzeki, adalah sosok yang sudah tenar di pentas lokal ataupun nasional. Belum lagi pada pertandingan awal Rimbawan pernah menggunakan jasa Bayu Pradana, mantan bek handal Mitra Kukar.

Selain itu, ada pula Tanah Tinggi FC, tim yang juga punya materi tak kalah top. Di lini depan mereka ada nama tenar seperti Andre Abubakar. Sedangkan di tengah ada Zamroni, juga di benteng pertahanan ada Sutrisno.

Adapula Ridho Pratama, sang juara bertahan di Turnamen Gurabati Cup lalu. Ada juga Laskar Juanga (Poram Mareku) yang sayangnya memilih undur diri dari Walikota Cup menyusul sanksi yang diberikan panitia terhadap supporter mereka.

Tak ayal, di hadapan tim-tim di atas, RR9 bukanlah unggulan. Tapi juga bukan tim yang patut diremehkan. Dan ini sudah terbukti. Tim asuhan Rahmat Rivai ini terbukti ampuh ketika mampu mengalahkan Rimbawan.

Ada semacam nilai lebih yang menyelimuti tim-tim kuda hitam. Bagi tim kuda hitam, target juara adalah urusan belakang, yang terpenting adalah bagaimana bermain dengan baik pada setiap pertandingan. Dan inilah yang diterapkan oleh RR9. Tim yang diisi pemain tenar akan selalu dipasangi target juara, yang mana alih-alih memotivasi namun justru membebani. Akan tetapi tidak bagi tim kuda hitam.

Bermain tanpa beban inilah yang menjadi factor lebih. Konsistensi RR9 yang focus di tiap pertandingan membuahkan hasil: tak terkalahkan di tiap laga, dari fase grup hingga final.

Buah kemenangan menjadi manis terlebih karena proses rekrut RR9 yang boleh dibilang berbasis kekeluargaan. “Mayoritas pemain yang ada di RR9 ini kita ambil dari orang-orang yang kita kenal. Jadi bukan seperti tim lain (yang ada sistem gaji per pertandingan). Pemain kami tidak digaji,” ujar Cacil, asisten pelatih RR9.

Hal serupa juga diungkap oleh Rahmat Rivai, “Dulu waktu tarkam-tarkam di Halmahera, saya sering liat pemain bagus, saat itu saya langsung ajak bicara. Ajak dorang [ mereka] ke Ternate ikut saya pe latihan. Jadi mereka kumpul di saya pe rumah, nginap dan dan sebagainya,” Ungkap legenda Persiter ini. Tim yang ia bentuk pada 2016 ini menjunjung tinggi jiwa kekeluargaan. Poci juga mendedikasikan tim ini untuk wadah berproses bagi talenta-talenta muda. Bahkan untuk urusan bonus pemain juga diperhatikan olehnya. “Mainkan di setiap pertandingan. Bonus juara saya kasih ke dorang. Itu saya lakukan di setiap turnamen. Jadi mesti kerja keras dan disiplin (untuk juara),”jelas pelatih Persihaltim yang tengah berlaga di Soeratin Cup ini.

RR9, tim yang namanya diambil dari akronim Rahmat Rivai itu adalah bentuk lain dari The Black Stallion. Si Kuda Hitam asal Akehuda.

Penulis: Rizal Syam