Kumparan Logo
Konten Media Partner

Balai Wilayah Sungai Maluku Utara Tinjau Lokasi Banjir di Halmahera Utara

Cermatverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tim Balai WIlayah Sungai Maluku Utara saat tinjau lokasi banjir di Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. Foto: BWS Malut untuk cermat
zoom-in-whitePerbesar
Tim Balai WIlayah Sungai Maluku Utara saat tinjau lokasi banjir di Galela, Halmahera Utara, Maluku Utara. Foto: BWS Malut untuk cermat

Banjir yang menerjang Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara pada 16 Januari 2021 kemarin, membuat ratusan warga di beberapa desa mengungsi. Bahkan, jembatan penghubung antar dua kecamatan pun amblas dihantam banjir.

Kondisi tersebut pun direspons cepat oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara (Malut), yang langsung meninjau lokasi pada Minggu (17/01/2021).

Kepala BWS Maluku Utara (Malut) Bebi Hendrawibawa turun bersasama tim ke lokasi banjir, tepatnya di Desa Ngidiho, Kecamatan Galela Barat.

Bebi didampingi Kepala Seksi OP, Kepala Seksi Pelaksana, PPK OP SDA I, PPK OP SDA II, PPK Sungai Pantai I dan PPK Sungai Pantai II. Mereka berangkat dari pelabuhan Resident Ternate menggunakan satu unit Speed Boat PUPR 4 menuju pelabuhan Sofifi selanjutnya menuju lokasi bencana di Galela barat menggunakan jalur darat.

Tim BWS Malut tiba di Desa Ngidiho, Kecamatan Galela Barat, pada Minggu siang tepatnya pukul 11.00 WIT. Saat berada di lokasi, Kepala BWS dan tim langsung melakukan pendataan terhadap fasilitas umum yang rusak.

Berdasarkan data yang diperoleh tim di lokasi kejadian, curah hujan dengan intensitas mencapai 299 mili meter per hari sejak Jumat (15/01/2021), sekira pukul 18.00 WIT sampai dengan Sabtu, (16/01/2021). Akibatnya, Sungai Tiabo (DAS Tohaki) meluap dan menerjang pemukiman warga. bahkan 1 unit Oprit Jembatan yang menghubungkan Kecamatan Galela Barat dan Loloda rusak berat. Hal itu membuat akses di dua kecamatan tersebut putus total.

Akibat kejadian tersebut, warga di kecamatan Galela Utara, Loloda Utara, dan Loloda Kepulauan belum dapat terhubung dengan Kota Tobelo melalui jalur darat, begitu juga sebaliknya.

“Jadi, sebelumnya kejadian yang sama juga terjadi pada tahun 1933, 1936 dan 1954. Dan setiap Banjir, pemukiman Desa dipindahkan, jadi sudah tercatat dua kali Desa Ngidiho dipindahkan,” ungkap Kepala Desa Ngidiho Kamal Abdullah kepada Tim Humas BWS Malut, yang diterima cermat pada Selasa (19/01/2021).

Kepala BWS Malut Bebi Hendrawibawa mengatakan, pihaknya bersama BPJN, BPBD Halut, Pemprov Malut dan Bupati Halmahera Utara (Halut) telah melakukan koordinasi di lapangan dan telah menemui titik kesepakatan untuk penanganan jembatan yang rusak.

“Karena jalannya masuk jalan provinsi jadi akan diprogramkan untuk pembangunan jembatan Beli oleh Pemprov Malut dan akan dibantu satu unit jembatan Belinya juga oleh BPJN, tapi untuk sementara waktu aksenya pakai rakit dulu,” kata Kepala BWS Malut.

Sementara, pihak BWS, lanjut Bebi Hendrawibawa, akan mengkaji pembangunan tanggul, ”Sementara kita lagi kaji dan persiapan desainnya,” ujarnya.

Akibat bencana banjir yang melanda Halut juga mengakibatkan rumah warga di 4 kecamatan terendam banjir:

  • Kecamatan Galela Selatan: tepatnya di Desa Igobula (61KK, 285 jiwa terdampak), Desa Soakonora (2 KK 11 jiwa terdampak).

  • Galela Barat: terdapat di Desa Ruko (313 KK, 1.016 jiwa terdampak), Desa Dokulamo (4 KK, 15 jiwa terdampak), Desa Ngidiho lokasi perusahaan pisang/ pabrik tapioka.

  • Kecamatan Kao Barat: terdapat di Desa Pitago (45 KK, 153 jiwa terdampak), Desa Bailengit (67 KK, 294 jiwa terdampak), Desa Soamaetek (30 KK, 120 jiwa terdampak), Desa Parseba (115 KK, 378 jiwa terdampak), Desa Tuguis (136 KK, 499 jiwa terdampak), Dusun Mekar sari (35 KK, 85 jiwa terdampak).

  • Kecamatan Loloda Utara: terdiri dari Desa Ngajam (1 KK, 5 jiwa terdampak).

Selain merendam rumah warga, banjir juga mengakibatkan 3 rumah warga terbawa arus air dan dua rumah rusak berat.