Cerita Pemuda Kalaodi Membumikan Literasi di Era Digital

Konten Media Partner
12 Mei 2022 19:57
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Cerita Pemuda Kalaodi Membumikan Literasi di Era Digital (20311)
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas anak-anak Kalaodi, Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan, di Fola atau Rumah Literasi Kalaodi. Foto: Mansyur Armain/Folila
ADVERTISEMENT
Udara dingin menusuk tubuh, ketika menyusuri jalanan menanjak menuju Kampung Kalaodi, Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara.
ADVERTISEMENT
Siang itu, Minggu, awal Maret, hujan baru saja reda. Ditemani Mansyur Armain, salah satu relawan komunitas literasi Folila, cermat bergegas ke Kalaodi.
Menempuh perjalanan sekitar 20 menit bermotor melewati sejumlah kelokan dari Kelurahan Ome, Tidore Utara, hingga mencapai Kalaodi, membuat jantung berdegup.
Tapi rasa waswas dan lelah hilang seketika kala berada di titik kampung dengan ketinggian ± 900 mdpl tersebut.
Di Kalaodi, ada sebuah komunitas literasi, yang menjadi tujuan cermat berkunjung.
Namanya Folila, singkatan dari Fola Literasi Kalaodi. Letaknya di Dusun Dola.
"Fola dalam bahasa Tidore itu rumah," kata Chulen, sapaan akrab Mansyur Armain.
Cerita Pemuda Kalaodi Membumikan Literasi di Era Digital (20312)
zoom-in-whitePerbesar
Fola atau Rumah Literasi Kalaodi sebelum direhabilitas. Foto: Masnsyur Armain/Folila
Menurut pria berusia 31 tahun itu, pengagas Folila adalah Mansyur Djamal, Astrid Hasan, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Folila.
ADVERTISEMENT
Kemudian Sudarwin, suami dari Astrid Hasan, lalu Bambang Cahyadi dan Nasruddin Amin yang berlatar belakang jurnalis.
Chulen yang juga jurnalis dan penulis buku kumpulan puisi ini, mulai bergabung bersama Folila pada Maret 2015.
"Waktu itu, rumah Hamzah Falilat menjadi basis kami dalam upaya membangun Folila," ucap pria berambut gondrong itu.
Sebab, kala itu, literasi masih dianggap asing di Kalaodi. "Tapi setelah sosialisasi, mereka mendukung. Bahkan ikut menyiapkan lahan," katanya.
Awalnya, kata Chulen, rumah Folila dibangun dengan bahan seadanya. Seperti dinding dari bambu beratap daun woka (Livistona altissima), tumbuhan keluarga palem-paleman.
Namun pada 2019, rumah Folila ambruk diterpa angin kencang. Dari situ, pemuda Kalaodi pun berinisiatif menggalang dana.
"Saat itu, sejumlah kalangan ikut membantu. Termasuk pihak balai dari Kementerian PUPR," katanya.
ADVERTISEMENT
Kini, bangunan dua lantai sepanjang 6 meter dan lebar 4 meter itu berdiri megah. "Saat ini secara fisik sudah 99 persen," tandasnya.
Ketua Komunitas Folila, Hamzah Falilat berujar, inisiatif membangun Folila tak lepas dari dinamika generasi muda Kalaodi hari ini.
"Di sini anak-anak kan banyak. Setiap mereka pulang sekolah kan langsung bermain," ucap Hamzah kepada cermat.
Melawan Arus Digital
Bagi pria berusia 30 tahun ini, upaya membumikan dunia literasi di Kampung Kalaodi punya tantangan tersendiri.
Sejak didirikan pada 17 April 2017 hingga 2022 ini, melawan arus digital adalah sesuatu yang tak mudah.
Maka tujuan membangun Fola Literasi Kalaodi (Folila), untuk meminimalisir dampak negatif digitalisasi.
