Kumparan Logo
Konten Media Partner

Berburu Senja di Kampung Tua Ternate

Cermatverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tampak seorang nelayan melaut, tepat di sisi barat,  matahari pulang di kaki langit. Foto: Faris Bobero/cermat
zoom-in-whitePerbesar
Tampak seorang nelayan melaut, tepat di sisi barat, matahari pulang di kaki langit. Foto: Faris Bobero/cermat

Beberapa pasangan duduk di pinggir pantai. Menunggu matahari pulang. Tampak seorang pria muda memotret kekasihnya yang sedang duduk di ayunan. Posisi ayunan itu memang tepat di atas pasir. Orang-orang mengantre. Menunggu giliran berfoto di atas ayunan itu.

Cermat pada Sabtu (23/2) mendatangi pesisir pantai Kelurahan Kastela, Ternate Pulau, Kota Ternate. Saat tiba, orang-orang sudah ramai. Berdiri di bibir pantai, menikmati langit senja. Sore itu, cuaca cukup mendukung.

Lokasi wisata ini sangat sederhana. Fasilitasnya pun masih terbatas. Hanya sekitar tiga bangunan kecil yang dibangun. Ada juga beberapa tempat duduk yang berderet di tepi pantai. Menjelang magrib, orang-orang mulai berdiri. Mereka nyaris kompak mengarahkan mata kamera ke kaki langit.

Langit tampak kuning kemerah-merahan. Ada yang memilih menikmati makanan lokal. Ada yang memilih duduk-duduk saja sambil melabuhkan pandangannya ke arah senja. Beberapa orang mengantre, menunggu untuk bisa berfoto di atas ayunan.

Sebuah ayunan di tepi pantai Kastela. Berlatar senja. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Menariknya, posisi lokasi wisata ini berada tepat di tempat yang paling bersejarah. Terdapat sebuah bangunan benteng peninggalan kolonial. Warga setempat menyebutnya Benteng Kastela atau Gam Lamo. Gam Lamo sendiri berasal dari bahasa Ternate. Gam yang berarti kampung dan Lamo yang berarti besar.

Kastela, memang salah satu wilayah atau kampung besar dan tua di Ternate. Dalam catatan sejarah pada 1522, bangsa Portugis sudah mulai membangun benteng di wilayah ini. Orang Portugis bernama Antonio de Brito, sosok Gubernur Portugis di Ternate yang mendahului pembangunan benteng.

Pembangunan itu sempat terhenti, kemudian pada 1525 di tangan Garcia Henriquez, pembangunan benteng berlanjut. Cukup terbilang lama proses pengerjaannya. Memakan waktu 20 tahun. Baru pada kepemimpinan Jorge de Castro, benteng ini rampung dan diberi nama Nostra Senora del Rosario.

Nostra Senora del Rosario memiliki arti Gadis Cantik Berkalung Mawar. Penamaan ini karena konon di benteng tersebut bermukim seorang gadis cantik yang senang mengenakan kalung bunga. Kendati terdengar indah nama tersebut, namun peristiwa pahit pernah terjadi di benteng ini.

Gerbang Benteng Kastela, yang berdekatan dengan Lokasi Wisata Pantai. Foto: Faris Bobero/cermat

Benteng ini menjadi saksi pembunuhan terhadap sultan Ternate. Sultan Khairun dibunuh oleh Antonio Pimental melalui perintah Gubernur Portugis ke-18 di Ternate, Diego Lopez de Mesquita. Mulanya, sang sultan diundang ke benteng untuk membicarakan perihal kerja sama. Pembunuhan itu terjadi setelah pembicaraan itu tak menemukan titik kesepakatan.

Pembunuhan itu mengundang kemarahan rakyat Ternate. Babullah, anak dari Sultan Khairun, yang kemudian setelah peristiwa itu diangkat menggantikan ayahnya marah besar. Ia memimpin rakyat Ternate melakukan penyerangan. Mengepung benteng.

Dalam beberapa catatan, selama lima tahun, sang sultan menahan stok makanan serta kebutuhan lainnya yang dipasok ke benteng. Orang-orang Portugis benar-benar menderita. Tak tahan dengan embargo itu, Portugis akhirnya angkat kaki. Meninggalkan Ternate.

Hingga saat ini, konon benteng Portugis yang paling terbesar di Asia Tenggara ini, hanya tersisa reruntuhan, dan beberapa bagian yang sudah direnovasi oleh pemerintah setempat sudah dikepung pemukiman warga.

Benteng ini berada tepat di tepi jalan utama. Lokasi bersejarah itu juga dibangun tugu cengkeh dan diorama pembunuhan Sultan Khairun. Bangunan yang dibuat pada 2001-2002 itu adalah simbol tentang tanaman cengkeh sebagai tanaman yang paling diincar bangsa kolonial saat itu.

Bagi pengunjung wisata, untuk berkunjung ke Kastela tentu tidak repot. Bagi yang sedang berada di Ternate, cukup menggunakan kendaraan darat. Apabila dari pusat kota, hanya memakan waktu setengah jam saja. Karcis masuk ke area pantai untuk kendaraan roda dua Rp 5.000, sementara bagi yang menggunakan kendaraan roda empat atau mobil cukup membayar Rp 10.000.

Sepasang kekasih berdua di ayunan, menanti senja di Kastela. Foto: Rajif Duchlun/cermat

Irwan (23), salah satu pengunjung yang ditemui Cermat di lokasi wisata, mengaku sudah beberapa kali ke Pantai Kastela. Bersama kekasihnya, ia sering menghabiskan waktu sorenya di lokasi tersebut. “Makan pisang goreng dan menikmati senja sampai gelap itu paling romantis,” ujar Irwan.

---

Rajif Duchlun