Cerita Ikan Mati di Danau Ngade

Tak hanya pantai, sebagai kota yang dikelilingi lautan, Kota Ternate juga memiliki danau yang patut dikunjungi. Adalah danau Ngade, salah-satu danau yang berada tak jauh dari bibir pantai. Jarak danau dengan pantai kurang dari 1 kilometer.
Danau ini memiliki luas kurang lebih 8 hektare dan terletak di Kelurahan Fitu, Ternate Selatan. Berbentuk seperti sebuah mangkuk raksasa di kaki gunung Gamalama, sisi danau Ngade didominasi oleh bukit-bukit yang menjulang tinggi. Tampak beberapa tambak terapung di sisi danau tersebut.
“Sekarang tinggal tiga pengusaha karamba di sini,” Kata Limin Pinontoan (57), pengusaha Tambak pertama di danau Ngade, Rabu (27/2).
Saat ditemui Cermat, pria keturuan Tionghoa ini tengah asik bercengkrama dengan anak-cucunya di bawah pohon pala (Myristica fragrans) yang berada tepat di belakang tambaknya. Sosoknya tenang, cara berbicaranya cenderung lambat.
Ia bercerita tentang usaha tambak yang sudah ia jalani belasan tahun sejak tahun 2002. Waktu itu, utusan dari Dinas Perikanan kota Ternate bertemu dengannya dan menawarkan bantuan fasilitas bagi mereka yang hendak memulai usaha tambak tersebut. “Saya setuju. Lalu mereka datangkan drum, kayu, ikan, dan juga makanan ikan,” katanya.
Ia lantas membentuk sebuah Kelompok Usaha Bersama, di mana kelompok tersebut memiliki anggota 10 orang yang tak lain adalah keluarganya sendiri. Ikan yang dibudidayakan mayoritas adalah ikan nila, ikan mujair, dan beberapa ekor ikan gurami. Untuk ikan nila, ia bisa menjual seharga Rp 50 ribu per kilogram. “Gurami lebih mahal lagi,” beber Limin.
Limin bilang, awalnya ia hanya ingin coba-coba dengan usaha ini, namun seiring berjalannya waktu ia merasa cocok dengan bidang usaha tersebut. Ia juga bercerita, menjalani usaha tambak ikan air tawar memang bukanlah perkara mudah, ada banyak rintangan yang mesti dihadapi.
“Saya sudah terlanjur, jadi kalau mau mundur sudah tak bisa,” kata Limin sembari menghirup rokok di sela jarinya.
Menurutnya, pengetahuan budidaya ikan air tawar ini ia dapatkan dari hasil pelatihan yang diselenggarakan pemerintah. Namun belakangan ini, kata Limin anaknya lah yang sering berangkat ikut pelatihan di Manado. “Sekitar delapan tahun lalu," tutur Limin.
Kata Limin dia tak hanya membuat tambak, tapi juga lengkap dengan rumah makan. Jadi para pengunjung bisa langsung menyantap ikan segar yang baru ditangkap.
Membangun usaha ikan air tawar di Ternate memang susah-susah-gampang. Masyarakat di kota ini identik dengan konsumsi ikan air asin, sehingga popularitas ikan air tawar tak terlalu baik. Dulu, menurut Limin, mantan Wali Kota Ternate, Syamsir Andili, pernah melakukan sosialisasi sekaligus promosi lokasi wisata alam dan ikan air tawar yang ada di tambak tersebut. Wali kota dua periode itu membuat acara dan mengajak segenap instansi untuk meramaikan lokasi danau Ngade.
Katanya, sewaktu diresmikan lokasi tambak selalu ramai. Ada pelbagai fasilitas yang tersedia. “Ada karaoke juga. Waktu itu mobil bisa masuk,” jelasnya. Bagi Limin, akses mobil yang tak lagi bisa masuk hingga ke dalam lingkungan danau ini jadi salah-satu faktor berkurangnya para pengunjung.
Selain Limin, ada pula beberapa orang yang mencoba peruntungan dengan mengikuti jejaknya, namun kandas di tengah jalan lantaran tak memiliki pengetahuan tentang budidaya ikan air tawar. Dari pengalamannya sendiri, ia beberapa kali mesti menanggung rugi karena banyak ikan miliknya mati.
