14 Remaja di Ternate Tertangkap Pesta Lem di Lokasi Cagar Budaya
·waktu baca 2 menit

Satpol PP Kota Ternate, Maluku Utara, kembali mengamankan sejumlah remaja yang sedang asyik isap lem aibon di lokasi cagar budaya, yakni Benteng Oranje, pada Senin (29/11), sekitar pukul 10.54 WIT.
"Hari ini kami (Satpol-PP) kembali mengamankan 17 remaja di bawah umur yang sedang mengisap lem aibon dan obat batuk di area Benteng Oranje. Namun, saat mengamankan tiga orang berhasil kabur," kata Kasatpol-PP Kota Ternate, Fhandi Mahmud, Senin (29/11).
Ia bilang, dari 14 remaja ini sebagian dikenal sebagai orang lama yang pernah tertangkap. Mereka di antaranya berinisila NT (16), MNPS (19), HK (17), RN (17), DR (17), JR (18), RA (18), CAM (16), LO (14), MCS (21), NL (20), TI (18), SA (16), dan RR (17).
"Para remaja ini jika ditanyakan sudah berapa lama aktivitas di Benteng Oranje, ya jawaban saya itu mereka (remaja) ini sudah jadikan sebagai tempat mangkal. Karena Benteng Oranje ini sangat strategis bagi meraka untuk berkumpul," ujar Fhandi.
Ia mengatakan, para remaja ini usai diamankan, langsung diserahkan ke pihak BNNP Maluku Utara. Namun, ia berharap ke pihak BNNP, jangan dulu dilepaskan, sebelum orang tua mereka datang langsung ke kantor.
"Kami dalam hal ini sebagai panjang tangan Pemkot Ternate terus menjaga masa depan generasi Kota Ternate dan pemerintah akan terus mengawasi aktivitas anak-anak yang terindikasi menyimpang atau isap lem," ungkapnya.
Sementara itu, anggota SIL BNNP Maluku Utara, Widyawati, mengaku pihaknya akan segera menghubungi para orang tua dari 14 remaja ini.
"Jadi proses lanjut itu anak-anak ini akan dilakukan tes urine dan pemeriksaan dokter, selanjutnya diikuti dengan tes ketergantungan dari rendah, sedang, dan tinggi. Namun hasil data kami, anak-anak sudah ketergantungan dengan lem aibon, karena sudah berulang-ulang kali lakukan," jelasnya.
Ia menjelaskan, meski masih di bawah umur, tapi ada sebagian besar yang sudah berumah tangga.
"Jadi yang mengaku sudah berkeluarga kita akan intervensi lebih lanjut dengan cara asesmen. Sehingga masalah yang ada dalam diri anak-anak ini akan bisa kita ketahui. Selain itu, kami akan hubungi kepala sekolah untuk menyikapi persoalan ini secara bersama-sama," pungkasnya. (SAR)