Cerita Pemuda Kalaodi Membumikan Literasi di Era Digital (20313)
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas di Fola atau Rumah Literasi Kalaodi. Foto: Mansyur Armain/Folila
Karena jaringan internet telah menjangkau Kalaodi. Bahkan beberapa rumah sudah dilengkapi WIFI. "Ini yang paling berat bagi kami," tandasnya.
ADVERTISEMENT
Dalam menunjang aktivitas literasi, kata Hamzah, Folila didukung 1.000 buku hasil penggalangan dan sumbangsih dari sejumlah pihak.
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
"Seperti dari Gramedia di Ternate itu dua kardus buku. Bahkan Mbak Najwa Shihab juga sempat kirim kami buku," katanya.
Dalam tiga kali sepekan, dimulai pukul 15.00 WIT hingga 17.00 WIT, anak-anak diajarkan membaca, menulis puisi, cerpen, dan membuat catatan harian.
"Alhamdulillah, dari situ mereka sudah terbitkan dua buku berupa kumpulan puisi. Kalau tidak salah sekitar 2018-2019," ucapnya.
Ini tak lepas dari peran relawan hingga lembaga non-pemerintah, seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Maluku Utara dan Paka Tiva.
"Kalaodi sendiri, dijadikan sebagai sampel atau kampung binaan Walhi sejak 2012. Mereka sangat support kami," katanya.
ADVERTISEMENT
Pada 2020 hingga 2021, aktivitas literasi Folila sempat terhenti akibat COVID-19.
Cerita Pemuda Kalaodi Membumikan Literasi di Era Digital (20314)
zoom-in-whitePerbesar
Aktivitas anak-anak Kalaodi, Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan, di Fola atau Rumah Literasi Kalaodi. Foto: Mansyur Armain/Folila
"Dilarang berkerumun kan. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah jalan lagi," katanya.
Bagi Hamzah, untuk mengubah paradigma generasi muda dibutuhkan peran aktif orang tua.
"Kitorang (kami) ajak anak-anak belajar ini, butuh kesabaran ekstra. Karena ya itu tadi, pengaruh digital," ucapnya.
Meski begitu, sambung Hamzah, masih ada yang punya keinginan tinggi untuk belajar. "Terutama anak-anak SD," pungkasnya.
Geliat literasi berbasis komunitas ini, pun mendapat respon positif dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tidore Kepulauan.
Pentingnya Komunitas Literasi
Kepala Disdik Kota Tidore Kepulauan, Zainuddin Umasangadji mengaku cukup terbantu dengan komunitas literasi tersebut.
Karena selain memperoleh pendidikan formal, anak-anak juga mendapatkan pengetahuan tambahan. "Jadi sifatnya penyetaraan," ucap Zainuddin kepada cermat.
ADVERTISEMENT
Ia berharap, kehadiran komunitas literasi seperti Folila, dapat ikut membantu melayani masyarakat, terutama dari aspek pendidikan.
Karena selain memotivasi anak-anak, komunitas literasi tidak ada ketentuan dalam menyeleksi peserta secara khusus.
Cerita Pemuda Kalaodi Membumikan Literasi di Era Digital (20315)
zoom-in-whitePerbesar
Buku-buku bacaan yang tersedia di Fola Literasi Kalaodi. Foto: Mansyur Armain/cermat
"Artinya, siapa pun yang mau belajar bisa ikut bergabung. Dan bagi kami, itu sangat membantu," tuturnya.
Dukungan yang sama datang dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tidore Kepulauan, Ade Rakib.
Ade mangaku sangat setuju dengan kehadiran komunitas literasi tersebut. "Komunitas literasi ini sangat penting," tandasnya.
Karena itu adalah cara dalam meningkatkan minat baca generasi muda hari ini.
"Jadi bagi saya, komunitas literasi ini perlu ditingkatkan dan dibina," katanya.
Tapi bagi Ade, tinggi dan rendahnya minat baca anak-anak tergantung didikan orang tua. "Itu yang paling penting," tandasnya.
ADVERTISEMENT
...
Kamu juga bisa berpartisipasi dalam Program Satu Indonesia Award 2022 dengan mendaftar melalui link ini.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020