Empat tahun lalu adalah waktu paling sulit baginya. Saat itu hujan turun sangat lebat, alhasil air danau berubah kecokelatan karena sudah tercampur dengan kotoran. Banyak ikan miliknya mati sebelum panen. Ia mengaku rugi hingga ratusan juta ketika itu.
Waktu itu ia bersama dengan karyawannya mesti mengubur bangkai ikan di belakang tambak. Saking banyaknya ikan yang mati sampai-sampai lokasi untuk mengubur pun tak cukup. Ia kemudian mesti membuangnya ke pantai.
“Anak buah saya bilang: Bos ini tempat mayat (ikan) sudah tra (tidak) ada lagi,” kata Limin menirukan ucapan anak buahnya waktu itu, sambil tertawa.
Terakhir di awal Januari lalu, kala musim penghujan kembali mengguyur Ternate, ikan-ikan miliknya juga banyak yang mati. Ada beberapa faktor yang menyebabkan matinya ikan-ikan di danau Ngade. Menurutnya, karena ikan di tambak kekurangan oksigen dan meningkatnya kadar asam. Namun faktor tersebut semuanya bermuara pada sampah-sampah yang dibawa oleh hujan melalui selokan yang mengalir masuk ke Danau Ngade.
Saluran pembuangan itu berada di sisi sebelah utara danau. Sampah-sampah yang berada di sekitar permukiman masuk ke selokan dan berakhir di danau tersebut.
Melihat itu, Limin tak lantas berdiam diri. Menyikapi persoalan drainase yang mengarah ke danau tersebut, ia mengajak anak buahnya untuk melakukan pembersihan di lingkungan danau. Namun hal itu memang tak efektif menurutnya.
Ia pun membawa permasalahan itu ke DPRD Kota Ternate. “Waktu itu sudah saya sampaikan, bertemu juga dengan Dinas PUPR, mereka janji bakal memindahkan aliran pembuangan tersebut,” katanya.
“Tapi sampai detik ini, janji tersebut hanya berupa wacana tanpa bukti. Tak dikerjakan sampai sekarang," lanjut Limin.
Limin mengaku tak bisa tidur ketika hujan sudah mengguyur Ternate lantaran harus memindahkan ikan ke tempat yang lebih aman. Sehabis hujan ia mesti membersihkan jaring tambak yang penuh dengan kotoran.
Persoalan sampah ini berdampak juga pada kualitas tambak ikan. “Ikan di sini tak bisa di kirim ke luar daerah, karena ukurannya tak cukup besar. Ya itu salah satunya gara-gara banyak yang mati,” jelasnya.
Limin juga bercerita, melihat kondisi seperti itu tak banyak orang-orang terdekatnya menyarankan agar berhenti saja dari usaha tersebut, namun ia tetap bergeming. Limin tetap yakin dengan apa yang ia kerjakan.
Dari segi pemandangan, danau Ngade seharusnya bisa menjadi destinasi wisata yang apik bagi wisatawan. Dengan latar belakang gunung Gamalama yang menjulang tentu pas dijadikan lokasi untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Akan tetapi, lingkungan danau ini cukup memprihatinkan. Akses jalan setapak yang dulunya dibangun sekarang sudah tampak tak terawat.
Namun yang paling utama tentu saja adalah soal sampah. Apalagi Danau Ngade ini dijadikan sebagai sumber air bersih bagi masyarakat di Ternate Selatan.
Rumah makan yang berada di Danau Ngade juga seharusnya direnovasi agar tampak lebih menarik bagi wisatawan. Sekarang, lokasi wisata dan tempat tambak ikan tidak begitu ramai dikunjungi. Hanya akhir pekan adalah waktu paling ramai kunjungan ke rumah makan tambaknya. Saat itu ia bisa menjual 20-30 kilogram ikan per harinya. “Kadang dua hari tak ada pemasukan,” tuturnya.
Kata Limin, bantuan sering datang dari pemerintah pusat untuk pengusaha budidaya ikan air tawar. Itu ia ketahui ketika rombongan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan mampir ke rumah makannya.
“Mereka kenal saya waktu melihat papan nama yang terpasang di tambak. Kata mereka nama saya sering muncul dalam permohonan bantuan. Tapi nyatanya bantuan tersebut tidak sampai ke tangan Limin. Bantuan dari pemerintah itu hanya dua kali, itupun hanya pas awal-awal buka,” katanya.
---
Rizal Syam
